by

REFLEKSI ULANG TAHUN KU

-Artikel-216 views

Hidup merupakan anugerah yang sangat berharga dari Allah untuk manusia. Dengan hidup, banyak hal bisa dikerjakan. Maka hidup ini harus diisi dengan kebaikan-kebaikan atau hal-hal yang positif. Hal-hal yang tidak hanya berguna bagi diri sendiri tetapi juga bagi orang lain. Jadi hidup jangan asal hidup. Harus ada tujuan, ada misi. Maka hidup ini perlu direfleksikan. Tidak asal menggelinding. Sehubungan dengan refleksi tentang hidup, saya sangat terkesan dengan kata-kata bijak Socrates, filosof Yunani yang sangat terkenal. Ia berkata: ‘Hidup yang tidak pernah direfleksikan adalah hidup yang tidak pantas dihidupi’. Sungguh kata-kata yang bernas. Kita diminta untuk selalu merefleksikan hidup kita.

Kapan kita merefleksikan hidup kita? Kita bisa merefleksikan hidup kita pada moment istimewa seperti: pergantian tahun baru, ulang tahun kelahiran, ulang tahun perkawinan, dll. Saya sendiri mempunyai kebiasaan membuat refleksi atas hidup saya selama satu tahun yang telah lewat pada malam tahun baru. Melihat kembali apakah program yang dibuat pada malam tahun baru lalu bisa dilaksanakan? Bila bisa, saya syukuri. Bila belum, saya cari penyebabnya dan dijadikan pelajaran untuk memperbaiki hidup yang akan datang. Beberapa program yang pernah saya lakukan, misalnya: program kesehatan. Mengusahakan hidup sehat. Dengan lebih rajin olahraga. Makan yang sehat dan bergizi. Istirahat cukup. Pernah juga program memperbaiki relasi dengan anak didik di sekolah. Cara memperlakukan mereka. Dulu sebagai guru muda, saya dikenal sebagai ‘killer’. Ada jarak yang begitu jauh antara saya dan anak didik. Tetapi saya sadar akan hal itu. Dan itu saya anggap tidak baik. Lalu saya memperbaiki diri. Hasilnya sungguh luar biasa, sangat menggembirakan. Anak didik saya menjadi lebih dekat dengan saya. Relasi saya dan mereka menjadi akrab. Dulu saya yang dijauhi murid, sekarang menjadi didekati murid. Ibaratnya dulu seperti ulat yang menjijikkan, membuat gatal, merusak tanaman, saya sekarang menjadi kupu-kupu yang indah, membantu penyerbukan, enak di pandang. Saya bertransformasi dari ulat menjadi kupu-kupu, melewati proses menjadi kepompong lebih dahulu.

Semakin tambah usia saya, semakin sering saya melakukan refleksi atas hidup ini, demi hidup yang lebih baik. Esok hari harus lebih baik daripada hari ini. Berdasarkan konsep esok hari harus lebih baik daripada hari ini, saya selalu mengawali kegiatan dalam hidup harian saya dan mengakhirinya dengan berbekal kata-kata bijak Benyamin Franklin untuk refleksi: ‘Apa yang sebaiknya aku lakukan hari ini?’. Dengan cara seperti itu, saya menjalani hidup saya dengan kompas alias petunjuk arah yang jelas.

Moment refleksi yang lain, yang saya juga biasa saya lakukan adalah hari ulang tahun. Ada tiga hal yang saya lakukan pada saat ulang tahun. Pertama adalah syukur. Saya mengucap syukur kepada Tuhan atas hidup yang masih boleh saya nikmati. Kedua, merenungkan perjalanan hidup itu sampai saat ulang tahun. Ketiga, memohon berkat dan perlindungan Tuhan agar saya dimampukan menjalani hidup ke depan dengan baik.

Refleksi ulang tahun saya yang selalu muncul adalah ‘Mengapa Tuhan masih mengizinkan saya menjalani hidup ini?’. Ini merupakan pertanyaan besar bagi saya. Dari hasil refleksi atas pertanyaan itu, saya menemukan dua point atau alasan mengapa Tuhan masih mengizinkan saya menjalani hidup saya.

Pertama: Alasan Pertobatan.

Maksud saya, Tuhan masih memberi kesempatan pada saya untuk memperbaiki hidup saya. Saya sadar bahwa saya orang berdosa. Banyak hal yang saya lakukan yang tidak selaras dengan kehendak Tuhan. Salah satu contoh kelemahan saya yang menonjol adalah dendam. Kalau saya disakiti hati saya, saya pasti membalas. Dulu dengan murid, sering saya lakukan. Nah, dalam perjalanan hidup saya seiring dengan berjalannya waktu saya disadarkan oleh Tuhan, bahwa ini sesuatu yang tidak baik. Saya tersentuh dan sadar akan hal itu. Maka dengan terus mengolah hidup saya, semakin hari saya semakin bisa meninggalkan dendam saya. Ada sebuah pengalaman yang sangat mengesankan sehubungan dengan dendam ini. Suatu ketika ada seseorang yang menuduh saya melakukan sesuatu yang tidak benar. Saya marah. Dalam suasana marah itu, saya akan mengikuti perayaan ekaristi. Lalu saya ingat bahwa kalau mau ikut perayaan ekaristi dan masih dalam keadaan seperti itu, harus berdamai dulu dengan orang yang bermasalah itu. Saya menemui orang itu dan berdamai dulu, baru saya ikut ekaristi. Rasanya lega, baru berekaristi.

Kedua: Alasan ‘Kontribusi’.

Tuhan menciptakan setiap orang dengan cara yang unik, satu berbeda dengan yang lain. Namun, ada hal yang sama dari Tuhan, tiap orang diutus. Ada perutusan. Tiap orang perutusannya bisa berbeda-beda, sesuai dengan talentanya masing-masing. Di lingkup gereja, perutusan saya adalah dalam bidang ‘Pastoral Keluarga’, yang dulu disebut ‘Pendampingan Keluarga’ atau di Jakarta disebut ‘Kerasulan Keluarga’. Rupanya ini tugas yang Tuhan berikan kepada saya. Ditinjau dari beberapa tinjauan atau kajian kepribadian, memang itu sesuai dengan kepribadian saya. Dari Enneagram, saya orang tipe lima. Dari Hippocrates, saya orang flegmatik. Dari Genogram atau pohon keluarga, saya anak ketiga. Dari ketiga tinjauan kepribadian itu, semua mengatakan saya cocok untuk perutusan saya itu alias menjadi tukang mendengarkan ‘curhat’.

Sebagai penutup, marilah kita selalu merefleksikan hidup kita masing-masing, sehingga hidup menjadi lebih baik. Hidup menjadi bermakna dan bahagia.

 

Penulis: Ph. Ispriyanto.

Comment

Leave a Reply

News Feed