by

Repost Sumber Jajanan Tradisional Bali dari Lokalitas dan Biodiversity

-Artikel-66 views

Kita rupa rupanya membutuhkan DA-LANG DAUR ULANG merepost tulisan Kita 2 tahun yang lalu, dan untuk membacanya, seyogyanya Kita membutuhkan minuman KOPI NGOPI bersama seruput dan celeguk celeguk Kopi Asli Indonesia, Kopi yang sebenarnya Kopi, sambil bincang bareng dan ngobrol asyik.

Semoga bisa menjadi rekomendasi JUGA untuk Sumber Bahan Gastronomy BALI KUNO MODERN KLASIK yang sedang ngetren baru baru ini.

Lᴏᴋᴀʟɪᴛᴀs ᴅᴀɴ ʙɪᴏᴅɪᴠᴇʀsɪᴛʏ.
*repost tulisan 2 tahun lalu.

Kemarin, tgl 17 Oktober 2020, di Rumah Intaran diselenggarakan diskusi tentang Jajanan Tradisional Bali Utara. Penyelenggaranya Koperasi Pangan Bali Utara.

Saya mendapat kehormatan menjadi salah satu nara sumber bersama 3 orang Buleleng yang lain yaitu bupati Putu Agus Suradnyana, arsitek Popo Danes dan enterpreneur Ni Luh Putu Ary Pertami Djelantik dengan moderator pemilik Rumah Intaran sekaligus sang kurator jajanannya, Gede Kresna.

Karena ada beberapa yang bertanya secara langsung kepada saya, maka materi yang saya sampaikan saya tuliskan saja ringkasannya disini.

Lᴏᴋᴀʟɪᴛᴀs.

Mengoptimalkan bahan-bahan lokal dalam mengkonsumsi pangan mempunyai keunggulan komparatif yang sangat penting dan bermanfaat dari berbagai aspek yaitu kesehatan, lingkungan, sosial dan ekonomi.

1. Makanan segar pasti melalui rute yang lebih pendek, atau semakin pendek rutenya akan semakin segar makanannya. Akan sangat berbeda kesegarannya kalau makanan datang dari tempat yang jauh, lebih-lebih kalau datang dari ujung dunia yang lain. Bahan pengawet bisa diaplikasikan dalam kasus begini, atau buah yang dipetik muda untuk memperpanjang kesegarannya dengan konsekwensi kualitas rasa akan jauh menurun. Banyak sekali juga bahan makanan yang kehilangan nilai gizinya kalau melewati proses transportasi yang panjang.

2. Semakin pendek jarak maka dampak buruk terhadap lingkungan akan semakin sedikit. Kita semua paham transportasi memberi kontribusi signifikan terhadap pencemaran lingkungan. Atau istilah sekarangnya meminimize carbon print. Faktor pendinginan yang tidak boleh terputus juga membutuhkan energi yang tidak sedikit. Transport yang panjang juga menjadikan packaging jadi diperlukan untuk keamanannya, ini soal yang lain lagi berupa limbah packaging.

3. Waktu yang pendek, disamping menjamin kesegaran bahan pangan, juga menghemat ruang penyimpanan.

4. Bahan pangan lokal akan memberi variasi jenis bahan pangan sesuai musim. Ini akan membuat pola makan jadi variatif dan kita semua tahu bahwa pola makan yang variatif sangat bagus untuk kesehatan.

5. Memperkuat ekonomi lokal. Dengan mengkonsumsi bahan pangan lokal, maka daya tahan ekonomi lokal semakin kuat dan ini menjadi benteng yang sangat bagus bagi masuknya para pemilik kapital besar yang jelas akan berdampak menggerogoti ketahanan perekonomian lokal.

6. Menjaga mekanisme tubuh. Tubuh kita bertumbuh dengan panganan-panganan lokal. Secara natural dan kimiawi tubuh sangat familiar dengan makanan-makanan itu. Makanan dari kawasan berbeda akan membuat tubuh harus melakukan adaptasi ulang, dan adaptasi tubuh itu jalannya sangat lambat secara waktu, semebtara dampaknya bisa sangat cepat seperti munculnya intoleransi tubuh terhadap bahan-bahan tertentu seperti lactosa intoleran, gluten intoleran dan juga berbagai jenis alergi.

7. Makanan adalah informasi tentang lingkungan bagi tubuh.

Bahan makanan bertumbuh dengan membawa informasi-informasi dari lingkungannya. Ketika kita konsumsi, selain sebagai energi, makanan juga membawa semua informasi tentang lingkungan yang melayaninya. Ketika lingkungan yang melayani kita mempunyai informasi yang sama dengan irama lingkungan yang melayani bahan makanan, maka tubuh akan mensinkronisasikannya dengan nyaman. Hal ini sangat terkait dengan kekebalan tubuh atau imunitas.

Kalau kita sempat menonton film avatar, akan sangat mudah memahami poin no 7 ini, dimana ada koneksitas imajiner antara tubuh dengan alam sekitar, semacam kesesuaian chemistry.

Para ilmuwan menamakannya dengan neuro imunologi.

Bɪᴏᴅɪᴠᴇʀsɪᴛʏ.

Peningkatan yang terus menerus dari impor gandum yang samasekali tidak kita tanam dan buah maupun sayuran subtropis adalah fakta nyata tentang adanya westernisasi dari pola makan kita.

Bahan makanan pokok kita seolah hanya bertumpu pada beras dan gandum.

Kedelai yang jadi bahan pokok tahu dan tempe yang jadi makanan kesukaan semua orang Indonesiapun sudah lalai untuk kita tanam dan kita harus impor juga kedelainya.

Padahal kita mempunyai jenis bahan makan pokok maupun buah dan sayur yang sangat kaya keragamannya.
Sagu, puluhan jenis keladi, singkong, ketela, sorgum, jali, jagung dan masih banyak lagi.

Buah dan sayur bahkan lebih banyak lagi variasinya. Biodiversity bahan pangan kita nyaris tidak terbatas variasinya.
Pemerintah harusnya punya peran penting disini dengan memberi edukasi dan sekaligus memberi contoh tentang arti penting serta manfaat bahan pangan lokal ini untuk kesehatan, lingkungan, ekonomi dan kohesi sosial.

Penguatan biodiversity akan mendorong pola bertani atau berkebun yang multikultur yang membuat kondisi tanah maupun lingkungan jadi jauh lebih sehat baik struktur tanah maupun rantai ekologinya.

Pola budidaya multikultur dan laku organik secara konsisten juga akan menjadi benteng pertahanan yang efektif terhadap gencarnya model pola tanam monokultur yang cenderung eksploitatif ekstrim dan biasanya tidak bisa dipisahkan dari pola pupuk, pestisida dan herbisida kimia.

Eksekutif dan legislatif juga harus membuat rencana tata ruang detail yang berorientasi penuh pada nilai-nilai lokal, masyarakat adat dan kaidah-kaidah lingkungan sebagai pijakan pasti dalam membuat perencanaan dan penataan Bali dan khususnya Buleleng.

Waduuh….lumayan panjang juga ya meski sudah diringkas….haha. Mudah-mudahan bermanfaat.

Oh iya…saat bicara terpaksa saya harus meminta maaf kepada yang duduk disebelah kiri saya karena tanpa sengaja dengan lantang saya sudah menyinggung soal obesitas…🤭
Cc Ayu Gayatri Kresna Tobing Crysnanjaya Dina Widiawan Gading Ganesha Kardian Narayana Werdi Bedol Daily Tamblingan .
Salam dari desa.

Penulis : Putu Ardana

Editor : Guntur Bisowarno

Kontributor