by

REFLEKSI MULUT

-Artikel-145 views

Mulut adalah satu organ tubuh yang sangat penting. Mengapa? Karena hanya dengan mulut kita bisa makan untuk mempertahankan hidup. Tanpa makan kita akan mati. Makan itu sangat penting. Jadi bisa dikatakan ‘makan untuk hidup’. Itu tujuan makan. Tetapi pada zaman now, banyak orang lebih-lebih yang berduit tidak sekedar makan untuk hidup tetapi berubah menjadi ‘hidup untuk makan’. Jadi sekarang ini ada dua kelompok orang yang menyikapi makan secara berbeda. Yang pertama, makan untuk hidup. Yang kedua, hidup untuk makan. Dampak dari dua cara menyikapi makan pun berbeda. Orang yang makan untuk hidup akan bersikap ugahari, sedang orang yang hidup untuk makan bersikap rakus. Orang kelompok pertama, makan secukupnya, apabila dirasa kenyang mereka akan berhenti. Tetapi orang kelompok kedua meski pun sudah kenyang masih terus makan. Secara nalar dan ditinjau dari segi kesehatan, orang kelompok pertama akan sehat, sedangkan orang kelompok kedua akan mengalami masalah kesehatan, kegemukan, sakit yang bermacam-macam. Maka mengontrol perilaku makan kita itu sangat penting. Jadi kita dengan kata lain mengontrol mulut kita karena 90% penyakit muncul dari tidak terkontrolnya mulut. Sampai disini saya berbicara mengenai mulut kaitannya dengan fisik atau tubuh. Jadi mulut bisa membuahkan kesehatan atau bencana dan sakit penyakit.

Berbicara mengenai bencana yang diakibatkan oleh mulut tidak saja menyangkut aspek fisik. Masih ada aspek lain, yaitu aspek sosial atau psikologis. Banyak masalah dalam hidup ini berangkat dari mulut dan menyebabkan bencana. Bencana alam membuat banyak kerusakan. Tetapi bencana sosial atau psikologis lebih dahsyat kerusakannya melebihi kerusakan alam. Kalau bencana alam bersifat sementara, misalnya yang terjadi di Kupang, hanya berlangsung dua hari. Bencana sosial atau psikologis berlangsung seumur hidup.

Penggunaan mulut yang tidak benar atau tidak baik bisa menimbulkan bencana sosial atau psikologis, antara lain:
Gosip atau bergunjing, yaitu: membicarakan kelemahan, kekurangan, kejelekan, aib orang lain pada saat yang digosipkan tidak ada dan biasanya cenderung dibesar-besarkan.
Fitnah denga tujuan menjatuhkan reputasi atau nama baik seseorang. Hal ini bisa muncul karena rasa iri. Memfitnah rekan kerja yang sukses supaya jatuh, dll. Di era medsos ini, banyak tulisan fitnah yang disebarluaskan melalui W.A.
Bohong, tidak berbicara dengan jujur dan benar tentang suatu kenyataan atau peristiwa atau seseorang. Mencibir, mengejek, merendahkan orang lain, dll.

Socrates berkata: ‘Hidup yang tidak pernah direfleksikan adalah hidup yang tidak pantas dihidupi’. Marilah kita masing-masing merefleksikan mulut kita masing-masing. Bagaimana kita menggunakan mulut kita? Apakah kita menggunakan mulut kita untuk hal-hal yang baik dan benar, sehingga menjadi berkat (benedictio)? Atau kita menggunakan mulut untuk hal-hal yang buruk, yang bisa menyebabkan bencana sosial atau psikologis? Mulut yang hanya dipakai untuk hal-hal yang buruk, menebar kebencian, tidak pantas menjadi mulut manusia. Manusia diciptakan sebagai gambar Allah (Imago Dei), secitra dengan Allah. Maka mulut adalah bagian dari citra Allah. Dengan demikian kita harus menggunakan mulut untuk menjadi berkat. Banyak hal yang bisa digunakan agar bisa menjadi berkat:
Tersenyum. Kita memberi senyuman kepada orang lain. Orang yang kita beri senyuman akan gembira. Orang tidak suka melihat wajah cemberut.

Memuji. Pujilah anak yang berprestasi, atas perubahan yang baik. Yang tadinya malas belajar, sekarang menjadi rajin bahkan berprestasi.

Mendorong atau menyemangati. Bila ada orang yang sedang menghadapi persoalan atau masalah dan putus asa atau tidak punya harapan. Ayo bangkit, hadapi masalahmu, jangan putus asa dan menyerah, kamu pasti bisa!

Mulut juga bisa kita gunakan untuk membicarakan rencana-rencana untuk meningkatkan kualitas hidup, kesejahteraan bersama dengan orang lain. Kita diciptakan sebagai makhluk sosial, maka kita membuat rencana bekerja bersama orang lain. Jangan menyombongkan diri saya bisa melakukan semuanya sendiri.

Sebagai mulut citra Allah, marilah kita gunakan mulut kita untuk memberitahukan kabar gembira bagi sesama dan untuk mewartakan kebaikan-kebaikan.

 

Penulis: Ph. Ispriyanto

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed