by

TUHAN, BERI AKU BAHU YANG KUAT

-Artikel-147 views

TUHAN, BERI AKU BAHU YANG KUAT, inilah doa baruku. Inilah doa favoritku sekarang. Doa ini sangat sering saya doakan. Setiap hari. Bahkan dalam sehari bisa saya doakan beberapa kali. Doa ini merupakan buah refleksi saya yang terinspirasi dari kutipan Injil Lukas yang berbunyi: ‘Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku’ (Lukas 9 : 23). Selain terinspirasi dari Lukas 9 : 23, doa ini juga merupakan buah refleksi atas perjalanan hidup saya yang panjang selama 70 tahun ini, baik waktu masih ikut orangtua sampai membangun keluarga sendiri alias berumah tangga hingga saat ini.

Mengapa Tuhan Yesus menyuruh kita memikul salib kita masing-masing? Apa maksudnya? Salib adalah lambang penderitaan atau lebih tepat lagi lambang penderitaan sebagai pengorbanan. Tidak ada orang menghendaki penderitaan. Namun, kenyataannya dalam hidup ini tidak ada orang yang luput dari penderitaan. Penderitaan ada sebagai bagian dari hidup kita dalam berbagai bentuk yang berbeda.

Mengenai salib saya, sewaktu masih bersama keluarga saya (orangtua) adalah dalam hal ekonomi alias keuangan. Kami hidup dalam kekurangan. Rumah tidak punya. Kami harus kontrak. Tiap habis kontraknya, harus mencari tempat tinggal baru dan butuh uang banyak. Kami belum tentu setiap hari bisa makan nasi tiga kali. Kadang bisa hanya dua kali atau bahkan sekali. Sekolah pun saya harus berjalan kaki cukup jauh terutama waktu SMP, dari Yogya barat utara sampai Yogya timur selatan dan tanpa sepatu hingga suatu hari kaki melepuh dan harus diinsisi alias operasi kecil. Belum lagi kalau haus atau lapar, tidak ada ‘sangu’. Paling minum air sumur di sekolah. Itu salib dalam hal keuangan.

Bagi saya sendiri secara pribadi, ada salib yang harus saya pikul sejak kecil hingga saat ini, yaitu: sakit. Dari sebelas bersaudara, saya adalah anak yang paling sering sakit. Ada saja. Pengalaman opname hingga saat ini tiga kali, dengan durasi mulai dari lima hari, sepuluh hari sampai yang paling lama empat puluh enam hari. Menjalani hidup seperti itu rasanya berat. Kadang terasa amat berat. Rasanya saya sudah tidak sanggup memikul salib saya setiap hari. Saya tidak mungkin menghindari salib. Itu perintah Tuhan yang harus dijalani. Syarat mutlak mengikuti Yesus. Karena tidak mungkin tidak dipikul, saya hanya mohon kekuatan saja agar saya mampu memikulnya. Maka muncullah doa saya: TUHAN, BERI AKU BAHU YANG KUAT.

Tentu tiap orang atau keluarga mempunyai salibnya sendiri-sendiri yang berbeda. Maka ada pepatah yang berkata: ‘Tiap rumah ada salibnya’ atau bahasa asingnya dalam bahasa Jerman Jedes Haus hat sein eigenes Kreuz’. Memang bisa jadi kalau kita melihat keluarga lain, kita akan berpikir alangkah beruntungnya keluarga itu, tidak menghadapi penderitaan. Saya mengalami sendiri tentang memandang orang lain yang sepertinya tidak mengalami penderitaan. Ternyata saya salah. Orang yang saya pandang tidak mengalami penderitaan itu, ternyata berbeban berat. Orang yang saya bicarakan ini, mempunyai tiga anak. Dua anak, yang kedua dan ketiga, keduanya cewek menyandang sakit semua. Yang besar, ada gangguan kejiwaan. Pernah suatu hari, saya main ke rumah orang ini. Saya dibuat kaget, ketika kami sedang mengobrol, anak cewek ini keluar dalam keadaan telanjang bulat membawa piring. Dia membawa piring karena mendengar suara teng… teng… teng alias penjual tahu kupat. Dia ingin membeli. Begitu melihat anak ceweknya bugil, si ibu segera menuntunnya masuk kamar. Cewek itu sudah remaja. Adiknya juga sakit-sakitan. Dia punya gangguan penyakit yang menahun. Kita sering keliru melihat orang! Keluarga lain seolah-olah tidak mengalami penderitaan. Seperti keluarga ini, dari luar tampilannya tenang dan sabar, ternyata berbeban berat.

Ini cerita lain yang mau mengatakan dan menunjukkan bahwa tiap keluarga ada salibnya. Ceritanya sebagai berikut. Ada sebuah keluarga, terdiri dari lima orang: bapak, ibu dan tiga anak. Bapak dan ibu mempunyai masalah sehubungan perilaku ketiga anaknya. Anak sulung yang seorang cowok, tentu diharapkan menjadi pamong dan memberi contoh hidup yang baik untuk adik-adiknya. Tetapi ada yang terjadi? Anak ini justru memberi contoh yang sangat tidak baik. Anak ini suka kumpul-kumpul dengan teman-temannya dan mempunyai kebiasaan tidak baik, yaitu minum-minum dalam pengertian negatif alias mabuk-mabukan. Perilakunya meresahkan orang lain. Kalau ada orang naik mobil yang berpapasan dengan dia, mobilnya bisa digedor-gedor. Perilakunya kadang sudah tidak terkontrol lagi. Dia kadang berjalan mondar mandir dalam keadaan bugil dan ‘maaf’ sering memamerkan alat kelaminnya. Kalau ada perempuan lewat, tidak peduli usianya, akan dia kejar.

Anak ceweknya, menambah berat penderitaan bapak dan ibu. Anak ini menyeberang keyakinan yang lain karena pacarnya beragama lain dan dia mengikuti keyakinan pacarnya.

Anak ketiga, yang seorang cowok, bekerja di negeri orang. Sejak bekerja di negeri orang, dia belum pernah pulang. Itu sudah bertahun-tahun. Bahkan pada saat ibunya meninggal pun, dia tidak pulang. Sekarang bapak ini tinggal sendirian. Sudah tidak ada orang lain. Isteri meninggal dan anak-anak sudah mandiri, membangun keluarganya sendiri.

Bapak ini sungguh menderita. Dia didera oleh kesepian yang hebat. Tidak ada orang yang bisa diajak bicara di rumah. Maka, dia banyak menemui teman-teman atau suka menelpon teman-temannya sebagai cara untuk mengatasi kesepiannya. Kalau kebetulan ada teman yang lewat di depan rumahnya, akan disetop dan diajak mengobrol. Ini bisa berlangsung lama. Bapak ini asyik bercerita dan memang bisa mengganggu orang yang disetop karena kalau sudah bicara susah dihentikan.

Situasi pandemi covid yang terjadi saat ini juga menyebabkan banyak penderitaan. Covid mempunyai dampak yang sangat luas bagi kehidupan manusia. Sektor ekonomi menjadi tak karuan. Banyak perusahaan harus mengurangi tenaga kerja bahkan gulung tikar. Penghasilan pekerja bisa berkurang akibat pengurangan jam kerja. Banyak orang terpapar covid. Ada yang bisa kembali sehat, namun tidak sedikit yang akhirnya meninggal. Kenyataan ini membuat orang cemas, khawatir, stres, depresi. Selain tiap orang sudah mempunyai salibnya sendiri, sekarang mendapat salib baru. Kita bisa jadi lelah fisik maupun psikis. Salib kita menjadi tambah berat. Lalu apa yang harus kita kerjakan, agar kita sanggup dan mampu memikul salib kita? Marilah mohon kekuatan dari Tuhan. TUHAN, BERI AKU BAHU YANG KUAT. AMIN.

 

Penulis: Ph. Ispriyanto.

News Feed