by

Politik Kumpul Kebo

-Artikel-395 views

Wartaindonews — Orang Indonesia menyebut pasangan yang tinggal bersama, serumah meskipun tidak menikah dengan istilah “kumpul kebo”. Cara hidup seperti itu, dahulu, disebut koempoel gebouw. Dalam bahasa Belanda, gebouw berarti bangunan atau rumah. Jadi koempoel gebouw artinya adalah berkumpul di bawah satu atap rumah.

Tetapi, telinga orang kita menangkap kata gebouw sebagai  kebo. Maka perilaku yang ditunjukkan oleh laki-laki dan perempuan yang memutuskan hidup bersama dalam satu rumah tanpa ikatan pernikahan disebut kumpul kebo.

Mengapa disebut “kumpul kebo?” Sebenarnya, sebutan tersebut ingin menganalogikan perilaku manusia yang seperti binatang: tinggal dalam satu atap tanpa ikatan resmi. Dengan demikian, sebutan tersebut sebenarnyalah bernada miring, negatif terhadap perilaku orang  yang hidup bersama tanpa adanya ikatan yang sah.

Dalam dunia politik istilah “kumpul kebo” pun ada, yakni yang disebut cohabitation. Kata ini pinjaman dari bahasa Latin lewat bahasa Inggris: dari cohabitare (tinggal bersama) menjadi cohabitation. Istilah tersebut muncul pada tahun 1983, dua tahun setelah terpilihnya François Mitterrand sebagai presiden (1981-1995).

Kohabitasi politik adalah suatu bentuk pengaturan pemerintah antara presiden eksekutif dan perdana menteri yang berasal dari partai lawan. Orang Perancis menyebut pengaturan ini La cohabitation. Dan, di Perancis lah kohabitasi menjadi konsep politik setelah Konstitusi Republik Kelima diadopsi. Kohabitasi sangat berbeda (bahkan kontras) dengan sistem co-rule atau sistem politik yang disebut diarchy di mana dua penguasa menjalankan kekuasaan setara (Ameen Izzadeen, Daily Mirror, 2018).

Selain itu, kohabitasi juga berbeda dengan berbagi kekuasaan (power-sharing), seperti misalnya di Irlandia Utara: menteri pertama Protestan dan deputi menteri pertama Katholik dengan kekuasaan yang memiliki kekuasaan yang sama. Di negara-negara seperti Lebanon dan Irak, power-sharing dilakukan berdasarkan etnik di mana jabatan presiden, perdana menteri, dan ketua parlemen didistribusikan kepada pada pemimpin kelompok etnik yang berbeda.

Tentu, bukan atas dasar seperti di Perancis, atau Irlandia Utara, atau Lebanon, atau Irak, kalau  konsep “kumpul kebo” diterapkan dalam kabinet mendatang. Penyusunan kabinet adalah hak prerogatif presiden. Tetapi, tentu, presiden pun dalam menyusun kabinetnya mempertimbangkan masa depan negara, yang sekarang karena pemilu presiden Indonesia “seperti” terbelah, terpecah.

Karena itu, kalau urusan kepentingan nasional, kalau persatuan dan kesatuan negara yang bhinneka, yang berdasarkan Pancasila, UUD 1945, dan yang berbentuk NKRI, menjadi yang pertama dan utama, maka bukan tidak mungkin politik “kumpul kebo” itu akan dilakukan. Artinya kebinet baru tidak hanya akan memberi tempat kepada para wakil dari partai pendukung, tetapi juga wakil dari “partai sebelah,” tentu secara proporsional.

Kalau orang “berkumpul kebo,” hidup bersama tanpa ikatan nikah, (mungkin) karena cinta, maka dalam hal kabinet maka “kumpul kebo” itu dilakukan karena didasari rasa cinta pada tanah air, kepada nusa dan bangsa, kepada kebhinnekaan, kepada Pancasila, kepada UUD 1945, kepada NKRI.

Apakah kalau politik “kumpul kebo” diambil dan lahir kabinet “Kohabitasi” itu adalah sebuah kekalahan Jokowi? Tidak! Sama sekali tidak! Ini adalah langkah bijaksana seperti yang terkandung dalam tembang Mijil:

Dedalane guna lawan sekti

kudu andap asor

wani ngalah luhur wekasane

…..

(Terjemahan bebas: cara untuk menjadi orang yang berguna dan sakti; hendalah selalu rendah hati; berani mengalah akan memperoleh keluhuran di akhirnya nanti).

Akan tetapi, hanya orang yang memiliki kerendahan hati yang bisa melakukan dan menghayati tembang itu. Kerendahan hati atau ‘humility‘ berasal dari kata ‘humus‘ (Latin), artinya tanah/ bumi. Jadi, kerendahan hati maksudnya adalah menempatkan diri ‘membumi’ ke tanahKerendahan hati juga disebut sebagai ‘ibu’ dari semua kebajikan. Sebab, kerendahan hati,  melahirkan ketaatan, takut akan Tuhan, dan penghormatan kepada-Nya, kesabaran, kesederhanaan, kelemah-lembutan dan damai.

Karena itu, benar yang dikatakan oleh sejarawan dari Irlandia, William Edward Hartpole Lecky (1838–1903), “Satu pelajaran paling penting dari pengalaman adalah kesuksesan itu ditentukan oleh karakter, bukan oleh kemampuan intelektual atau keberuntungan.” (*)

 

Sumber: triaskun.id

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed