by

Pemuka Agama dan Pemilu 2019 – Halaman 3

-Artikel-367 views

Wartaindo.news – Tradisi kenabian di Indonesia sesungguhnya sudah lama tumbuh, bahwa semua ciptaan adalah pancaran Tuhan, semua mahluk Tuhan adalah keluarga Tuhan. Keragaman yang dimiliki bangsa ini sesungguhnya adalah anugerah Tuhan. Keanekaragaman adalah rahmat yang harus disyukuri, dan setiap umat beragama dipanggil senantiasa menebarkan persaudaraan sejati dan nilai-nilai kemanusiaan, menjadi saudara dan saudari bagi orang lain serta menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Namun kesadaran akan keberagaman dan koeksistensi damai tidak akan tercipta tanpa adanya komunikasi yang terbuka dan kemauan untuk membangun persaudaraan yang inklusif. Persaudaraan yang saling menghargai bukan melukai, yang merangkul bukan memukul, yang mencari solusi bukan mencari sensasi. Memupuk kesadaran itu dan melakukan perjumpaan menjadi penting untuk merajut toleransi dan meluruskan distorsi kognitif yang menutup ruang dialog.

Toleran karena perjumpaan, intoleran karena tidak mau saling mengenal. Kita sadar bahwa di lingkungan yang intoleran terhadap perbedaan terutama dalam urusan keyakinan dan agama, bibit radikalisme sangat potensial tumbuh dan berkembang. Manusia itu cenderung memisah-misahkan, sedangkan Allah itu menyatukan. Maka hubungan antaragama mestinya bukan relasi antitesis dan apologisme, tetapi dialog kehidupan dan kemanusiaan. To be religious is to be interreligious.

Para pemuka agama mempunyai peran vital, menjadi tokoh sentral dalam merawat keberagaman dan memperkuat nilai-nilai kebangsaan, bukan memperuncing perseteruan. Jika para pemuka agama dapat berperan sebagai nabi cinta kasih dan pelayan pendamaian, maka seluruh keanekaragaman ini dapat disatukan untuk membangun, memajukan, dan menyejahterakan Indonesia, mencapai bonum commune (the common good) dalam masyarakat. Bonum commune hanya dapat terwujud bila tiap individu dalam masyarakat itu saling berinteraksi tanpa kebencian dan bekerjasama satu sama lain dalam kebaikan. Harapannya itu menjadi habitus baru dan menjadi pendasaran moral bagi perilaku setiap warga negara.

Kita semua mesti belajar berinteraksi sosial tanpa mencederai salah satu pihak, golongan, maupun agama. Silaturahmi kebangsaan dan srawung kemanusiaan membangun jalan dan taman kerukunan untuk menyuburkan moderatisme dan memandulkan radikalisme. Saya jadi teringat apa yang ditulis oleh almarhum Gus Dur dalam pengantar sebuah buku, “kebenaran yang tak terorganisasi bisa dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisasi”. Jika
orang-orang baik berdiam diri dan tidak berbuat apa-apa, maka kebathilan akan menang.

Inilah tantangan kita semua sebagai makhluk berakal dan berakhlak untuk menjalin harmoni dan mengupayakan kebaikan bersama. Kerukunan tidak bisa dibeli, tapi diciptakan. Kita yakini agama merupakan bagian esensial dalam sebuah negara. Kehidupan berbangsa-bernegara yang ingin kita bangun adalah kehidupan beragama yang pancasilais sekaligus kehidupan Pancasila yang beragama. Setiap institusi agama dengan fungsi profetik yang diembannya harus mampu merajut damai dan mewujud-nyatakan secara konkret keadilan, damai dan cinta kasih dalam realitas dunia. Menjadi kesadaran laten untuk “mengundang Tuhan” (invocatio Dei) dalam kehidupan bernegara, sehinga laku hidup bermasyarakat dan berpolitik menjadi refleksi iman dan pertobatan. Amal kasih diungkapkan dalam tindakan praktis konkret, sehingga kebaikan yang dilakukan itu laksana bunga indah yang bisa dilihat orang buta dan nyanyian indah yang bisa didengar orang tuli.

 

Penulis – Ruddy Nararyo Saroyo

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed