by

Umat Katolik Tidak Boleh Cuek

Wartaindo.news – Merespon Pemilu Presiden dan Legislatif 2019, rohaniwan katolik yang berdinas di Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Romo Antonius Benny Susetyo, Pr. mengatakan bahwa umat katolik tidak boleh cuek. “Sekarang kita menghadapi situasi yang dikenal dengan disonansi konektif, situasi yang tidak menyenangkan.

Dalam politik terjadi pembelahan, partai Allah dan partai setan. Sampai-sampai Allah digugat dalam suatu puisi, kalau sampai kalah maka tidak ada yang menyembah. Apa yang terjadi, politik itu tidak rasional, karena dalam politik ketika agama dimainkan, dimanipulasi, maka pembelahan semakin luka semakin dalam”. Maka berpolitik itu sebuah panggilan, menyitir Paus Fransiskus berpolitik untuk membersihkan ruang kotor. Maka panggilan awam itu menjadi garam dan terang dunia, awam berpartisipasi aktif untuk mengupayakan bonum comunio (kesejahteraan umum).

Romo Benny menyampaikan hal itu dalam pertemuan di Cilandak Jakarta Selatan yang digagas oleh Seksi Hubungan Antaragama dan Kemasyarakatan Gereja Katolik St. Stefanus bekerja sama dengan Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) , Pemuda Katolik (PK), dan Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI), hari Sabtu, 2 Maret 2019kemarin, mengambil tema Memilih Pemimpin dan Wakil Rakyat yang Bermartabat.Hadir pula Dr. Gun Gun Heryanto, M.Si., Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute, peneliti dan dosen UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta sebagai narasumber.

Bagaimana keluar dari situasi ketidaknyamanan itu ? Dalam situasi seperti ini ada tanggung jawab moral umat katolik untuk terlibat dalam urusan2 publik, tidak boleh libur, tidak berziarah dahulu.Gereja katolik dalam surat-surat gembalanya mengatakan Ayo Nyoblos. Umat jangan takut dan khawatir. Kalau umat cuek, diam dan berpikir bahwa politik bukan urusannya itu kebodohan besar, karena hidup kita ditentukan politik.

Kedaulatan sesungguhnya di tangan kita. Berthold Bercht, seseorang sastrawan, mengatakan itulah kebodohan terbesar ketika orang mengatakan politik itu kotor. Maka panggilan orang katolik yang kedua adalah perutusan. Diutus untuk apa, tidaklain untuk mewartakan kabar gembira. Bagaimana kabar gembira itu diwartakan, yaitu dengan mengatakan kepada semua orang yang kita jumpai bahwa carilah pemimpin yang baik, orang baik harus mencari pemimpin yang baik. Keterlibatan orang tua untuk membangunkan milenial yang apolitis datang ke TPS dan nyoblos sangat berarti.

Gereja katolik itu seperti dikatakan Monsinyur Sugiyopranoto, dalam perkara-perkara sekecil apapun Gereja hadir, terlibat di RT/RW, maka Gereja Katolik bagian dari bangsa dan negara ini. Urusan pembaptisan adalah urusan Roh Kudus, tapi menjadikan Indonesia yang lebih jujur, lebih adil, adalah kewajiban umat katolik. Menjadi katolik 100 % Indonesia tantangannya adalah menjaga Pancasila.Maka bicara kriteria seorang pemimpin, Gereja mengatakan carilah pemimpin yang memiliki kemampuan mengolah bangsa yang plural ini, rekam jejak kemanusiaan dan keluarganya baik, bukan hanya memberi janji tapi tidak punya bukti.

Memang tidak ada pemimpinyang 100% baik, yang sempurna itu mimpi dan utopia. Lantas apa yang dilakukan agar kita tidak salah memilih? Mau tidak mau Ayo Nyoblos, dan jangan menunda untuk nyoblos pada tanggal 17 April nanti.Mereka yang bertugas sebagai RT/RW atau menjadi Panwas, punya kewajiban untuk menjaga bagaimana pemilu yang bersih, yang jujur, yang adil, dengan ayo nyoblos. Gerakan Ayo Nyoblos menjadi penting,jangan cuek jika tidak mau menjadi korban. Pengaruhi orang lain untuk mencari orang baik. “Carilah orang baik maka kita diselamatkan. Tapi kalau anda menemukan orang jelek dan memilih orang jelek maka kiamat sudah dekat”, ujar Romo Benny.

Dalam pandangan Gun Gun Heryanto pemilu itu sirkulasi elit, sifatnya mutual interdependen, ada hubungan yang bukan hanya mereka yang berkonstetasi, tapi dampaknya juga pada masyarakat luas.Karena mutual interdependen, setiap pemilu bukan hanya menguntungkan buat pasangan yang dipilih, tapi logika dasarnya adalah apakah kita mau melakukan perubahan lewat pemilu itu atau tidak.

Seberapa penting pemilu untuk proses perbaikan republik ini, terutama dalam banyak hal fundamental seperti proses-proses ke depan yang harus diperkuat soal partisipasi yang rasional, terutama pilihan di TPS siapa pemimpin yang akan dipilih nanti, dampaknya lima tahun atau bisa juga dampaknya masif dan eksesif jika kita salah pilih.

Halaman Selanjutnya

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed