by

Sejarah Keraton Solo dan Silsilah Dari Masa Kemasa – Bagian III

-Budaya, Sejarah-1,062 views

Pakubuwana VIII dan IX

Hingga akhir hayatnya Pakubuwana VIII hanya menjabat selama tiga tahun. Pakubuwana VIII di gantikan dengan putra Pakubuwana VI yang akan menjabat sebagai raja Surakarta selanjutnya, yang bergelar sebagai Sri Susuhan Pakubuwana IX.

Karena fitnah yang dibuat oleh pihak Belanda bahwa Mas Pajangswara (ayah Ranggawarsita) yang dulu menjabat jadi juru tulis keraton, telah membongkar rahasia persekutuan anatara Pangeran Diponegoro dan Pakubuwana VI yang mengakibatkan Pakubuwana VI dibuang ke Ambon, menjadikan hubungan Pakubuwana XI dengan Ranggaswarsita kurang harmonis.

Hal itu juga yang membuat PAkubuwana IX benci terhadap keluarga Mas Pajangswara. Padahal Mas Pajangswara ditemukan tewas mengenaskan karena siksaan yang ia terima di dalam penjara oleh Belanda.

Ranggaswati sendiri berusaha untuk memperbaiki hubungannya dengan Pakubuwana IX melalui persembahan naskah Serat Compotet. Pada tanggal 16 Maret 1893, Pakubuwana IX meninggal dan pemerintahannya pun berakhir, lantas tahta kerajaan digantikan oleh putranya.

Pakubuwana X

Suasana politik kerajaan yang stabil dan kemegahan tradisi sebagai tanda masa kejayaan pemerintahan Pakubuwana X.

Sejalan dengan perubahan plitik di Hindia Belanda, masa pemerintahan Kasunanan Surakarta yang di pimpin oleh Pakubuwana X mengalami transisi, dari kerajaan tradisional menuju kerajaan era modern dengan masa pemerintahan yang cukup panjang.

Pakubuwana X memberikan kebebasan dalam penerbitan media masa dan kebebasan berorganisasi, meskipun pada waktu itu sedang berada dalam tekanan politik pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Pakubuwana X juga mendukung pendirian salah satu organisasi pergerakan nasional yang pertama di Indonesia yaitu organisasi Sarekat Islam. Pada masa pemerintahannya juga mengadakan kongres Bahasa Indonesia I di Surakarta (1938)

Pada masa pemerintahan Pakubuwana X juga banyak membangun infrastruktur modern untuk Kota Surakarta seperti bangunan Pasar Gede, Stasiun Solo-Kota (Sangkrah), Stasiun Solo Jabres, Stasiun Sriwedari, Jembatan Jurug yang melintasi Bengawan Solo di timur kota, kebun binatang (“Taman Satwataru”) Jurug, Taman Balekambang, rumah pemotongan hewan ternak di Jagalan,  gapura-gapura di batas Kota Surakarta, rumah perabuan (pembakaran jenazah) bagi warga Tionghoa, dan  rumah singgah bagi tunawisma.

Pada tanggal 1 Februari 1939 Pakubuwana X meninggal dunia, ia juga di juluki sebagai raja besar Surakarta atau Sunan Panutup yang terakhir oleh rakyatnya. Kemudian tahtanya diganti oleh putranya yang bergelar Sri Susuhunan Pakubuwana XI.

Pakubuwana XI

Terjadinya pemerintahan Pakubuwana XI pada masa sulit, pasalnya ia memerintah bertepatan dengan terjadinya perang dunia kedua. Sejak tahun 1942 ia juga mengalami pergantian pemerintah penjajahan dari kekuasaan Belanda kepada Jepang.

Pakubuwana XII Masa Perjuangan Kemerdekaan

Awal Pakubuwana XII memerintah hampir bersamaan dengan lahirnya Negri Kesatuan Republik Indonesia. Praja Mangkunegara dan Kasunanan Surakarta sempat menjadi Daerah Istimewa di awal masa kemerdekaan (1945-1946).

Akan tetapi karena agitasi politik dan kerusuhan saat itu, maka pada tanggal 16 Juni 1946 oleh pemerintahan Indonesia status Daerah Istimewa diubah menjadi Karesidenan, menyatu di dalam wilayah NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Penetapan status Daerah Istimewa ini diberikan Presiden Soekarno sebagai balas budi atas pengakuan raja-raja Praja mangkunagara dan Kasunanan Surakarta yang menyatakan wilayah mereka adalah bagian dari Negara Kesatuan Republk Indonesia pada tanggal18 Agustus 1945

Pada tanggal 1 September 1945, Praja mangkunagara dan Kasunanan Surakarta mengirimkan maklumat kepada Presiden Soekarno mengenai pernyataan dari KGPAA Mangkunagara VIII dan Susuhunan Pakubuwana XII yang menyatakan bahwasanya Negri Surakarta Hadiningrat yang sebuah kepemimpinannya menganut kerajaan adalah Daerah Istimewa dari NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), dimana hubungan yang bersifat langsung antara Negeri Surakarta dengan pemerintah pusat Negri Kesatuan Republik Indonesia.

Atas dasar semua itulah, Presiden Soekarno memberikan pernyataan resmi terhadap Susuhunan Pakubuwana XII dan KGPAA Mangkunegara VIII dengan diserahkannya piagam kedudukan resmi.

 

Sumber – Ibnu Asmara

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed