by

SETIR, CURHAT, NANGIS

-Artikel-359 views

Pernah suatu kali saya diajak oleh seorang Pastor untuk membantu memberi sebuah retret di sebuah kota. Retret ini berlangsung cukup lama yaitu dua minggu, karena dibagi dalam dua kelompok. Retret dimulai hari Senin sampai Jumat, untuk masing-masing kelompok. Antara kelompok I dan kelompok II, ada jeda Sabtu dan Minggu. Peserta retret adalah karyawan-karyawati dengan usia masuk kelompok usia paruh baya. Sebagian besar pesertanya adalah wanita karir.

Seperti retret-retret yang lain, retret dibuka dengan acara pembukaan berupa sambutan dari pihak panitia, dilanjutkan doa pembuka, perkenalan baik tim maupun peserta, baru kemudian masuk ke sesi I. Pada saat perkenalan tim, Pastor pertama-tama memperkenalkan diri dengan cerita singkat: nama, kota kelahiran, tempat berkarya dan karyanya. Setelah Pastor, giliran saya untuk memperkenalkan diri dengan menyebut nama, kota kelahiran, domisili, tempat kerja dan peran di lingkup gereja. Pada saat saya mengemukakan tugas saya di lingkup gereja, saya mengatakan di kota saya (di kevikepan), saya diminta oleh Pastor untuk masuk di Komisi Keluarga Kevikepan (Komkel). Saya diberi tugas di bidang II, yaitu bagian ruang berbagi rasa atau tempat curhat atau konsultasi, yang waktu itu namanya ‘Emaus Center’. Untuk saat ini ada yang menyebutnya ‘Family Care Center’.

Gara-gara perkenalan dengan menyebut tugas pelayanan saya di gereja sebagai pendengar curhat atau konsultasi, selama retret saya banyak didatangi peserta retret untuk sekedar curhat atau konsultasi mengenai suatu masalah. Mereka memanfaatkan waktu tidur siang atau malam untuk bisa curhat. Masalah mereka beraneka macam. Ada masalah relasi suami-isteri, relasi orangtua-anak, bahkan ada masalah yang sangat pribadi dan peka, yaitu masalah kehidupan seksual. Tetapi tak ada satu pun masalah ekonomi. Memang mereka adalah orang-orang yang pada umumnya berduit. Lebih dari cukup.

Retret berjalan lancar, bagus. Pada peserta cukup disiplin dan tertib mengikuti ketentuan retret. Mereka mengikuti retret penuh kesadaran dan tanggung jawab. Semangat persaudaraan pun sangat terasa. Keakraban, kehangatan dapat dirasakan oleh semua baik peserta maupun tim. Diantara peserta retret, ada seorang peserta yang saya amati yaitu seorang wanita, yang kalau makan duduk mendekat dekat saya. Atau kalau saya ada waktu luang mengajak omong-omong. Dan pada hari terakhir retret kelompok I, peserta ini mendekati saya dan bertanya: ‘Pak Is, Sabtu dan Minggu kan waktu jeda atau kosong. Pak Is acaranya apa?’. Saya menjawab: ‘Ya, santai-santai atau istirahat saja di rumah retret ini. Saya tidak punya rencana apa-apa’. Peserta ini berkata: ‘Jangan Pak Is, sayang hanya di rumah retret saja. Begini saja, kita jalan-jalan dan lihat-lihat kota. Besok jam 11.00 WIB, Pak Is saya jemput’. Saya menjawab: ‘Oke’. Hari Sabtu, jam 11.00 WIB, betul saya dijemput dan diajak keliling kota. Saya diajak ke pusat keramaian, perbelanjaan kota dan tempat-tempat rekreasi. Saya diantar pulang ke rumah retret sekitar jam 20.00 WIB. Nah, apa yang terjadi selama perjalanan pulang dalam keadaan yang sudah gelap itu? Ternyata, wanita ini mau curhat tentang masalah atau kecemasan yang sedang dia alami dan rasakan. Wanita ini, sebut saja namanya ‘Nisa’ (bukan nama sebenarnya) adalah penyandang HIV AIDS. Nisa curhat sambil menyetir dan menangis. Saya beberapa kali minta Nisa untuk berhenti dan menepi, supaya lebih tenang. Saya takutnya Nisa tidak konsentrasi dan terjadi kecelakaan. Tetapi Nisa tetap jalan. Ceritanya demikian: Nisa ini dua bersaudara. Nisa mempunyai kakak laki-laki. Kedua orangtua Nisa sudah meninggal. Nisa dan kakaknya tinggal terpisah. Mereka mempunyai rumah sendiri-sendiri. Kedua bersaudara ini, sukses semua dalam karirnya. Dapat dikatakan kedua bersaudara ini orang berada. Nisa tinggal di rumah sendirian. Nisa bekerja di suatu lembaga yang terkenal. Nisa sering di kirim ke luar negeri. Nisa bisa terkena HIV AIDS karena pernah berhubungan badan dengan seorang pria status ‘duda’ dengan dua anak. Dari hasil pemeriksaan kedokteran ternyata pria itu adalah ‘karier’ HIV AIDS. Maka Nisa pun tertular. Pada waktu ketemu saya, Nisa sedang menjalani perawatan dan ditangani dokter ahli. Karena masalahnya medis, saya tidak bisa banyak menolong Nisa. Yang bisa saya lakukan ya memberi dorongan moril saja supaya Nisa terus menjalani hidup ini dengan lebih baik. Melepaskan perasaan negatif yang berupa residu emosi seperti: rasa berdosa, bersalah, ketakutan dan kekhawatiran. Berani memasrahkan hidup kepada Allah Sang Penyelenggara Kehidupan.

Sambil terus menyetir, curhat dan menangis, akhirnya kami tiba kembali di rumah retret. Saya ajak Nisa untuk turun, tetapi Nisa tidak mau. Nisa masih terus menangis dan berurai air mata. Melihat Nisa seperti itu saya berkata kepada Nisa: ‘Apakah sebelum Anda pulang saya boleh mendoakan Anda?’. Nisa menjawab: ‘Ya, Pak Is’. Dimana kita mau berdoa, di mobil ini atau di kapel?’ tanya saya lebih lanjut. Nisa menjawab: ‘Di kapel saja Pak Is’. Kami pun turun menuju kapel. Suasana kapel sangat sepi. Dalam suasana hening, saya mendaraskan doa untuk Nisa. Ditengah-tengah saya mendoakan Nisa, alangkah terkejutnya saya, Nisa menangis meraung-raung. Cukup lama Nisa menangis meraung-raung. Saya menunggu dengan sabar. Mungkin Nisa sedang melepaskan perasaan-perasaan negatifnya, rasa berdosa, ketakutan, dll. Setelah meraung-raung, wajah Nisa nampak lebih santai, tidak kenceng seperti sebelumnya. Kami berdua kembali berjalan ke mobil. Kami pun berpisah di sini.

Sejak saat itu, saya tidak pernah bertemu Nisa. Namun, kami masih berkomunikasi lewat WA sampai saat ini. Paling tidak setahun tiga kali kami saling mengirim salam: pada waktu Natal, Paskah dan hari ulang tahun kami masing-masing. Semoga Nisa hidup dengan tenang kembali dan bahagia.

 

Penulis: Ph. Ispriyanto.

Kontributor

Comment

Leave a Reply