by

The Dancing Leader with Borobudur Temple Transformation dalam 21 Tahun Ruwat Rawat Borobudur

-Artikel-109 views

Kita telah dikontak dan dikabari oleh Mbah Coro Warung Cleguk selaku pelaku, penggagas, perintis, pemelihara dan pembawa sejarah program 21 Tahun Ruwat Rawat Borobudur dkk nya, yang sudah memasuki periode tahun ke 21, tepat di tanggal 21 Desember 2022, untuk acaranya yang di mulai tepat 21 Januari 2023.

Narasi dan Tulisan perihal Kasanah Kajian Logis Seni Budaya Adat Tradisi Nusantara Indonesia Raya Kita ini, Kita kerjakan dan dharma bhaktikan dalam rangka 21 Tahun Ruwat Rawat Borobudur Mbah Coro Warung Cleguk 21 Januari 2022.

Tidak ada yang kebetulan bahwa Kita sudah pernah dan masih ajeg konsisten berada di dalam Jalur Seni Budaya Adat Tradisi Nusantara, yang sudah pernah melakukan acara Deklarasi DUR, bersama perwakilan 21 elemen yang mewakili perwakilan Jaringan Kesadaran Seni Budaya Adat Tradisi Nusantara & Indonesia Raya baik di dalam maupun di luar wilayah Indonesia.

Serial : Perjalanan 30 Hari, 22 Desember 2022 Menuju 21 Januari 2023.

Tepat tanggal 21 Juni 2012 Hari Deklarasi DUR Internasional, Hari Dignity Universal Responsibility Internasional, Hari Martabat Tanggung Jawab Universal Internasional, secara Ritual Spiritual Bersama sama di dalam Kawasan Candi Borobudur, di pelataran ruang pusat study borobudur, manohara:

Pelurus dan Penerus Sejarah :

Prasasti Tri Tepusan adalah prasasti dari zaman Kerajaan Medang (Mataram Kuno) yang menyebutkan bahwa Sri Kahulunnan pada tahun 842 M menganugerahkan tanahnya di desa Tri Tepusan untuk pembuatan dan pemeliharaan tempat suci Kamulan I Bhumisambhara (kemungkinan besar nama dari Candi Borobudur sekarang). Duplikat dan foto dari prasasti ini tersimpan di dalam museum Candi Borobudur.

Artinya dalam penjelasan teesebut, itu terkait bhumi dan terkait tempat yang suci serta terkait desa di tempat tersebut berada.

Perihal kesucian pasti terkait dengan yang maha suci, artinya tidak berhenti pada wawasan ciptaanNya, sebatas kajian logis kosmologi namun sampai pada kajian telaah dari Apa Kehendak dan Tujuan Sang Penciptanya, kajian logis sains fisik dan sains spiritual dari padaNya, Tuhan Yang Satu, Tuhan yang meliputi segala galanya dan Tuhan ada di dalam semua yang ada.

Wawasan Kesadaran Kepemimpinam Pertama :

21 Januari 2023

Keterhubungan Tubuh dengan Para Indera Kita, dimana ada 15 Indera yang dimiliki manusia dari Sang Penciptanya, yang bisa membuat manusia mengenali adanya realita, guna memahami dan mengertinya, termasuk fungsi gunanya apa saja yang terdekat dengan Kita dan apa yang paling dekat dengan Kita pada realita tersebut, sebagaimana telaah Seni Rupa, Saudara Anang Petong Art House sampaikan ke Kita, termasuk adanya gunung gunung, dusun desa dan candi beserta segala isi kandungan dari pesan memori ilmu pengetahuan dan pengetahuan ilmu, yang terkandung di dalamnya, salah satunya ada dalam kawasan candhi kamulan bhumisembhara alias candi borobudur yang nama aslinya tersebut sudah di tulis dalam Prasasti TRI TEPUSAN yang memberikan penjelasan perihal Kamulan Bhumi Sembhara.

Wawasan Kesadaran Kepemimpinan Kedua :

Hubungan Sejarah Gunung Semeru dengan Sejarah Dewa serta Pimpinan Para Dewa ada di Puncak Gunung Semeru Jawa Timur, dengan Puncak Istana Jonggring Salakanya di Planet Bhumi ini, sedangkan di Planet Mars ada Gunung Olympic, merupakan Gunung Tertinggi di Gugusan Galaksi Bima Sakti ini, karena ukuran dan ketinggiannya 3x Gumung Tertinggi di Bumi, yaitu Gunung Everest alias Gunung Himalaya, Kita temukan tepat 8/12/2022, saat planet mars berada terdekat dengan bhumi, ditandai warna bulan purnama malam hari berwarna merah menyala.

Wawasan Kesadaran Kepemimpinan Ketiga :

Hubungan Kosmologi antara Manusia dan Alam Semesta ada dalam hasil olah Meditasi Saudara Khairuddin Lubis dalam bukunya bertajuk MEMBUKA TABIR POTENSI DIRI, terbitan Bamboo Spirit Nusantara 2022, dimana pada awal mula Tuhan menciptakan para jiwa pada awal mula kejadian penciptaan manusia, dan dalam hubungannya dengan kesemestaanNya, yaitu pasangan jiwa adalah bintang yang berada di alam raya, dimana sesungguhnya ada pengetahuan ilmuNya, perihal adanya hubungan antara ciptaanNya yaitu dalam satu jiwa ada satu bintang, sehingga sesungguhnya ada hubungan antara jiwa manusia dan bintang di langit langit galaksi planetarian semesta raya ini, bukan sebatas ilmu pengetahuan dari nama nama bintang kelahiran Kita.

Wawasan Kesadaran Kepemimpinan Keempat :

Dalam bukunya bertajuk Indonesia Mencari Pemimpin Muda yang Negarawan Tahun 2014 oleh Prabowo Respatiyo Caturroso, Ph.D pada bab XI. Pandangan Filosofi Theosentrisme dalam Struktur dan Sistem Kabinet Republik Indonesia ( Kabinet 17) berupa formasi angka stupa 14973 sesungguhnya bersumber dan berasal dari keberadaannya di seluruh rangkaian stupa yang ada di Candi Borobudur.

Wawasan Kesadaran Kepemimpiman Kelima:

Dalam buku bertajuk The Dancing Leader Bening- Mengalir- Bertindak, anjutan buku berjudul Revitalisasi Pertanian dan Dialog Peradaban, terbitan Kompas dan Universitas Pancasila, 2011, pada Sambutan Rektor Universitas Pancasila, Peran Perguruan Tinggi sebagai Pusat Pendidikan, DR. Edie Toet Hendratno, SH. M.SI… Karena semua transformasi ini merupakan buah dari pikiran, maka supaya bisa berjalan dengan baik harus diatasi melalui pendidikan.

Sedangkan dari Sambutan Rektor Universitas Indonesia. Memahami Seni Memimpin dari Pertanian Holistik, Menaklukkan Tarian Gajah Liar, oleh Prof. DR. Der Soz Gumilar Rusliwa Somantri, menegaskan di paparan akhir sambutannya berbunyi:

Dari proses pendidikan yang dipaparkan di buku tersebut, akan muncul pemimpin yang tidak membuat jarak, tapi terlibat dan menari bersama masalah sehingga, disebut The Dancing Leader yang gilirannya akan menumbuhkan The Learning Organization, Nation (Negara dan Bangsa), dan akhirnya seluruh Civilization (Peradaban).

Sambutan ke 3 dari Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta : Sebuah Aprisiasi Menari Bersama Semesta, Prof. DR. Komaruddin, MA menyampaikan :

Dengan membaca judulnya, The Dancing Leader, menstimulasi saya untuk berimajinasi tentang sosok pemimpin yang sadar betul akan panggung gerak, penonton, dan makna episode yang dia tampilkan seindah mungkin. Sebuah tarian adalah ekspresi imajinasi, pikiran, emosi, dan [bunyi] kata kata ke dalam sebuah bahasa gerak dan perbuatan yang sanggup menenggelamkan ego seseorang hanyut ke dalam emosi dan imajinasi kolektif. Di situ berlangsung interkoneksitas dan peleburan diri aku menjadi engkau dan kita ( baca : seperti konsep tat twam asi di seni budaya adat tradisi budaya peradaban bali red.) Hilang jarak antara penari, pengiring gamelan dan penontonnya.

Sambutan ke 4 Rektor Universitas Kristen Satya Wacana dari Prof. PDT.John Titaley, TH.D justru perihal Hikmah Sebuah Keragaman.

Sambutan ke 5 dari Rektor Universitas Sanata Dharma DR.IR. Paulus Wiryono Priyotamtana S.J. Msc. perihal Masih Akan Pergikah Keanekaragaman Hayati Indonesia?

Dari Kelima Kesadaran Kepemimpinan tersebut, Kita bisa terus menerus memiliki harapan dan sumber daya potensi ilmu pengetahuan pengetahuan ilmu seni budaya adat tradisi, yang terkandung dalam kesucian tempat dan desa di Kawasan Candi Kamulan Bhumisembara alias Candi Borobudur adaNya.

Narasi dan Tulisan ini selanjutnya, sewajarnya membutuhkan ruang dan waktu, untuk menemukan aplikasi kolaborasi sinergitas multipihak, sebagaimana spirit kesadaran jiwa dan aplikasi dari 21 Tahun Ruwat Rawat Borobudur Mbah Coro Warung Cleguk.

Penulis & Aplikator : Guntur Bisowarno.

Kontributor