by

Seni Rupa Ka Tha Angka Aksara dalam Kebangkitan Kecerdasan Budaya Peradaban Manusantara 2022

-Artikel-78 views

20 Aksara Hanacaraka dikurangi 12 Aksara tinggal 8 Aksara, 8 Aksara yang tersembunyi dari 12 Aksara Hanacaraka yang dipakai dalam Aksara Hanacaraka di Rajah Kalacakra sejak jaman Sultan Agung.

Dalam Kajian Riset Aplikasi Yoga Bakti Batik Kitab Kesadaran Jiwa ada 3 perenungan di Angka 8 :

Pertama :

Dewa Maheswara di posisi tenggara nawasanga memiliki senjata sakti berupa DUPA dan OREP 8 (Hidup Delapan).

Kedua :

Aksara ke 8 dari 20 adalah Aksara SA, adanya di RA SA, Bunyi & Cahaya Semesta Alam & Sari Warna Alam.

Ketiga :

Dari 8 Delapan Aksara yang tersembunyi dari 20 Aksara dikurangi 12 Aksara itu, ada AKSARA KA TA dan KA THA.

sehingga tidak kebetulan peringatan HARI AKSARA Internasional ada hubungannya dengan ANGKA 8.

Setiap tanggal 8 September kita memperingati Hari Aksara. Aksara atau huruf adalah satuan lambang terkecil dari komunikasi berbentuk tulisan.

Tulisan punya andil besar terhadap perubahan kemajuan budaya peradaban. Begitu pentingnya tulisan, kehadirannya selalu menjadi tonggak awal sejarah. “Tak ada orang yang terpelajar” tulis Plato dalam surat ketujuh, “Yang mau mengekspresikan pandangan filsafatnya dalam bahasa, terutama bahasa yang tak dapat dirubah, seperti bahasa tertulis”. Karena filsafat itu dasar berpikir dan pola pikir yang mau berpikir, selalu dinamis.

Filsafat tak dapat diadakan tanpa kritisisme, dan penulisan memungkinkan suatu konsep diteliti secara mendalam, selalu melahirkan tulisan tulisan yang diperbaharuhinya, seiring pertumbuhan kesadaran diri dan kesadaran jiwanya.

Penulisan membekukan pembicaraan dan memunculkan para ahli tata bahasa, ahli ilmu logika, ahli ilmu retorika, ahli sejarah, maupun ilmuwan lain – semua yang harus menguasai bahasa untuk dapat mengetahui makna tekstual, letak kelemahannya, dan jawaban kritis yang ditawarkan.

Sejarah kemudian juga mencatat bangsa dengan masyarakat yang memiliki minat baca tulis yang tinggi terbukti menjadi bangsa yang disegani.

“Sejak Jaman Sultan Agung, Jumlah Aksara Jawa Modern tinggal 20 Aksara dari 50 Aksara, sedangkan dalam bahasa aksara manuskrip kuno dan prasasti prasasti tetap memakai 50 aksara,” demikian penjelasan Ki Reksa Aksara Kota Malang.

Penulisan adalah penyusunan Naskah Buku melalui bahasa tulisan dan/atau bahasa gambar.

[penulisan] Arti penulisan di KBBI adalah: proses, cara, perbuatan menulis atau menuliskan.

Dari pengertian perkata diatas, dapat disimpulkan bahwa penulisan kata adalah proses atau cara menulis yang mepertimbangkan unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan sebagai wujud kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa sesuai ejaan yang disempurnakan.

Menulis Kaidah Penulisan Ki Reksa Aksara dalam Angka Aksara yang ada di Nusantara dan Bhumi ini.

“Kami menekankan penulisan yang benar sesuai bauśāstra dan sesuai hukum pancawalimukha.” tegas Ki Reksa Aksara.

3.1 Referensi Penulisan Kita dalam TAMPAK TAPAK BUDAYA PERADABAN 5.2.

Referensi Pertama

Ada persaksian dan penulisan seorang Ida Wayan Oka Granoka Gong dalam Bukunya REINKARNASI BUDAYA, Juni 2007, perihal WIT NING SABDA – kamulaning dadi wong (mistis kosmis, Rajah Kajang Masutasoma)

Referensi Kedua

Menurut Al Kitab Injil Yohanes ayat 1 berbunyi : Pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

Referensi Ketiga

Menurut Bhagawad Ghita Sloka 6.29.

Seorang yogi yang sejati melihat Aku bersemayam di dalam semua makhluk hidup dan dia juga melihat setiap makhluk hidup di dalam diri-Ku. Memang, orang yang sudah insaf akan dirinya melihat Aku, Tuhan Yang Maha Esa yang sama di mana mana.

Dari ke 3 Referensi tersebut Kita dapat dimudahkan melalui penjelasan Kajian Logisnya, di Bukunya Khairuddin Lubis.

Menurut Saudara Khairuddin Lubis dalam Bukunya bertajuk Kajian Logis MEMBUKA TABIR POTENSI DIRI, terbitan Bamboo Spirit Nusantara, 2022, hal 25

Inilah Realita.

Kelengkapan indra kita adalah agar kita mampu menangkap realita. Kemudian memahami, memaknai dan mengerti sehingga mampu memberdayakan bahkan memberdayakan realita tersebut guna hidup dan kehidupan kita. Proses perjalanan yang meninggalkan TAPAK BUDAYA PERADABAN. Dengan segala keterbatasan, saya mencoba untuk mengulas.apa yang menjadi asumsi dalam.realita yang ada.

BUNYI

Bunyi sebagai awal mula kejadian yang ditandai oleh waktu dalam membentuk apa sajs, diawali dari sebuah interaksi dari zat-Nya dalam bentuk gesekan atau benturan. Akibat dari interaksi ini menimbulkan bunyi dan cahaya. Dari sinilah terbentuk berbagai realita, yang kemudian kita kenali melalui indera indera Kita.

Salam Tampak TAPAK BUDAYA PERADABAN

Angka 5 dalam Kitab I Ching Kuno berbunyi Kebutuhan, Angka 2 berbunyi Responsibility dan Angka 52 berbunyi Serenity yaitu Peradaban itu sendiri.

Penjelasan Kata Ka Tha yang sungguh luar biasa ada dalam Kajian Logis Dalam Buku REINKARNASI BUDAYA, Maha Karya Ida Wayan Granoka Gong, Maha Bajra Sandhi 2007.

Kata Ka Tha bisa mewakili penjelasan Kajian Logis dalam pendekatan Yoga Musik Linguistik dari yang disebut BUNYI, SABDA, dan FIRMAN di atas, sebagai Kata Ka Tha dari Bijaksara Sang Akunya Aku dari Ingsun Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri.

Konsep yoganada artinya sangat luas, yoga maha pemersatu, tetapi dalam penerapan replika indrawinya yang pertama dan yang paling dasar, ia adalah yoga musik, realisasi kesadaran jiwa ke dalam musik yang mempunyai asosiasi getaran tujuh lapis bumi (sapta petala), atau dengan unsur dhatu (pancadhatu).

Eksplorasi yoga musik di Maha Bajra Sandhi diharapkan menandai suatu era baru kesejagatan, kebangkitan KUNDALINI BALI dan BAJRA BUMI. Suatu upaya mendorong desa, pulau dan negeri, menjadi salah satu kekuatan sentral menuju persahabatan supradunia dari pemenuhan estetikanya yang melampaui (indera supraindrawi) idealistik seni, filsafat, ilmu, teknologi, sebagai penemuan Zoetmulder tentang yoga sastra, yang telah amat terkenal itu, sebagai hal yang mekanis linguistik (semantis), berbeda dengan jalan yang ditemouh lewat yoga musik yang intuitif mistis (non semantis).

Di cakra, pusat pusat energi di dalam tubuh manusia, yang disebut warna gelombang bunyi getaran itu meliputi suara nada dhwani, yaitu substansi bunyi cakra yang pada puncak realisasinya berwujud mentra (dwani warna). Semi vokal (ardhaswara) adalah titik titik pertemuan dari kedua belas jenis gelomangnya mempresentasikan pusat pusat getar padma cakra. Ongkara atau disebut PRANAWA itulah hakekatnya, manisfestasi dari persatuan purusha-pradana.

Dalam dimensi lain ia mempresentasikan perkawinan mistik (purus-baga, maskulin feminin). Perkawinan, sebagaimana dimaksudkan, menghasilkan benih benih hidup kesejatian.

Benih benih kreasi inilah disebut bija atau vija bijaksara. Pada cakra jantung (pusat), getar warna, terdiri dua belas suku berurutan, gutural-palatal-serebral – menghasilkan KA awal,gutural, -Tha akhir, cerebral.

Penemuan dua suku (Ka-Tha) ini memang sangat fantastis, barangkali ia mempresentasikan kata itu sendiri. Di dalam Ka-Tha (jantung – hati) bahasanya para yogin bersemanyam sang “ingsun” Aku, dan di dalam kata (jantung-hati) bahasanya para lingus (atau sastrawan yang menggunakan linguistik sebagai media) bersemayam sang “Aku” liris.

Demikianlah Kata Ka Tha dalam Angka Aksara adalah Sumber Bunyi Kecerdasan Multidimensional dari Warna Cahaya Bunyi Cakra Cakra Budaya Peradaban Manusantara 2022 di Abad 21 ini.

Penulis & Aplikator : Guntur Bisowarno

Kontributor