by

TETAP BERKARYA, CARA BERBEDA

-Artikel-118 views

Komentar tentang orang tua atau lansia yang sering terlontar dan kita dengar pada zaman ini biasanya kalau bukan, malah selalu dikaitkan dengan aspek: kemunduran, kehilangan, keberhentian, ketidakproduktifan, keloyoan, ketidakbergunaan. Komentar itu tentu tidak mutlak benar. Komentar itu seolah-olah mau mengatakan bahwa lansia sungguh tidak berguna lagi, tidak bisa memberi sumbangsih untuk kehidupan dalam penggal terakhir hidupnya. Komentar itu muncul karena pandangan ‘orang dianggap berarti atau mempunyai nilai’ bila orang bisa menghasilkan sesuatu alias produktif. Misalnya pada seseorang masih aktif bekerja dan sebagai imbalan jasanya menerima upah.

Maka begitu seseorang memasuki pensiun, orang dianggap tidak berguna lagi, seolah-olah hidup seseorang berakhir pada saat pensiun. Padahal pensiun hanya ada dalam paradigma pegawai. Barang siapa berpikir bahwa dia bekerja untuk mendapatkan upah, maka pensiun adalah keniscayaan yang pahit. Tetapi bagi mereka yang bekerja untuk hidup melayani orang lain dan PenciptaNya, bukan sekedar mencari duit, maka tidak akan pernah mengenal pensiun. Bagi orang semacam ini, setelah ‘pensiun’ kehidupannya malah semakin ‘sibuk’. Orang semacam ini justru akan mengisi waktu yang merupakan karunia yang sangat berharga dari Tuhan untuk mengabdi kepadaNya melalui pelayanan terhadap sesama. Dia bisa menjadi ‘Anugerah bagi sesama’.

Tentu cara lansia berkarya melayani sesama berbeda dengan pada saat masih bekerja formal. Lansia memang secara alami mengalami kemunduran dalam segi kesehatan. Hal ini tidak bisa dihindari dan dipungkiri. Hal ini harus diterima dan disadari. Menyadari kemunduran ini, maka irama bekerja atau berkarya juga harus disesuaikan dengan kondisi dengan cara memperlambat. Kalau dulu bekerja ibarat kereta api cepat Argo Lawu, sekarang harus berani berirama ‘gerobak’ yang pelan tetapi berjalan pasti menuju tujuan.

Menjadi lansia bukan berarti pensiun dalam segala hal, lalu berleha-leha, lepas dari presensi, bebas menggunakan uangnya, memuaskan diri menikmati kehidupan dan tidak berbuat apa-apa lagi bagi sesama. Bukankah ada sebuah anjuran bijak ‘Janganlah mati sebelum menghembuskan nafas terakhir’. Anjuran itu mau mangatakan sebelum hayat meninggalkan raga alias meninggal dunia, orang dianjurkan jangan sekali-kali berhenti berkarya. Si bijak menganjurkan agar orang berbuat sesuatu yang berguna untuk sesama, sampai kapan pun dan sekecil apa pun. Sebab pada hakikatnya, tidak berbuat apa-apa berarti mati. Sebuah nasihat yang sederhana namun mengandung pesan yang sungguh bermakna. Sebuah spiritualitas yang sungguh mendalam.

Maka lansia harus berani berkata: ‘Selama hayat masih di kandung badan, selama nafas masih berhembus, selama darah masih mengalir di tubuh, kita adalah penyalur-penyalur rahmat Tuhan’. Semoga kita seperti pepatah: ‘tua-tua keladi, makin tua makin jadi’. Semakin kita lama menghirup udara, makan garam laut dan asam gunung, semakin pula kita menjadi garam yang mengasinkan dan terang yang menerangi dunia ini. Tua dan rapuh fisik boleh dan itu alami. Tetapi rapuh iman sehingga garam menjadi tawar dan terang tertutupi gantang, jangan sampai! Jika garam kita tawar, dengan apa dunia ini akan digarami? Jika terang kita tertutup gantang, dengan apa dunia ini akan melihat kebenaran yang datang dari Allah?

Setelah kita memaknai waktu penggal terakhir hidup kita dengan menjadi anugerah bagi sesama, kita masih mempunyai satu tugas terakhir kita yaitu: ‘mempersiapkan perjalanan abadi, menyiapkan kematian’. Tugas ini bisa menjadi perjuangan yang sangat berat. Mengapa? Karena kematian berimplikasi dua kejadian yang sangat besar.

Implikasi pertama adalah bahwa kita akan meninggalkan sesuatu yang ada pada kita. Kita akan meninggalkan semua sanak saudara, kerabat, sahabat, pekerjaan, kedudukan, harta benda dan sebagainya. Untuk selama-lamanya kita akan pergi dari rumah, kota, negeri, bahkan dunia kita. Perpisahan itu begitu total dan drastis. Jangan kita mengira bahwa perpisahan itu akan terjadi dengan mudah.

Implikasi kedua adalah bahwa kita akan pergi menghadap Tuhan. Bagaimana perasaan Anda? Takut, girang, sungkan, seram, ragu-ragu, malu, ngeri, senang atau apa?

Bagaimana kita akan mempertanggungjawabkan hidup kita yang diberikan kepada kita secara cuma-cuma? Semua ini perlu dipersiapkan selagi kita masih ada kesempatan, selagi kita masih hidup, sehingga kematian bukan merupakan bencana melainkan menjadi saat penuh suka cita, dan kita bisa berkata seperti ketika mendekati ajal: ‘… saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman’ (2 Timotius 4:6-7), juga: ‘Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan’ (2 Timotius 4:8).

Artikel ini ditulis dengan maksud:

  1. Agar di usia kita yang lanjut, kita tetap bisa menjadi anugerah bagi sesama, menjadi penyalur berkat bagi sesama.
  2. Agar kita bisa mengakiri tugas terakhir kita ‘menyiapkan perjalanan abadi, menyiapkan kematian’ dengan baik, dengan memberi isi kepada hidup yang sedang kita jalani supaya kelak pada waktu hidup berakhir, hidup kita mempunyai arti dan meninggalkan arti.

Sebagai penutup, mari kita tanggapi ajakan Nabi Amos: ‘Bersiaplah untuk bertemu dengan Allahmu! (Amos 4:12).

 

Penulis: Ph. Ispriyanto.

News Feed