by

Zat Narkotika yang Terkandung Dalam Tubuh Pasien Penderita Meningitis

-Artikel-17 views

Meningitis merupakan penyakit yang terjadi akibat adanya infeksi meninges atau yang dikenal dengan selaput yang melindungi sistem syaraf pusat pada tubuh manusia. Infeksi tersebut bisa terjadi karena adanya peradangan yang disebabkan karena virus maupun bakteri pada selaput meninges tersebut. Dari keterangan tersebut nampak jelas bahwa penyakit meningitis merupakan salah satu penyakit yang berbahaya dan menakutkan. Penyakit meningitis diketahui mampu membuat bagian syaraf manusia, sumsum tulang belakang dan otak menjadi rusak. Penyakit meningitis dapat menyerang kelompok umur manapun.

Beberapa orang yang rentan terkena penyakit meningitis selain dilihat melalui kelompok umur juga bisa disebabkan oleh hal berikut :

⦁ Seseorang yang memiliki pleuroperitoneal CSF dalam otak/patologi lain.
⦁ Seseorang yang jalani anestesi tulang belakang
⦁ Seseorang dengan cacat dural
⦁ Penderita penyakit diabetes
⦁ Seseorang yang terinfeksi bakteri Endokarditis
⦁ Pecandu alkohol dan narkotika jenis suntik

Penyebab penyakit meningitis sebenarnya bukan merupakan jenis virus yang begitu berbahaya, namun jika telah parah dapat mengakibatkan gangguan kesehatan yang serius seperti kerusakan otak, kurangnya daya ingat, kurangnya kemampuan pendengaran dan bahkan menyebabkan kematian. Virus penyebab penyakit meningitis pada awalnya menginfeksi bagian tubuh penderita dan mengalir masuk ke dalam sel-sel syaraf pusat yaitu otak manusia. Penyebab utama penyakit meningitis pada dasarnya adalah virus yang dapat menyerang manusia dalam kondisi kekebalan tubuh seperti apapun.

Beberapa gejala penyakit meningitis yang biasanya muncul pada penderita, gejala tersebut antara lain :

⦁ Demam (sekitar 39º C)
⦁ Lesu, lemah dan rewel
⦁ Sakit kepala dan mata sensitif terhadap cahaya
⦁ Kaku kuduk, kadang-kadang ruam kulit dan kulitnya berwarna kuning serta kejang
⦁ Tidak mau makan atau minum susu
⦁ Kedinginan
⦁ Menangis menjerit-jerit seperti kesakitan
⦁ Ubun-ubun bayi yang masih terbuka mungkin tampak menonjol dan keras
⦁ Pada bayi yang masih kecil, gejala-gejala klasik bisa terlihat malas menyusu, serta tampak lesu dan lemah sekali
⦁ Otot leher kaku
⦁ Ketakutan pada cahaya terang
⦁ Ketakutan pada suara keras (phonophobia)
⦁ Sering ingin muntah
⦁ Nampak seperti kebingungan
⦁ Susah bangun dari tidurnya

Dengan jaringan otak membengkak, tekanan di dalam tengkorak akan meningkat dan otak yang membengkak dapat mengalami herniasi melalui dasar tengkorak. Hal ini terlihat dari menurunnya kesadaran, hilangnya refleks pupil terhadap cahaya dan postur tubuh abnormal. Terjadinya ini pada jaringan otak juga dapat menyumbat aliran normal LCS di otak (hidrosefalus). Kejang dapat terjadi karena berbagai penyebab, kejang biasanya terjadi pada tahap awal meningitis dan tidak selalu menunjukkan adanya penyakit yang mendasari. Kejang disebabkan oleh peningkatan tekanan dan luasan daerah radang di otak. Kejang parsial, kejang terus menerus, kejang pada orang dewasa dan yang sulit terkontrol dengan pemberian obat menunjukkan luaran jangka panjang yang lebih buruk.

Radang meningen dapat menyebabkan abnormallitas pada saraf kranial, kelompok saraf yang berasal dari batang otak yang mensuplai kepala dan leher dan mengontrol dari berbagai fungsi diantaranya, gerakan mata, otot wajah dan fungsi pendengaran. Gangguan pengelihatan dan tuli dapat menetap setelah episode meningitis. Radang pada otak dan juga pembentukan bekuan darah pada vena, dapat menyebabkan kelemahan, hilangnya sensasi atau gerakan dan fungsi berbagai bagian tubuh yang abnormal, yang disuplai oleh bagian otak.

Peradangan skala besar yang terjadi pada saat meningitis yang disebabkan oleh respon sistem kekebalan terhadap masuknya virus ke dalam sistem saraf pusat. Jika komponen membran sel dari bakteri dikenali oleh sel kekebalan otak, mereka akan berespon dengan melepaskan sejumlah besar sitokin, mediator serupa hormon yang merekrut sel kekebalan lain dan merangsang jaringan lain untuk berpartisipasi dalam respon kekebalan. Barier darah–otak menjadi lebih permeabel, sehingga terjadi pembengkakan otak akibat kebocoran cairan dari pembuluh darah. Sejumlah besar sel darah putih memasuki likuor serebrospinalis (LCS), menyebabkan radang pada meningen sehingga timbul pembengkakan akibat cairan antarsel. Selain itu, dinding pembuluh darah sendiri mengalami peradangan, yang menyebabkan menurunnya aliran darah dan meningkatnya tekanan intrakranial, bersama tekanan darah yang menjadi lebih rendah yang biasa dijumpai pada infeksi akut, ini berarti bahwa darah akan semakin sulit untuk memasuki otak, sebagai konsekuensinya sel-sel otak akan kekurangan oksigen dan mengalami kematian sel otomatis. Penyakit ini bisa menular lewat udara berupa virus dan bakteri maka ada baiknya kita menerapkan perilaku hidup sehat dengan contoh menutup mulut jika bersin ataupun batuk, cuci tangan dan imunisasi.

Obat-obatan yang sudah masuk dalam tubuh penderita Meningitis :

⦁ Asam barbiturat (pentobarbital dan secobarbitoral) yang biasa digunakan untuk menghilangkan rasa cemas pada pasien sebelum melakukan operasi yang bertujuan untuk mengurangi jumlah bius yang dibutuhkan pada bagian pertama operasi karena pada awalnya sudah diberikan obat penenang sebelum melakukan operasi
⦁ Thiopenol, sebagai anestesi
⦁ Amfetamin, merupakan zat stimulant yaitu menstimulasi atau merangsang sistem saraf
⦁ Kodein dan Morfin, untuk meringankan sakit kepala tetapi dan digunakan untuk bius saat operasi
⦁ Fenobarbatal, sebagai obat anti kejang pada penderita kerusakan otak
⦁ Nikotin, dapat merangsang sensor penerima rangsangan di otak
⦁ Steroid, pengurang peradangan
⦁ Rifampisin, antibiotik semi sintetis yang mempunyai efek basterisid terhadap mikrobakteri. Rifampisin menyebabkan warna urin, feses, air mata dan air ludah, keringat menjadi kemerah-merahan
Siprofloksasin adalah antibiotik untuk melawan bakteri dalam darah
Seftriakson merupakan antibiotik penghambat infeksi oleh bakteri dan meningkatkan kinerja memori dan syaraf
⦁ Benzil Penisilin merupakan antibiotik
Mannitol, berfungsi menurunkan tekanan intrakanial dengan obat-obatan
Antikonvulsi, berfungsi mengobati kejang
Sefalosporin, antibiotik yang menghambat sintesis dinding sel mikroba
⦁ Vankomisin, Kloramfenikol dan Ampisilin merupakan antibiotik yang menghambat sintesis bakteri
⦁ Cairan Botox, peremajaan jaringan syaraf

Salah satu tindakan medis untuk Meningitis adalah lumbal punksi dilakukan dengan anestesi lokal dan menusukkan jarum ke dalam sebuah kantung di sekeliling tulang belakang untuk mengumpulkan likuor serebrospinalis (LCS). Gambaran awal cairan itu bisa memberikan petunjuk tentang infeksi, LCS yang keruh menunjukkan peningkatan kadar protein, sel darah putih dan sel darah merah dan/atau bakteri dan oleh karena itu menunjukkan kemungkinan meningitis bakteri atapun virus.

Penulis sebagai bekas penderita Meningitis cukup mengetahui seluk beluk Meningitis. Sama seperti obat-obatan yang tertera diatas, penulis kala itu juga mengalami kelumpuhan sebagian, kehilangan daya ingat, gangguan pada panca indera dan sebagainya. Akan tetapi sekarang penulis sudah tidak lagi merasakan efek dari obat-obatan diatas dan dapat beraktifitas sama seperti orang-orang lain pada umumnya.

 

Oleh: Yudhi Widyo Armono, SE, SH, MH

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed