by

Rakernas HPK, Brigjend Pol R. Achmad Nurwakhid Minta HPK Ikut Aktif Mewujudkan Harmoni Nusantara

-Artikel, Daerah-169 views

Malang, 10 Februari 2024. DPP Himpunan Penghayat Kepercayaan (HPK) Terhadap Tuhan Yang Maha Esa menggelar Rakernas dan Rapimnas di Aula Lanal Malang, Jawa Timur, Kamis siang (8/2/2024).

 

Dalam kesempatan itu, dihadiri secara langsung Dewan Pembina HPK yang sekaligus sebagai Direktur deradikalisasi BNPT Brigjen Pol R. Achmad Nurwakhid.

 

Dalam orasi budaya, Achmad Nurwakhid menegaskan HPK harus ikut serta mewujudkan harmoni nusantara. Yakni terciptanya Indonesia yang bebas dari ancaman bahaya radikalisme dan intoleransi.

 

“Lewat forum Rakernas dan Rapimnas kami berharap HPK bisa ikut berperan aktif dalam mewujudkan harmoni nusantara,” ujar Achmad Nurwakhid.

 

Menciptakan harmoni nusantara, kata Achmad Nurwakhid maksudnya menegakkan kembali konsensus bersama yang sudah digagas oleh para pendiri bangsa Indonesia yakni kembali pada Pancasila dan UUD 1945.

 

Mengingat bangsa Indonesia merupakan bangsa yang besar. Indonesia memiliki ribuan pulau dan beragam suku bangsa akan tetapi hingga saat ini tetap bisa bersatu.

 

Semua itu kuncinya karena bermuara pada Pancasila dan UUD 1945, NKRI harga Mati.

 

“Pancasila susah terbukti menyatukan bangsa Indonesia. Kami yakin Ideologi bangsa ini yang akan ditiru oleh negara negara di dunia. Karena sudah bisa menyatukan bangsa ini ,” beber Achmad Nurwakhid.

 

Nurwakhid mencontohkan di luar negeri seperti negara Afganistan yang hanya ada 7 etnis. Namun kenyataannya negaranya terjadi perang yang tak kunjung selesai hingga saat ini.

 

Demikian pula dalam sejarahnya bangsa Arab yang hanya satu bangsa namun bisa pecah menjadi 21 negara. Diantaranya Uni Emirat Arab, Yaman, Kuwait, Mesir, Aljazair, Irak dll.

Demikian pula di Indonesia dalam sejarahnya sedikitnya terjadi 15 kali sejarah pemberontakan. Diantaranya pemberontakan PKI di Madiun 1948, Gerakan G 30 S PKI 1965, hingga pemberontakan dengan dalih mau mendirikan negara Islam (khilafah islam) yakni Pemberontakan DI/TII Kartosoewirjo di Jawa Barat pada tahun 1949.

 

“Tapi faktanya semua pemberontakan ini hasilnya gagal. Dan kembali ini menjadi bukti kokohnya Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara Indonesia,” beber Nurwakhid.

 

Jadi, lanjut Nurwakhid, HPK harus mampu menjadi penetralisir untuk mendamaikan bangsa yang terindikasi akan terjadi konflik di masyarakat. Sehingga perpepecahan sesama anak bangsa atau gerakan radikalisme bisa dicegah.

 

Karena pada dasarnya semua agama di Indonesia ingin menciptakan kedamaian. “Pada dasarnya kalau ada pelaku yang melakukan radikalisme hanyalah oknum yang mengatasnamakan agama,” tutur dia.

 

Terakhir, Nurwakhid menegaskan, Negara harus hadir untuk menjamin kebebasan beragama. Untuk itu, siapapun yang menganut agama dan kepercayaan Tuhan Yang Maha Esa harus mendapatkan perlindungan dalam menjalankan ibadah dan keyakinannya masing-masing dalam sebuah harmoni nusantara.

 

Sementara itu, Ketua Umum HPK DR. Hadi Prajoko menambahkan Bangsa Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya. Data HPK, ada 1638 paguyuban dan 38 masyarakat adat.

 

Mereka ini berbeda budayanya dan bahasa daerahnya.

 

“Lewat momentum ini mari warisan leluhur jangan sampai dilupakan. Budaya masyarakat adat jangan sampai tergerus budaya luar,” kata Hadi.

Hadi menegaskan sejatinya bangsa ini sebelum Indonesia merdeka keberadaan masyarakat adat sudah lahir duluan. Ini menunjukkan bahwa bangsa, meski berbeda suku dan agama serta ras tapi bisa hidup rukun dan damai.

 

“Hidup rukun dan Gotong royong menjadi warisan budaya leluhur hingga sekarang yang masih dipertahankan,” tutur Hadi Prajoko.

 

Sementara itu, ketua Panitia Ki Suroso juga menambahkan kegiatan rakernas dan rapimnas DPP HPK ini diikuti perwakilan paguyuban dan masyarakat adat di seluruh Indonesia. Jumlahnya peserta yang hadir sekitar 500 orang. Acara ini sendiri akan berlangsung selama tiga hari dan akan berakhir pada Sabtu 10 Februari 2024. “Besok akan digelar juga bantengan di pendopo Kabupaten Malang,” tandas Suroso. (Galih)

 

Editor : Guntur Bisowarno

Kontributor