by

Skandal Cinta Raden Pabelan dengan Putri Sekar Kedaton Anak Joko Tingkir Yang Bergelar Sultan Hadiwijoyo

-Artikel-227 views

Skandal memalukan Kerajaan Pajang ternyata benar adanya. Skandal ini melibatkan Raden Pabelan, putra orang kepercayaan Sultan.

 

Keruntuhan Kerajaan Demak, mengantarkan Kerajaan Pajang menuju ke masa kejayaan. Di bawah kepemimpinan Jaka Tingkir yang bergelar Sultan Hadiwijaya, kerajaan ini menjadi pusat keramaian baru di zamannya. Namun di tengah kejayaan itu, ternyata ada sisi gelap yang sempat membuat kewibawaan Sultan Hadiwijaya tercoreng. Yakni skandal memalukan Kerajaan Pajang antara putrinya Sekar Kedaton dengan Raden Pabelan.

Raden Pabelan sendiri adalah putra dari Tumenggung Mayang, orang kepercayaan Sultan Hadiwijaya. Yang sudah mengabdi sejak Pajnag baru berdiri sebagai sebuah kadipaten kecil. Bahkan segala bentuk kebijakan dan strategi politik Kerajaan Pajang, selalu bersumber darinya. Sebelum diputuskan oleh raja. Namun sayangnya, perilaku Raden Pabelan tidak mencerminkan putra seorang bangsawan yang terhormat. Dengan ketampanan wajah yang dimilikinya, dia kerap bermain perempuan. Sehingga namanya sangat dikenal sebagai seorang playboy.

Tentu saja hal ini sangat memukul hati sang ayah. Terlebih Raden Pabelan tidak mau dinasehati. Hingga akhirnya sang ayah berniat memberikan ‘pelajaran’ pada Raden Pabelan.
“Tumenggung Mayang menantang Raden Pabelan. Kalau dia memang petualang cinta sejati, jangan hanya bisa menggaet gadis biasa. Tapi sekalian putri sang sultan. Supaya bisa menjaga martabat keluarga,” tutur Dimas Kotjo, pengurus petilasan Keraton Pajang.

Tumenggung Mayang lantas memberikan bekal informasi terkait kebiasaan sang putri serta kondisi keputren. Tujuannya agar Raden Pabelan bisa dengan mudah masuk dan menemui Putri Sekar Kedaton. Akhirnya proses pendekatan dimulai dengan berkirim surat melalui abdi dalem keputren. Dan ini dilakukan selama beberapa hari, hingga akhirnya surat balasan didapatkan dari sang putri.

Putri Sekar Kedaton sendiri sebelumnya sempat mendengar tentang ketampanan Raden Pabelan. Makanya dia akhirnya mau menyambut cinta dari pria ini, meski belum pernah melihat wajahnya. Setelah beberapa kali saling berbalas surat. Keduanya lantas bersepakat untuk saling bertemu. Dan Raden Pabelan berjanji akan masuk ke dalam keputren.

“Protokol ketat dari kerajaan memang tidak memungkinkan Putri Sekar Kedaton untuk keluar dari keputren, ataupun menerima tamu. Apalagi itu seorang pria. Karena itulah Raden Pabelan dibantu sang ayah untuk bisa dengan mudah masuk keputren, tanpa diketahui penjaga,” lanjut Dimas.

Tumenggung Mayang sadar bahwa apa ynag dilakukannya adalah pelanggaran berat. Dan dia sadar juga bahwa begitu Raden Pabelan masuk, dan ketahuan, maka dia tidak akan bisa keluar dari keputren. Tapi baginya, itulah hukuman setimpal yang harus dihadapi sang putra karena perilakunya selama ini. Dan dia ikhlas dengan semua yang akan terjadi.

Di suatu malam, Raden Pabelan pun mulai merencanakan aksinya. Dengan bekal ilmu dari sang ayah, dia bisa dengan mudah melewati para penjaga. Sehingga benar-benar bisa masuk dan bertemu Putri Sekar Kedaton.

Pertemuan dua sejoli yang sedang dimabuk asmara itupun berujung pada perbuatan terlarang. Sampai tiba-tiba ada seorang abdi dalem yang memergoki keduanya, dan segera melaporkan kepada raja.

Mendengar laporan skandal memalukan Kerajaan Pajang itu, Sultan Hadiwijaya langsung naik pitam. Dia segera memerintahkan prajurit pilihan untuk menangkap Raden Pabelan. Komplek kaputren pun dikepung, sehingga hampir tidak ada celah bagi Raden Pabelan untuk lolos.

Mengetahui hal itu, Raden Pabelan segera berusaha untuk melarikan diri, sebelum para prajurit yang hendak menangkapnya datang dan mengepung kaputren. Tapi terlambat, karena seluruh jalan keluar sudah dikepung rapat. Hingga akhirnya dia berhasil ditangkap.
Raden Pabelan segera dihadapkan pada Sultan Hadiwijaya, dan langsung dijatuhi hukuman mati. Bahkan eksekusi dilakukan di depan mata Tumenggung Mayang, orang tuanya.
Meski apa yang terjadi adalah bagian dari skenarionya. Namun Tumenggung Mayang tetap tidak bisa menyembunyikan kesedihannya karena melihat anaknya tewas secara mengenaskan. Dia tidak mengira kalau sang raja akan menghukum mati Raden Pabelan. Apalagi setelah itu, mayat si anak harus dibuang ke sungai, agar menjadi pelajaran bagi semua orang.
Tak cuma menghukum mati Raden Pabelan, Sultan Hadiwijaya juga memberi hukuman pada Tumenggung Mayang dengan menurunkan pangkatnya. Karena dia dianggap tidak bisa mendidik sang anak dengan baik. Kekecewaan ini kelak yang mendorong Tumenggung Mayang membantu Panembahan Senopati, untuk meruntuhkan Pajang dan mendirikan Kerajaan Mataram.

Sementara itu, kematian mengenaskan Raden Pabelan membuat Sekar Kedaton sangat sedih. Hatinya tidak bisa menerima kepergian orang yang dicintainya. Jiwanya terguncang. Apalagi ancaman hukuman berat juga bakal diterima dari sang raja.

Hal itu akhirnya mendorongnya untuk melakukan bunuh diri. Putri Sultan Pajang ini berlari menuju ke sebuah sumur yang berada di komplek kaputren dan menceburkan diri ke dalamnya.

“Mengetahui hal ini Sultan Hadiwijaya merasa terpukul. Namun dia juga harus berlaku adil untuk tetap menjatuhkan hukuman pada sang putri, yang dipandangnya telah melakukan kesalahan besar. Dan sebagai hukuman dia memutuskan untuk tidak mengangkat jenazahnya dari dalam sumur,” ungkap Dimas.
Taburan bunga setaman pun diberikan sebagai tanda bahwa sumur itu sekaligus menjadi makam sang putri. Dan setelah sekian waktu, sumur yang berada di wilayah kampung Tegal Kembang, Kecamatan Pajang, Kota Solo itu selanjutnya ditutup. Sebatang pohon kamboja ditanam di atasnya. Dan pada hari-harj tertentu kerap didatangi leziarah yang menaburkan bunga di atasnya. (Dehan)

 

 

Telah dimuat dalam www.hops.id dengan judul Raden Pabelan dan skandal memalukan Kerajaan Pajang.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed