by

SAAT SAKIT, CINTA TUHAN BERLIMPAH

-Artikel-35 views

Segala sesuatu di dunia ini selalu terdiri dari 2 (dua) sisi. Mulai dari fenomena alam seperti matahari terbit dan terbenam, musim hujan dan musim kemarau, gelap dan terang, dll. Hidup manusia juga diwarnai oleh sisi yang silih berganti. Suatu saat orang mengalami hidup yang menggembirakan. Pada saat yang lain mengalami hidup yang menyedihkan. Suatu saat sukses, pada saat yang lain gagal. Jadi hidup manusia mengalami up and down. Hidup manusia seperti roda yang berputar. Ada saatnya di atas, pada saat lain di bawah. Ya, begitulah dinamika hidup manusia. Demikian juga kalau kita berbicara tentang kesehatan. Ada sisi sehat dan sakit. Pasti semua orang tidak ingin sakit alias ingin sehat. Maka untuk mewujudkan hidup sehat, berbagai dan upaya dilakukan, mulai berolahraga, istirahat yang cukup, makan makanan yang bergizi, dll. Meski sudah mengupayakan cara hidup sehat, rasanya orang tetap pernah mengalami sakit, entah ringan entah berat. Yang namanya sakit meski ringan sekalipun pasti ada rasa yang tidak mengenakkan. Apalagi sakit yang berat atau sakit yang lama, bisa membuat orang stres atau putus asa karena tidak bisa melakukan kegiatan sehari-hari. Apalagi yang harus berbaring terus di tempat tidur, pasti ada rasa jenuh dan bosan.

Saya adalah termasuk orang yang sering sakit. Sejak saya ada di bangku SMA hingga saat ini, saya prosentase kondisi sehatnya lebih kecil daripada kondisi sakit. Sakitnya pun beragam. Ada sakit yang karena kecelakaan pada waktu main sepak bola. Itu terjadi pada waktu saya duduk di kelas 3 (tiga) SMA Kolese De Britto. Peristiwa itu terjadi hanya beberapa saat menjelang ujian, sehingga saya tidak bisa ikut ujian karena saya sedang opname setelah menjalani operasi lutut. Waktu itu tidak ada ujian susulan. Maka saya menjadi alumnus angkatan 69 dan 70. Sejak kaki di operasi itulah, saya banyak diakrabi penyakit karena sejak saat itu saya menjadi kesulitan berolahraga. Padahal sebelumnya saya rajin berolahraga main sepak bola, renang, badminton dan bela diri.

Menjalani hidup dalam keadaan sakit dalam jangka waktu yang lama, terkadang terasa menyesakkan. Lebih-lebih pada saat bagian yang sakit itu intensitasnya sedang meningkat. Kalau orang sakit hanya berfokus pada sakitnya memang bisa stres dan putus asa. Tetapi sebenarnya pada saat sakit ada yang mesti disadari bahwa pada ‘Saat sakit, cinta Tuhan berlimpah’. Ya, cinta Tuhan sungguh berlimpah pada saat orang sakit. Cinta Tuhan itu hadir lewat perhatian orang lain, saudara, teman, sahabat, dan lainnya lewat kunjungan mereka. Bukankah orang yang berkunjung itu membawa cinta Tuhan, sebagaimana dilakukan oleh orang Samaria yang baik hati, yang menolong orang yang jatuh ke tangan penyamun (Lukas 10:25-37).

Sebagai orang yang sering sakit, saya banyak menerima cinta Tuhan lewat orang yang mengunjungi saya. Pada saat saya operasi lutut di RS Panti Rapih, setiap minggu saya selalu dikunjungi oleh Romo Koelman SJ sebagai romo pamong. Beliau membawakan bacaan-bacaan berbahasa Inggris seperti Catholic Digest, yang sampai sekarang masih saya simpan di rumah. Juga dikunjungi oleh saudara, tetangga, teman dan kerabat lainnya.

Saat saya tinggal di Solo karena mata pencaharian di sana, saya juga mengalami sakit dan harus opname 2 (dua) kali di RS Brayat Minulyo. Opname pertama selama 10 (sepuluh) hari dan opname kedua selama 5 (lima) hari. Lagi-lagi cinta Tuhan berlimpah untuk saya, melalui kunjungan saudara bahkan dari luar kota, tetangga, teman lingkungan, teman sepelayanan di gereja dan murid-murid. Di antara kunjungan tersebut ada kunjungan special yang sampai saat ini tidak pernah terlupakan. Kunjungan itu adalah kunjungan ‘Lily’ (bukan nama sebenarnya), salah seorang murid saya. Saya menyebut kunjungan Lily special karena Lily mengunjungi saya setiap hari selama opname saya yang pertama. Lily mengunjungi saya setelah selesai berkeliling berjualan ‘gorengan’ untuk membantu ibu Lily, lebih tepatnya menggantikan ibu Lily yang sudah tua dan tidak sanggup berkeliling lagi. Lily selalu menemani saya cukup lama.

Sekarang sakit saya adalah lutut. Saya mengalami OA sehingga mengalami kesulitan berjalan. Sejak kena OA, semua kegiatan atau pelayanan saya lepas karena kondisi kesehatan tidak mendukung. Lebih-lebih aspek mobilitasnya. Kalau bepergian saya menggantungkan diri pada orang lain, anak atau teman. Saya pun kalau berjalan memakai alat bantu. Pergi kemana-mana teman setia saya adalah alat bantu alias teken. Dalam kondisi seperti itu, Tuhan lebih mencintai saya lewat orang yang tidak saya kenal. Pada saat saya menyeberang jalan sendirian, ada saja orang yang ringan tangan menyeberangkan saya. Mulai dari satpam, tukang parkir, penjual ketoprak Jakarta, dll. Meskipun kegiatan atau pelayanan yang mengandung tanggung jawab saya lepaskan, bukan berarti saya terus hanya tinggal di rumah saja. Saya tetap aktif mengikuti kegiatan yang tidak menuntut tanggung jawab namun besar faedahnya. Salah satu kegiatan yang saya ikuti yaitu ‘PCE’ (Personal Care Education). Seminar bulanan secara cuma-cuma yang diselenggarakan oleh Griya Konseling Solo, yang mempunyai misi ‘Menolong sesama agar dapat membangun’ dengan tema-tema seperti: The Meaning of Life, Marriage Enrichment, Empowering Others, dll. Dalam mengikuti kegiatan ini, saya di antar oleh anak saya naik motor atau di antar jemput teman.

Pernah suatu kali, saya di antar anak saya. Melihat saya kesulitan turun dari motor, petugas presensi dengan sigap membantu menurunkan saya sambil membawakan helm saya. Pernah juga suatu kali, saya pergi ke Yogya naik ‘Prameks’, bersama seorang teman untuk menghadiri reuni SMP seorang teman. Saya tidak mendapatkan tempat duduk, maka saya berdiri. Tak lama kemudian ada seorang cewek yang mempersilahkan saya duduk ditempatnya. Dia rela berdiri sampai Yogya. Sungguh cinta Tuhan berlimpah pada saat sakit.

 

 

Penulis: Ph. Ispriyanto.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed