by

Perlindungan Anak – Kisah Peduli Seorang Mahasiswi Yang Bukan Anggota KPAI Kepada Anak-anak Jalanan

-Artikel, Kisah-170 views

Wartaindonews — Ini kejadian tahun 2010. Seorang anak kecil datang menghampiri saya dan menawarkan payung untuk saya bisa menerobos hujan keluar dari stasiun BusWay.

Saya tersenyum menerima payung itu. Saya tahu anak itu menawarkan jasanya untuk uang receh. Di tengah hujan lebat, anak itu berjalan dibelakang saya. Saya memperhatikan anak itu basah kuyup.

Ada rasa kemanusiaan untuk menariknya dekat dengan saya agar terlindung dari hujan. Anak itu berusaha menolak namun saya merangkul pundaknya. Dia ber-sedekat dengan saya. Saya bertanya kepada anak itu.

“Kamu sekolah?”
“Ya pak.“
“Kelas berapa?”
“Kelas 5 SD”

Saya perhatikan postur tubuhnya tidak seperti anak kelas 5 SD. Postur tubuhnya seperti anak kelas 2 SD karena kurus dan kecil.

“Ada berapa orang kamu bersaudara, nak?”
“Saya hanya sendiri”
“Oh kamu anak tunggal?”
“Engga tahu, pak. Sedari kecil saya tidak tahu siapa ayah ibu saya.”
“Jadi kamu tinggal dimana?”
“Dibawah kolong itu “ katanya sambil menujuk arah jembatan layang.
“Siapa yang masukin kamu sekolah?”
“Ada kakak kakak yang antar saya masuk sekolah”
“Siapa yang bayar uang sekolah kamu?”
“Sekolah engga bayar pak. Gratis“
“Beli buku, gimana?”
“Ada kakak kakak yang sering datang ketempat saya tinggal bawain buku.”
“Sekolah kamu jauh dari tempat tinggal kamu?”
“Jauh pak, di Jelambar.”
“Naik apa ke sekolah?”
“Jalan kaki pak.”
“Terus makan kamu gimana?”
“Saya ngamen, cari botol plastik.“

Pembicaraan itu terhenti ketika saya sampai di depan Citraland Mall. Saya member uang kepada anak kecil atas jasanya meminjamkan payung. Anak itu menyalami saya sambil mencium tangan saya. Dia tersenyum senang ketika pergi menjauh dari saya.

Usai urusan di Citraland jam 9 malam, hujan masih turun rintik rintik, dan saya bertahan di pinggir jalan untuk mendapatkan taksi yang kosong.

Pada saat itulah mata saya melihat ke arah bawah kolong jembatan layang.

Ada seorang wanita sedang bersama sama anak anak kecil. Wanita itu kalau dilihat dari penampilannya dia bukanlah wanita tunawisma. Dia dikelilingi oleh anak anak jalanan. Rasa ingin tahu saya mendesak saya untuk mendatanginya.

Salah satu anak yang ada disekitar wanita itu ada yang mengenal saya. Anak itu tersenyum mendekati saya.

“Itu kakak “ katanya menunjuk kearah wanita itu.
“ Tadi Uli, cerita kesaya bahwa dia bertemu dengan orang yang kasih uang banyak,” kata wanita itu tersenyum.
“Ternyata bapak ya,“ sambungnya.
“Saya kasih dia Rp. 50 ribu.“
“Itu besar sekali bagi mereka pak“
“Jadi yang dimaksud anak itu kakak, adalah kamu ya. Kamu siapa?”
“Saya hanya hamba Tuhan yang tergerak membantu mereka belajar dan meng advokasi mereka mendapatkan hak pendidikan gratis dari pemerintah“
“Tapi kenapa malam malam begini ?
“Hanya malam seperti inilah saya bisa mengajar mereka. Karena siangnya mereka harus bekerja mengais rezeki dibelantara kota. “
“Kamu hanya sendiri”
“Ya, tapi biasanya sama teman. Tapi karena hujan mungkin mereka berhalangan datang”
“Pekerjaan kamu apa?”
“Saya mahasiswa pak.”
“Kamu tidak takut dilingkungan seperti ini, apalagi malam hari?”
“Tidak pak. Saya yakin Tuhan bersama saya. Saya datang dengan cinta untuk mereka. Mungkin saya tak mampu merubah kehidupan mereka sekarang tapi lewat pengetahuan yang saya berikan setidaknya mereka bisa berharap untuk hari esok yang lebih baik.“

Saya merasa kecil dihadapan wanita itu. Tak takut dengan segala resiko seperti seramnya cerita kehidupan tunawisma.

Dia bukan anggota KPAI yang dapat gaji dari negara untuk melindungi anak terlantar dan anak jalanan. Dia ikhlas.

Saya yakin masih banyak anak muda seperti wanita itu. Yang berbuat dalam sunyi. Menurut data Kemensos tahun 2018, ada 16 ribu lebih anak jalanan, yang benar benar terlantar tanpa perlindungan. Itu belum termasuk anak anak dari keluarga miskin yang tidak mendapatkan perlindungan sepantasnya.

Karena ayah pergi entah kemana atau ibu pergi entah kemana. Tentu totalnya akan sangat besar. Bukan tidak mungkin sehari hari mereka di exploitasi oleh orang dewasa.

Solusinya bagaimana?
Di China tahun 80an sampai tahun 2003 masih banyak anak jalanan di kota kota besar. Tapi sejak tahun 2008 sudah bersih semua kota dari anak jalanan.

Mengapa? Pemerintah pusat menggelontorkan dana sangat besar melalui kepala Daerah untuk program perlindungan anak. China menghukum pidana kepala distrik kalau ada anak jalanan atau anak terlantar. Bahkan kalau sampai ada anak kelaparan dan meninggal, maka bupati harus mundur.

Kalau ada anak usia sekolah tapi ketahuan tidak sekolah karena di exploitasi oleh orang tua untuk bekerja maka orang tua di pidana dan anak diambil oleh negara. Bagi China, masalah anak terlantar tidak diselesaikan dengan seminar dan wacana.

Tetapi dengan hukum. Negara harus hadir ditengah tengah ke-tidak-adilan terhadap anak.

Kalaulah anggaran KPAI dan 30% anggaran DPR di penggal untuk program menyelesaikan 16.000 anak terlantar, saya rasa sudah engga ada lagi anak jalanan. Tapi negara memang terlalu sibuk membentuk lembaga untuk menghidupkan wacana tanpa masuk kemasalah substansi, yang menyelesaikan masalah dengan cepat dan tegas. (Erizeli Jely Bandaro/RNS)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed