by

TUA, BUKAN BERARTI TERLAMBAT

-Artikel-210 views

Saya yakin banyak orang pernah mengalami terlambat untuk tidak mengatakan semuanya untuk mengikuti atau menghadiri suatu acara. Entah acara resepsi pernikahan, reuni, rapat dinas, perayaan ekaristi, perjalanan wisata, dll. Acara itu ada yang penting, ada yang tidak, ya sekedar kongkow-kongkow misalnya. Keterlambatan bisa terjadi dan penyebabnya bisa bermacam-macam. Bisa jadi karena salah perhitungan mengenai lamanya waktu perjalanan dari rumah ke tempat acara atau pertemuan. Misalnya saja perjalanan Solo-Yogya. Dulu pada waktu kendaraan seperti mobil belum banyak dan jalan masih belum padat merayap seperti sekarang ini, Solo-Yogya bisa ditempuh rata-rata 1 jam. Sekarang pada umumnya sekitar 2 jam. Faktor lain penyebab keterlambatan adalah karena pola kepribadian. Konon salah satu ciri yang kurang baik pada orang bertipe ‘SANGUINIS’ adalah keterlambatan. Datang ke acara apa saja selalu terlambat, meskipun sudah tahu jam dimulainya acara.

Dampak keterlambatan pun bisa berbeda. Ada dampak yang ringan, tetapi ada juga dampak yang berat, bahkan fatal. Kalau keterlambatan terjadi pada acara kongkow-kongkow atau santai, ya dampaknya ringan saja, mungkin tidak terasa. Tetapi kalau acara yang mau diikuti adalah berupa perjalanan, dampaknya bisa berat, serius, fatal. Misalnya keterlambatan penerbangan, ya akan tertinggal. Rugi dong… kecewa. Tapi ada lho, keterlambatan yang membawa berkat. Pernah diceritakan ada orang yang sebenarnya mau naik pesawat dalam rangka sebuah perjalanan. Dia terlambat. Tentu awalnya kecewa. Tetapi lalu tersiar pemberitaan bahwa pesawat yang mestinya dia naiki mengalami musibah. Pesawat jatuh. Penumpangnya diberitakan meninggal. Dia mendengar siaran itu. Dia selamat karena tidak ikut terbang. Keterlambatannya menyelamatkannya. Ini yang disebut berkat terselubung ‘BLESSING INDISGUISE’. Itulah berkat Tuhan. Dia yang semula kecewa, akhirnya bersyukur.

Berbicara mengenai prestasi atau pencapaian, lebih-lebih yang gemilang, biasanya terjadi pada saat-saat puncak produktifitas seseorang. Itu biasanya terwujud pada orang-orang muda atau dewasa. Setelah tahap kegemilangan atau produktifitas, secara pelan-pelan tapi pasti kemampuan mereka akan berkurang seiring bertambahnya usia menuju tua. Kemampuan berprestasi pada umumnya mulai berkurang. Proses ini harus disadari dan diterima sebagai proses alam. Tetapi bukan berarti semua orang tua lalu tidak bisa berprestasi atau menghasilkan apa-apa. Ada lho, orang yang justru prestasinya menonjol terjadi pada tahapan tua. Dan ini tidak bisa dikatakan terlambat. Ada banyak contoh karya seni atau karya besar, terjadi pada saat seseorang sudah lanjut umurnya. Kita bisa melihat pada tokoh-tokoh dunia.

Tahukah Anda bahwa Immanuel Kant, seorang ahli filsafat Perancis, menulis karya-karya filosofis yang terkenal dan mendalam justru disaat dia berusia 74 tahun? Bahkan Giuseppe Verdi, musikus dan komponis Italia yang kesohor, menyelesaikan ‘AVE MARIA’ nya ketika dia telah berusia 84 tahun? Juga seorang pemahat, Michel Angelo, bukankah dia menyelesaikan karya terbesar pada usia 87 tahun? Kemudian Sang Titian, menyelesaikan lukisan yang terkenal, yang mengangkat kisah historis ‘Pertempuran Lepanto’ pada saat dia berusia 98 tahun?

Lagi pula, bukankah kita tahu pada usia berapa Zakharia, sang imam Bait Kudus Allah, masih meragukan kehendak Allah tetapi kemudian boleh mendapat kepenuhan imannya? Begitu juga Elisabeth, berapa lama dia harus menunggu sampai akhirnya boleh mengalami apa yang didambakan setiap gadis Israel, sudah pada usia lanjut? Maka tidak pernah ada istilah terlambat bagi orang yang lanjut usia. Umur tua tetap bisa menghasilkan hal-hal gemilang dan luar biasa, kejadian dan keputusan terindah dalam hidup. Mengapa tidak kita jadikan usia tua kita, saat berahmat, saat kelahiran baru, saat pertobatan, saat kebangkitan, saat penyucian? Kita juga bisa membuat sesuatu yang indah, bahkan yang terindah dalam seluruh hidup kita, pada usia tua kita, pada saat-saat akhir kehidupan kita. Pepatah Inggris mengatakan: ‘Do your best, God will do the rest’. ‘Lakukanlah yang terbaik, Allah akan menyelesaikan semuanya’.

 

Penulis: Ph. Ispriyanto

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed