by

Silaturahmi Ramadan, Mewujudkan Persaudaraan Sejati

-Artikel-216 views

Selain menyandang bulan penuh hikmah, bulan suci Ramadan bisa disebut sebagai bulan silaturahmi. Bulan di mana semangat menyambung persaudaraan biasa dilakukan oleh umat Islam, khususnya Muslim Indonesia.

Untuk menjalankan fungsi sosialnya secara maksimal, Islam menyediakan cara yang disebut dengan silaturahmi. Pelaksanaan silaturahmi akan menemukan pemaknaan puncaknya saat dilakukan oleh seseorang yang sedang menjalankan ibadah puasa. Ibadah puasa mengandung dimensi sosial yang sangat tinggi, di mana “rasa lapar dan haus” harus direfleksikan dalam bentuk kepedulian kepada sesama dalam berbagai bentuknya.

Bulan Ramadan bukan hanya sebagai sarana meningkatkan ibadah secara vertikal, tetapi juga ibadah secara horizontal. Siapa beragama harusnya mampu menunjukkan kesalehan ritual (relasi vertikalnya dengan Kuasa Adikodrati) dan mewujudkannya dalam kesalehan sosial (relasi horisontalnya). Kedekatan Islam dan Nasrani bukan saja secara genealogis, tapi lebih spesifik lagi kesamaan visi kebangsaan antara NU dan Katolik. Sesungguhnya habluminallah (perintah mengasihi Allah) dan habluminannas (perintah mengasihi manusia) juga merupakan tema sentral ajaran agama Islam dan Nasrani.

Dengan semangat ini, Komisi Hubungan Antar Agama dan Kemasyarakatan (HAAK) Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) kemarin Jumat, 7 Mei 2021 menyelenggarakan webinar “214 Tahun Gereja KAJ: Silaturahmi Ramadan, Mewujudkan Persaudaraan Sejati”, dengan narasumber Prof. Dr. Ignatius Kardinal Suharyo (Uskup KAJ), Dr. KH. Marsudi Syuhud (Ketua PB NU), dan Prof. Dr. Abdul Mu‟ti, M.Ed. (Sekretaris Jendral PP Muhammadiyah).

Usia 214 tahun (tanggal 8 Mei 1807-2021) Gereja katolik berdiri dan berkarya di Jakarta, membawa pada pergumulan dan permenungan bagaimana Gereja relevan, mempunyai makna dan berarti bagi bangsa Indonesia. Gereja senantiasa bergerak dan bertumbuh dalam usaha melaksanakan tugas panggilannya di dunia, dengan menempatkan diri bukan di luar dunia, tetapi di dalam dunia, menghadapi dan merasakan apa yang sungguh dialami manusia. Gereja merefleksikan iman dan menghidupinya dalam pengalaman sosial melalui keterlibatan sosialnya, mewujudkan Kerajaan Allah dalam kehidupan manusia. Dengan demikian, perutusan Gereja merupakan Missio Dei, menghantarkan manusia pada pengalaman perjumpaan dengan Allah.

Gereja KAJ memaknai tahun 2021 sebagai Tahun Refleksi dengan tekad untuk „Semakin Mengasihi, Semakin Terlibat, dan Semakin Menjadi Berkat‟. Ketiga keutamaan itu diperbarui terus menerus sebab misteri inkarnasi, kerelaan dan kerendahan hati Allah demi manusia, dan dengan spiritualitas itu gereja bertindak menanggapi panggilan Allah yang hadir dalam realitas kehidupan yang hiruk pikuk dan kompleks. Dengan itu, umat katolik diundang menjadi pribadi yang ekaristis, tanda kehadiran Allah di dunia dan diutus menyatakan cinta Allah ke sesama.

Silaturahmi merupakan tanda-tanda seseorang beriman kepada Allah. Hal ini dicontohkan oleh Paus Fransiskus yang pada 3-5 Februari 2019 melakukan kunjungan apostolik ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab bertemu Imam Agung Al-Azhar, Sheik Ahmed At-Tayyeb, dan menghasilkan yang dikenal dengan Dokumen Abu Dhabi (Dokumen Tentang Persaudaraan Manusia Untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama). Substansi perjumpaan kedua pemimpin agama dunia itu berupaya mendorong hubungan yang lebih kuat antar umat manusia dan mempromosikan kepada hidup berdampingan antar umat beragama untuk melawan ekstremisme dan dampak negatifnya. Keduanya menyerukan kepada pemimpin dan tokoh dunia untuk menemukan kembali nilai-nilai perdamaian, keadilan, kebaikan dan keindahan, persaudaraan manusia dan hidup berdampingan sebagai jangkar keselamatan. Lagi-lagi, kunjungan Paus Fransiskus ke Irak (5-7 Maret 2021) dan pertemuannya dengan Ayatollah Agung Ali al-Sistani menjadi simbol harapan perdamaian. Dalam konteks lokal, kita menjumpai indahnya persahabatan para bapak bangsa, antara Buya Natsir, I.J. Kasimo dan DN Aidit; pertentangan ideologi yang sangat tajam dan perdebatan sengit di Sidang Konstituante tidak berlanjut hingga ke luar sidang. Perbedaan politik tidak memisahkan persaudaraan dan persahabatan pribadi, bukan alasan untuk saling memusuhi dan saling membenci secara pribadi. Kasimo yang memimpin Partai Katolik tetap merasa lebih dekat secara pribadi dengan Muhammad Natsir, Burhanuddin Harapan dan Kasman Singodimedjo dari Partai Masyumi. Bukti lain bahwa pertentangan ideologi bukan pertarungan dengan musuh yang harus dilawan secara membabi buta juga ditunjukkan oleh Aidit yang membuatkan secangkir kopi untuk Natsir selesai sidang yang berlangsung sengit, serta di lain kesempatan memboncengkan sepeda memberikan Natsir tumpangan pulang. Natsir pundatang melayat dan menitikkan air mata untuk Sarmidi Mangunsarkoro (1959), petinggi PNI yang pernah menjatuhkan Kabinet Natsir. Atau KH Isa Ansari, petinggi Masyumi, yang mengajak Aidit dan Nyoto makan sate setelah rapat Konstituante. Kalau Aidit ke Sukabumi juga menginap di rumah Kiai Ansari.

Abdul Mu‟ti menggambarkan indahnya silaturahmi dan persahabatanyang ditunjukkan oleh Kyai Ahmad Dahlan kepada Romo Van Lith di Muntilan, keduanya melakukan dialog konstruktif dan berdiskusi bagaimana memajukan pendidikan pribumi di jaman Belanda. Ahmad Dahlan tak sungkan belajar mendirikan dan mengembangkan pendidikan muslim dengan belajar kependidikan di Kolese Xaverius yang sekolah katolik, sehingga lahirlah Kweekshool Muhammadiyah. Muhammadiyah sebagai gerakan Islam terbesar di Indonesia tentunya tidak menutup mata terhadap soal pluralitas. Sikap inklusivitas Muhammadiyah terletak pada bagaimana menyikapi realitas kemajemukan yang ada untuk berlomba-lomba dalam kebajikan. Silaturahmi yang dibangun di atas komitmen persaudaraan akan merajut harmoni di atas perbedaan yang ada. Semangat toleransi saja seringkali tidak cukup, harus beyond tolerance, dibarengi dengan sikap penerimaan, semangat akomodasi dan fasilitasi untuk memajukan persaudaraan sejati. Menjadi penting untuk menciptakan ruang perjumpaan. Dengan lebih sering bertemu akan timbul kedekatan dan saling menghormati. Dikatakan oleh Abdul Mu‟ti, agenda penting bagi Muhammadiyah adalah bagaimana memberikan kontribusi terbaik mempertahankan NKRI. Melakukan dialogue in action persoalan kemanusiaan, lingkungan hidup, hak asasi manusia, korupsi dan pandemi.

Sementara itu, KH Marsudi Syuhud menggaris bawahi pentingnya pendekatan sifat kemanusiaan dalam silaturahmi. Memberikan ruang buat orang lain untuk mewujudkan persaudaraan sejati. Seperti disampaikan oleh Sayidina Ali bin Ali Thalib, “yang bukan saudaramu seiman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan”. Absennya rasa kemanusiaan itu menyebabkan pertentangan dan konfrontasi, menjauhkan silaturahmi.

Masyarakat Indonesia yang religius menurut Ignatius Suharyo, memiliki motivasi kemanusiaan dan inspirasi iman, yang buahnya adalah kepedulian. Dengan kekuatan sosial yang dahsyat dan tiga pilar sejarah, yaitu Kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda, dan Pancasila, diharapkan membawa pada terwujudnya persaudaraan sejati. Tematik kerukunansecara eksplisit diwujudkan dalam Doa Syukur Agung V oleh Gereja Katolik Indonesia, “Semoga Gereja-Mu menjadi tanda persaudaraan dan perintis perdamaian di antara bangsa[1]bangsa”. Kardinal Suharyo mengutip dua penelitian menyimpulkan bahwa manusia Indonesia itu adalah manusia yang peduli, memiliki solidaritas dan modal sosial yang tinggi. Nampak terlihat bentuk-bentuk partisipasi yang dilakukan masyarakat ketika terjadi bencana. Hal ini adalah kenyataan hidup bersama yang harus terus dirawat. Masyarakat gotong royong, menolong satu sama lain itu menjadikan Indonesia ranking pertama dalam solidaritas sosial menurut World Giving Index (WGI, 2018). Indonesia berada pada ranking 57 dari 167 negara menurut Legatum Prosperity Index 2020. Masuk 10 besar WGI dalam satu dekade terakhir, dan satu-satunya negara yang berada di dalam 10 besar yang nilainya terus meningkat empat tahun terakhir (2019). Sehingga hal ini tidak lagi cocok dengan apa yang dikatakan oleh Muchtar Lubis (buku Manusia Indonesia, 1977) bahwa manusia Indonesia itu munafik/hipokrit, enggan dan segan bertanggung jawab atas perbuatannya, berperilaku feodal, percaya takhayul, (berbakat seni,) dan lemah karakternya. Lima sifat di antaranya adalah cikal bakal yang memicu terjadinya korupsi yang secara perlahan menggerogoti kemandirian bangsa. Presiden Joko Widodo sendiri pernah menyatakan akan sulit membangun kemandirian bangsa jika sifat-sifat yang diungkapkan oleh Mochtar Lubis itu masih melekat. Berangkat dari itulah, Jokowi kemudian memperkenalkan jargon Revolusi Mental pada Pemilu 2014 yang lalu. Sayangnya menurut Suharyo, kata itu sekarang tidak banyak diucapkan lagi. Revolusi mental yang berkeinginan menggembleng manusia Indonesia yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala. Bahkan Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) telah dibakukan dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 12 Tahun 2016, meliputi lima program, yakni Gerakan Indonesia Melayani, Gerakan Indonesia Bersih, Gerakan Indonesia Tertib, Gerakan Indonesia Mandiri, dan Gerakan Indonesia Bersatu.

Sejumlah temuan dan kajian Tranparency International menyatakan bahwa korupsi yang merusak pelayanan publik, juga berpotensi terhadap penanganan Covid-19 dalam sketor kesehatan. Negara-negara dengan tingkat korupsi yang tinggi terbukti sangat gagap dalam menangani pandemi. Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia pada 2020 melorot menjadi 37 dari sebelumnya 40 di 2019, dan berada di posisi 102 dari 180 negara yang disurvei. Dalam pandangan Suharyo, korupsi adalah soal moralitas dan tata kelola pemerintahan.

Manusia Indonesia dengan inspirasi iman yang berbeda-beda menurut Kardinal Suharyo, adalah manusia cinta tanah air. Secara khusus Gereja Katolik Indonesia juga memiliki Doa untuk Tanah Air (Puji Syukur 194), syukur dan permohonan kepada Allah demi kemakmuran dan kesejehateraan seluruh bangsa.

Pro. Dr. H. Dede Rosyada, MA., ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta menyambut baik dan mengapresiasi acara yang bertema Silaturahmi Ramadan Mewujudkan Persaudaraan Sejati yang digagas KAJ ini. Misi kerukunan di Jakarta menurutnya mengikuti motto DKI Jakarta, maju kotanya sejahtera warganya. Optimalisasi peran FKUB menuju kehidupan yang harmoni, membawa kerukunan dan menghilangkan sekat-sekat agama. Pembinaan kerukunan, keharmonisan dan kerjasama antar umat beragama menjadi bagian penting, agar tidak terjadi gejolak sosial. Dialog dan komunikasi pemuka agama dan tokoh masyarakat akan memberikan penguatan dan dukungan atas kebijakan pemerintah dalam hal keagamaan dan kerukunan umat beragama.

Keragaman itu sebuah keniscayaan, ibarat jari jemari tangan kita ini, tidak ada yang sama. Sikap inklusif sangat penting untuk memahami, saling menghormati, dan pada akhirnya menciptakan masyarakat yang lebih damai dan adil. Konflik sektarian sering didasarkan pada fundamentalisme yang tidak mampu menerima hidup berdampingan secara damai (dari berbagai kelompok etnis serta agama).

Sesungguhnya Islam memiliki kesamaan akar religiusitas dengan Kristianitas. Dalam konteks itu Gereja yang berdialog menjadi jatidiri Gereja, mengupayakan kerjasama, kesatuan, dan kebersamaan dengan komunitas lain (agama) membentuk komunitas basis manusiawi. Realitas kemajemukan Indonesia membutuhkan kearifan dan interaksi yang intensif dari semua elemen bangsa agar tercipta hubungan yang damai dan harmonis, bukan sikap kosmopolitan yang hidup berdampingan tapi minim interaksi, apalagi mengganggap sebagai Liyan (the Others) kelompok lain.

 

Oleh: Ruddy Nararyo Saroyo (pegiat sosial kemasyarakatan)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed