by

Realisasi RTLH dan Raskin di Desa Kunir – Rembang, Disinyalir Banyak Kejanggalan

Wartaindonews, Rembang – Pemerintah Desa (Pemdes) Kunir, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah (Jateng), mengalokasikan anggaran Rp130 juta (seratus tiga puluh juta rupiah) dari Dana Desa (DD), itu untuk merehab 13 unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Masing-masing RTLH mendapat Rp10 juta (sepuluh juta rupiah).

Pagi hari Jum’at, 29 November 2019, sekitar jam 08.49 lalu, Tim awak media mendatangi rumah yang terbuat dari anyaman bambu. Sebelum masuk, kami ucapkan ‘Kulo nuwun’ (permisi), ucapan kami disambut oleh Mbah sumirih (65). Kedatangan kami hanya memastikan informasi dari warga masyarakat Ds. Kunir. Setelah kami berbincang sama Mbah Sumirih, memang benar.

Pengelolaan anggaran untuk RTLH Ds. Kunir, memang salah sasaran, pasalnya, ada janda tua, miskin, sakit stroke, sudah 10 tahun tidak bisa kerja dengan keadaan yang memprihatinkan, makan sehari-hari saja tidak cukup. Tim media menanyakan tentang bantuan Beras Miskin (Raskin) dan RTLH, Sumirah menjawab,

” Oalah Mas, Kulo niku mboten angsal bantuan nopo-nopo, beras geh mboten, malah kolo emben pak Carik, dugi matur menawi ajeng angsal bantuan RTLH, kudu mbayar 6juta, nopo 7juta ngoten mas (dulu pak Carik datang ke rumah, kalau mau dapat RTLH, saya disuruh bayar 6 juta atau 7 juta,” jelasnya.

Nasib sama juga dialami Nyamini (68), warga Dusun Kunir, RT. 001/003, Ds. Kunir, Kec. Sulang, Kab. Rembang, Jateng. Janda tua yang hidup sebatang kara ini, tidak mendapatkan RTLH dan sama sekali tidak mendapatkan Raskin.

” Kondisi rumah saya yang terbuat dari bambu sangat memprihatikan Mas, kalau musim hujan bocor semua,” ucapnya.

Sementara itu, SN dan SNA, masih tetangga Sumirih, membenarkan adanya RTLH yang mau diberikan tidak jadi, lantaran tidak bisa memberikan uang yang diminta Oknum Sekretaris Desa (Sekdes) tersebut.

” Iya Mas, memang benar, Mbah Sumirih tidak dapat Raskin dan RTLH, padahal Mbah Sumirih sakit stroke sudah 10 tahun, rumah yang iya tempati, kalau musim hujan bocor,” ujar mereka.

Saat awak media mengkonfirmasi Sekdes setempat, “untuk Ds. Kunir, tahun ini ada 50 unit bedah rumah dan untuk Mbah Sumirih, memang kita prioritaskan, tapi Mbah Sumirih sendiri dan keluarga, kemarin sudah kita tawarin, tapi belum siap untuk tambahan uangnya dan untuk Raskin, Mbah Sumirih memang dari Dinas Sosial (Dinsos) belum dapat,” jelasnya.

Lebih mengejutkan adalah, salah satu warga (BW) Karangturi, RT. 4/2, Ds. Kunir, tanpa ijin dan sepengetahuan orangnya, tahu-tahu rumah direhab pada tahun 2018.

“Saat itu saya merantau di Jakarta, saya bukannya senang, tapi saya merasa keberatan dan kecewa, karena isi rumah berantakan, membongkar rumah orang tanpa ijin, sama saja sudah merusak hak orang lain, dalam hal ini saya sangat dirugikan, karena perabotan rumah tangga hilang, kompor,Sanyo, dan lain-lain,” pungkasnya. (Red)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed