by

TEGUK

-Artikel-165 views

TEGUK’ adalah singkatan dari ‘Temu Guyub Keluarga’. TEGUK merupakan sebuah paguyuban yang awalnya sebenarnya dirancang sebagai wadah berkumpulnya pasutri lintas lingkungan dalam satu paroki yang ulang tahun pernikahannya masuk dalam kelompok empat bulanan. Termasuk kelompok pertama adalah para pasutri yang ulang tahun pernikahannya bulan Januari, Februari, Maret dan April. Kelompok kedua adalah para pasutri yang ulang tahun pernikahannya masuk bulan Mei, Juni, Juli dan Agustus. Kelompok ketiga adalah para pasutri yang ulang tahun pernikahannya masuk bulan September, Oktober, November dan Desember. Ide pembetukan TEGUK itu muncul setelah beberapa kali diadakan perayaan ekaristi bagi masing-masing kelompok. Jadi setahun tiga kali. Tim Kerja Pendampingan Keluarga Paroki (TKPKP) nama waktu itu, mengadakan perayaan ekaristi untuk penyegaran janji pernikahan para pasutri. Dalam perayaan ekaristi itu, biasanya ada sepasang pasutri yang sharing tentang perjalanan pernikahan mereka, suka-duka, bagaimana menghadapi dan mengatasi tantangan. Dalam perayaan ekaristi itu, para pasutri saling mengucapkan janji pernikahan sambil berhadapan dan berpegangan tangan. Setelah mengucapkan janji pernikahan, para pasutri mengungkapkan kasihnya satu dengan yang lain dengan berpelukan atau berciuman. Setelah perayaan, biasanya diadakan pertemuan atau resepsi layaknya perhelatan pernikahan. Setelah doa pembukaan, sambutan koordinator TKPKP dan sambutan Romo Paroki, acara santai. Ada acara tebak tebakan, karaoke, foto berpasangan dan makan malam bersama.

Rencana awal TEGUK sebagai wadah bertemunya para pasutri yang ulang tahun pernikahannya masuk kelompok empat bulan itu mengalami kendala, yaitu kendala geografis. Para pasutri dalam satu paroki tempat tinggalnya saling berjauhan, sehingga mereka berkeberatan untuk bertemu secara periodik atau teratur dari lingkungan ke lingkungan. Jadi, TEGUK sesuai dengan konsep pembentukan awal gagal alias tidak jalan. Kemudian ada ide baru agar TEGUK tetap bisa terwujud. Waktu itu, saya punya ide untuk membentuk TEGUK di lingkungan, namun bukan khusus untuk pasutri melainkan untuk segenap umat yang mau atau bersedia bergabung. Sifatnya bebas, tidak mengikat. Ada umat yang menanggapi. Namun pada saat pertemuan TEGUK beberapa kali, ada kesulitan muncul karena usia peserta tidak sebaya. Ada yang sudah tua dan ada sebagian masih ada yang usia tengah umur. Akhirnya, setelah dipikirkan dan dilontarkan ke forum, para peserta setuju kalau TEGUK ini dijadikan dua kelompok. Kelompok muda dengan rentang usia paling tinggi di bawah 60 tahun. Kelompok lansia dengan anggota yang berusia 60 tahun ke atas. Dengan demikian masalah teratasi. Kami bersama sepakat memberi nama TEGUK ini ‘KATARINA’. Ini bukan nama Santa ya. Ini singkatan dari Suka Cita Riang Sederhana’.

Interval pertemuan kedua kelompok TEGUK ini, saya sengaja bedakan. Untuk kelompok yang lansia, pertemuannya dua bulan sekali. Untuk kelompok di bawah 60 tahun, mereka menginginkan sebulan sekali. Untuk tema-tema TEGUK, kedua kelompok ini tentu berbeda. Tema disesuaikan dengan kebutuhan kelompok masing-masing. Untuk tujuan itu, saya sebagai yang diminta untuk mengisi pertemuan TEGUK berusaha untuk menyampaikan materi yang dibutuhkan para anggota. Bisa jadi ada anggota yang punya ide tentang tema. Tetapi kalau tidak ada usulan tema dari anggota, saya menyampaikan tema yang saya peroleh dari pengamatan kebutuhan mereka. Saya mengamati dan mendengarkan kurang lebih apa yang menjadi keprihatinan, persoalan, harapan anggota. Jadi cakupan tema TEGUK ini cukup luas, bisa menyangkut masalah keluarga, pendidikan, hidup menggereja atau menjemaat, dll. Bahkan TEGUK ini acaranya luwes, bervariasi, tidak harus selalu saresehan, bisa doa bersama, berkaraoke, dll. Intinya, mengguyubkan umat. Seiring berjalannya waktu TEGUK ini berkembang, anggotanya lebih banyak. TEGUK melebar ke lingkungan tetangga. Ternyata, banyak umat yang berminat ikut. Nah, sejak ada teman-teman yang ikut dari lingkungan tetangga itu, pertemuannya bergantian.

Contoh tema yang diangkat dari pengamatan, misalnya tentang pertengkaran antara seorang ibu dengan anaknya tentang pemilihan jurusan sekolah. Pada suatu saat, ada pertemuan doa lingkungan. Persis di depan saya, duduk seorang ibu yang membicarakan masalah pemilihan jurusan sekolah anaknya. Ibu ini dengan nada marah atau tidak senang mengungkapkan kejengkelannya terhadap anaknya, yang dianggapnya tidak menurut orangtua. Ibu menghendaki anak masuk jurusan IPA, sedangkan anak ingin masuk jurusan Bahasa. Mendengar cerita tersebut, saya punya ide untuk membicarakan tentang pemilihan jurusan pada pertemuan TEGUK yang akan datang. Untuk tema itu, saya mengangkat ‘Multiple Intelligences’-nya Howard Gardners. Pada kesempatan itu, saya terangkan satu per satu jenis kecerdasan yang ada. Juga saya terangkan bahwa yang disebut anak pandai bukan semata-mata yang bisa sekolah di jurusan IPA. Konsep yang masih keliru itu, harus diluruskan. Juga diluruskan bahwa bukan hanya orang yang dari jurusan IPA yang kemudian berprofesi seperti dokter, arsitek, pilot saja yang bisa mempunyai masa depan yang menjanjikan. Semua kecerdasan membuka peluang untuk sukses dalam bidangnya. Mari kita lihat peluang untuk masa depan bagi masing-masing kecerdasan.
Kecerdasan logis matematis : dokter, pilot, dll.
kecerdasan verbal liguistik : editor, translator, interpreter, dll.
Kecerdasan musikal : musisi, mendirikan kursus musik, dll.
Kecerdasan kinesik : guru senam, guru tari, mendirikan fitness center, dll.
Kecerdasan spasial : arsitek, designer interior, dll.
Kecerdasan interpersonal : psikolog, humas, dll.
kecerdasan intrapersonal : rahib, dll.
Kecerdasan natural : pengusaha tanaman-kebun, dll.

Untuk lebih menghidupi hidup menggereja, pernah saya mengangkat tema ‘Panca Tugas Gereja’, ‘KASEMI’ (Katakese Sebelum Misa). Mengenai tema kepribadian, pernah dibicarakan tentang ‘Enneagram’, ‘Personality Plus’-nya Florence Littauer, ‘Delapan Tahap Perkembangan Kepribadian Manusia’-nya Erik Erikson. Biasanya, setelah penyampaian materi dilanjutkan dengan tanya jawab atau sharing. Bahkan pada saat membicarakan tema ‘Personality Plus’, para anggota minta diadakan tes untuk mengenali diri dan bisa mengenali orang lain. Para anggota meminta agara tes boleh diikuti seluruh keluarga anggota TEGUK, jadi ada suami, isteri dan anak-anak. Ini menjadi saat yang sangat mengasyikkan dan menggembirakan. Untuk sesi ini, diperlukan beberapa kali pertemuan. Dengan diadakannya TEGUK ini, diharapkan umat katolik tidak hanya saleh tetapi juga cerdas. Kalau kita sering mendengar semboyan yang diciptakan Mgr. Soegijopranoto ‘Seratus Persen Katolik, Seratus Persen Indonesia’, maka melalui TEGUK diharapkan ada ungkapan ‘Katolik Saleh dan Cerdas’.

Untuk kelompok TEGUK lansia, tema besarnya ‘Menjadi Orangtua Yang Bahagia’. Untuk mewujudkan tema ini, tentu tidak mudah. Banyak tantangannya. Salah satu yang paling menonjol adalah masalah ‘Kesepian’. Saya pernah beberapa kali mendampingi seorang ibu, yang kebetulan tidak ikut TEGUK, dan ibu ini sangat mengalami kesepian. Setiap kali kesepiannya sudah tak tertahan, ibu ini menelpon saya atau isteri saya untuk datang ke rumahnya. Disana, omong sana-sini bisa berjam-jam. Kalau mau pulang, pasti ditahan. Saya dan isteri, pernah diajak pergi menemani ibu ini ke tempat rekreasi naik mobil bersama sopir pribadinya. Ketika mobil mulai berjalan, saya bertanya: ‘Ibu, kita mau pergi kemana?’. Ibu menjawab: ‘Tidak tahu, pak Is saja yang menentukan!’. Saya bingung. Akhirnya, saya putuskan ke Tawangmangu saja. Saya mengajak ibu ini ke Balaikambang. Disana kami gelar tikar, duduk-duduk sambil omong-omong dan makan siang. Setelah puas, kami pulang. Pada kesempatan lain, mengajak rekreasi lagi. Saya bingung lagi karena harus menentukan tujuannya lagi. Kali ini, ibu saya ajak ke Candi Sukuh. Kami hanya duduk-duduk dan omong-omong. Dan itulah kebutuhan utama ibu ini. Dia yang banyak cerita. Kami lebih banyak mendengarkan. Kami pulang lewat Matesih. Dalam perjalanan pulang, ibu ini sering minta sopir untuk meminggirkan mobil dan berhenti. Ternyata, ibu ini ingin menikmati pemandangan yang indah, yaitu pegunungan, dengan banyak rumah di lerengnya. Dia heran, kok ada orang yang tinggal di tempat yang tinggi nun jauh disana. Dua kali, kami berhenti. Ini hanya salah satu contoh dari umat yang mengalami kesepian. Maka berdasarkan pengamatan, saya mengangkat tema-tema yang berkaitan dengan ‘Kesepian’ seperti ‘Menghadapi Kesepian Pada Masa Tua’.

Untuk TEGUK kelompok lansia ini, pemaparan materi tidak berlama-lama. Kami lebih menggunakan waktu untuk sharing pengalaman pribadi dengan panduan pertanyaan:
Apakah Anda pernah mengalami kesepian sebagai orangtua? Bagaimana perasaan Anda waktu itu?

Apa yang menyebabkan Anda mengalami kesepian waktu itu?

Bagaimana Anda mengatasi kesepian waktu itu?
Aktivitas apa saja yang menurut Anda sangat baik dilakukan saat mengalami kesepian di masa tua?

Apakah dari pengalaman Anda, kesepian itu punya makna yang mendalam dalam hidup Anda? Apa maknanya?

Saat pandemi Covid 19 mewabah ini, dimana orang harus tinggal di rumah saja, kami tidak bisa mengadakan pertemuan. Sudah ada anggota TEGUK yang mengirim W.A yang isinya agar apabila nanti situasi sudah baik dan memungkinkan, segera diadakan pertemuan TEGUK. Ada kerinduan dan kebutuhan. Begitulah sekilas tentang TEGUK.

 

Penulis: Ph. Ispriyanto

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed