by

SEHARI MENJADI SAMARIA YANG MURAH HATI

-Artikel-188 views

Kalau kita tekun membaca Kitab Suci dan mencermatinya banyak sekali perikop-perikop yang menarik yang pantas kita teladani dan hayati lewat perbuatan nyata. Dalam Perjanjian Lama misalnya kalau kita berbicara tentang ‘IMAN’ kita bisa meneladani ABRAHAM. Kalau kita bicara tentang ‘MEMAAFKAN’ kita bisa meneladani YUSUF anak YAKUB. Kalau kita bicara tentang ‘KESETIAAN’ kepada Allah kita bisa meneladani AYUB.

Nah, diantara banyak perikop yang menarik itu ada satu lagi yang menarik dan mengesankan bagi saya secara pribadi, yaitu perikop ‘ORANG SAMARIA YANG MURAH HATI’ (LUKAS 10:25-37). Melalui perumpamaan ‘ORANG SAMARIA YANG MURAH HATI’ ini sebenarnya Yesus ingin mengingatkan kita untuk peduli terhadap sesama, untuk mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri sendiri. Pesan untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri menjadi penting pada zaman now ini, dimana sikap egois dan individualis semakin mencuat yang mewarnai hidup di jaman modern. Ini adalah sifat yang tidak cocok atau tidak sesuai dengan sifat Allah. Allah adalah kasih ‘DEUS CARITAS EST’ dan manusia diciptakan sebagai gambar Allah ‘IMAGO DEI’. Semua manusia sama dimata Tuhan. Semua dicintai. Dan perutusan umat manusia adalah untuk saling mengasihi satu sama lain, tidak pakai embel-embel atau label. Hukum kasih Allah tidak mengenal sekat-sekat bahkan musuh atau orang yang pernah menyakiti kita pun harus tetap kita kasihi. Maka dalam konteks kasih Allah, tidak dikenal pemisahan, penggolongan, primodialisme. Sesama kita tidak boleh dibatasi hanya orang yang sama dengan kelompok saya: satu bangsa, satu suku, satu agama, satu golongan, satu partai, dll.

Nah dalam rangka mengasihi sesama tanpa melihat identitas, saya bersama isteri mempunyai pengalaman itu. Ceritanya begini: Suatu pagi, saya bersama isteri dengan naik vespa pergi ke salah satu kantor pemerintah di kota Solo untuk mengurus sesuatu. Namanya juga kota, pagi hari suasana jalan ramai sekali. Inilah jam sibuk ‘rush hour’, dimana para pegawai, karyawan-karyawati berangkat ke tempat kerja dan para pelajar berangkat ke tempat belajar masing-masing. Jalan jadi semrawut, tidak karuan. Suasana seperti itu sebenarnya bisa tidak terjadi kalau setiap pengguna jalan, tertib sesuai dengan ketentuan menggunakan jalan penuh kesadaran, tanggung jawab dan disiplin. Tetapi realitanya banyak orang menggunakan jalan seenaknya sendiri. Rambu lalu lintas tidak dipatuhi. Lampu merah diterabas. Belok tidak memberi tanda. Keluar dari gang kecil tidak berhenti dulu atau mengurangi kecepatan, tapi langsung weeesss tanpa tengok kiri kanan. Sekarang tambah lagi, berjalan atau naik motor atau setir mobil sambil ber-HP ria. Pokoknya berlalu lintas di negeri ini ngeri. Berkendaraan di jalan raya itu ibarat ‘MENGGADAI NYAWA’. Maka tidak mengherankan kalau terjadi banyak kecelakaan lalu lintas.

Nah, pagi itu saat saya dan isteri dalam perjalanan, kami melihat kecelakaan yang terjadi persis beberapa meter di depan kami. Kecelakaan lalu lintas atau tabrakan ini terjadi antara becak dan sepeda motor. Peristiwanya terjadi di jalan sebelah barat stadion Sriwedari Solo. Ada sebuah becak yang ditarik oleh seorang bapak yang sudah tua, berperawakan kurus. Becak ditumpangi oleh tiga cewek remaja. Becak jalan dari gang kecil menuju jalan besar agak menanjak sehingga jalannya pelan sekali. Dari arah utara jalan besar, ada sepeda motor yang dinaiki dua cowok yang ugal-ugalan, kencang dengan mempermainkan gas sehingga suaranya meraung-raung. Dua cowok ini mestinya melihat becak keluar dari mulut gang mengurangi kecepatan. Eh, ternyata tidak. Bisa diduga apa yang terjadi, motor menabrak becak. Cewek remaja penumpang becak dan bapak penarik becak terlempar semua. Ketiga cewek remaja tidak mengalami cedera atau luka. Bapak penarik becak yang pingsan, tak sadarkan diri dan mengeluarkan air liur dari mulutnya. Kedua cowok juga jatuh dari motornya. Yang butuh pertolongan serius adalah bapak penarik becak. Nah, disini saya diuji apakah saya dan isteri adalah ‘pendengar firman’ atau ‘pelaku firman’? Pada saat seperti itu, saya teringat perikop tentang ‘ORANG SAMARIA YANG MURAH HATI’. Maka kami berdua memutuskan untuk menolong bapak penarik becak. Saya menyetop sebuah mobil pickup untuk membawa bapak penarik becak ini ke RS. Brayat Minulyo. Kedua cowok juga kami ajak ke RS. Sesampai di RS, saya buka dompet bapak penarik becak untuk mengetahui domisilinya di KTP. Ternyata bapak penarik becak adalah orang Sukoharjo. Di dompet bapak penarik becak ada satu lembar uang Rp. 2000,00 (dua ribu rupiah), tembakau dan kertas untuk melinting rokok. Bapak penarik becak langsung ditangani dan dirawat. Namun apa yang terjadi, saya dan isteri serta kedua cowok penabrak harus tinggal di RS menunggu sampai kedua orangtua mereka datang. Sore hari sekitar jam 17.00 WIB, kedua orangtua mereka baru datang. Lalu saya menceritakan proses terjadinya kecelakaan kepada orangtua dan pihak RS serta di depan kedua cowok tersebut. Orangtua bisa menerima semuanya. Mereka mau bertanggungjawab membiayai semua perawatan bapak penarik becak. Baru setelah klarifikasi selesai, saya dan isteri bisa pulang. Karena menolong bapak penarik becak, urusan kami sendiri tidak selesai. Urusan baru kami selesaikan hari berikutnya. Urusan sendiri terbengkalai, namun ada perasaan bahagia bisa menolong bapak penarik becak.

 

Penulis: Ph. Ispriyanto.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

1 comment

News Feed