by

PAPA DIMANAKAH ENGKAU???

-Artikel-170 views

Saya pernah mengajar les privat bahasa Jerman pada seorang siswi SMA terkenal di kota saya. Sebut saja namanya ‘Kenanga’ (bukan nama sebenarnya). Di mata saya, Kenanga adalah sosok pribadi yang menarik, banyak kualifikasi yang baik atau positif padanya. Kenanga sopan dan pandai. Meskipun anak orang kaya tetapi tidak sombong, cantik lagi. Ternyata dibalik kepribadian Kenanga yang serba menyenangkan dan positif itu, Kenanga menyimpan duka yang dalam di hatinya. Kenanga anak dari keluarga broken home. Perceraian terjadi sudah sejak lama, yaitu pada waktu Kenanga masih dalam kandungan. Sampai sekarang Kenanga tidak pernah berjumpa dengan Papanya. Kenanga tinggal dan dititipkan pada Opa dan Oma yang sudah tua. Mama Kenanga tinggal di kota lain bersama suami barunya. Sejak Kenanga berani cerita atau curhat pada saya tentang situasi kehidupan keluarganya dan usaha kerasnya untuk mencari tahu dimana keberadaan Papanya, saya menjadi tersentuh dan terharu. Setiap bercerita air mata selalu menetes di pipi Kenanga. Ada niat pada diri saya untuk membantu Kenanga menemukan Papanya. Tetapi bagaimana caranya? Pasti tidak mudah. Belum tentu berhasil juga. Tetapi paling tidak saya mau menunjukkan simpati dan empati saya. Untuk itu saya lebih banyak menggali informasi dari Kenanga. Pernah saya ajukan pertanyaan: ‘Apakah Mama Kenanga tidak menunjukkan Papa kepada Kenanga?’. ‘Tidak pernah Pak Is. Mama membohongi saya dengan mengatakan bahwa Papa sudah meninggal. Tetapi kalau Mama saya minta menunjukkan dimana kuburan Papa selalu tidak mau’. ‘Kenanga, apakah kamu tidak punya gambaran Papa itu seperti apa, dengan melihat foto-fotonya?’ tanya saya lebih lanjut. ‘Semua foto yang ada Papa sudah dibakar sebelum lahir oleh Mama. Pendeknya semua barang Papa harus ‘out’ dari rumah, tidak ada yang tersisa. Begitulah ungkapan dan luapan benci Mama terhadap Papa’. Pokoknya Mama Kenanga tidak menginginkan Kenanga ketemu Papanya. Mama Kenanga hanya fokus pada kepentingannya sendiri, sama sekali tidak memperhatikan kepentingan Kenanga. Opa dan Oma juga senada dengan Mama Kenanga.

Pernah suatu kali tersentuh oleh kesedihan Kenanga, suatu hari saya datang ke rumah Opa Kenanga untuk sekedar sharing mengenai keadaan Kenanga. Siapa tahu dengan informasi saya, Opa tersentuh dan mau membuka diri untuk berkenan memberi informasi yang berguna bagi pencarian Papa Kenanga. Setelah saya terangkan secara panjang lebar sesuai pengetahuan saya, lebih-lebih setelah saya terangkan mengenai kebutuhan jiwa Kenanga yang sangat Kenanga butuhkan agar tumbuh menjadi pribadi yang sehat, Opa ternyata bersedia memberi informasi yang berguna bagi pencarian Papa Kenanga. Saya mulai mengantongi informasi tentang tempat tinggal Papa Kenanga. Suatu hari atas izin Opa, saya dan Kenanga naik sepeda mencari lokasi alamat yang saya kantongi. Saya dan Kenanga menirukan acara ‘Termehek Mehek’ yang ditayangkan di stasiun TV beberapa tahun lalu. Dengan bertanya beberapa kali, akhirnya lokasi yang kami cari ketemu, benar sesuai dengan alamat. Tetapi rumahnya tertutup dan sepi. Setelah bertanya ke tetangga, ternyata Papa Kenanga sudah pindah. Usaha kami untuk bisa ketemu Papa Kenanga tidak berhasil. Yah sudah tidak mengapa ‘Homo proponit, sed Deus disponit’ Manusia merencanakan tetapi Tuhan yang menentukan. Mungkin bukan sekarang waktu yang dikehendaki Tuhan. Mungkin bukan tempat ini yang dikehendaki Tuhan. Mungkin bukan dengan saya yang dikehendaki Tuhan.

Setelah peristiwa pencarian itu, Kenanga pindah ke kota ‘S’ untuk kuliah. Karena Kenanga memang anak cerdas, disiplin dan bertanggungjawab, Kenanga bisa menyelesaikan studi tepat waktu. Begitu lulus, Kenanga langsung mendapat pekerjaan di sebuah bank yang bonafide di kota saya. Kenanga kembali ke rumah Opa. Tetapi Kenanga bekerja tidak lama. Kenanga kembali meneruskan kuliah S2 di kota ‘J’. Menurut saya ya bagus. Kenanga masih muda, cerdas, biaya tidak menjadi masalah. Dasar anak cerdas, kuliah S2 pun juga selesai tepat waktu. Lalu Kenanga bekerja di kota ‘J’. Beberapa waktu kemudian, setelah lama tidak berkabar berita, saya menerima undangan dari Kenanga. Itu adalah undangan pesta pernikahan di salah satu hotel di kota saya. Kami sekeluarga di minta datang. Kami tidak ingin membuat Kenanga kecewa, maka apa yang Kenanga minta saya penuhi. Kami datang lengkap berenam: saya, isteri, anak, menantu dan cucu. Itulah kesempatan terakhir saya bertemu dengan Kenanga. ‘Wedding Party’ sekaligus ‘Farewell Party’. Saya berdoa dengan dua ujub. Pertama, semoga hidup pernikahan Kenanga bahagia. Kedua, semoga Kenanga suatu hari bisa ketemu dengan Papanya.

Semoga orangtua yang dalam status cerai bersikap bijak dalam memperlakukan anak. Jangan anak juga dimasukkan ke dalam lingkaran perceraian. Artinya anak dipisahkan, dijauhkan dari salah satu orangtuanya. Anak tidak diberi kesempatan untuk berjumpa dengan orangtuanya sendiri, yang darah dagingnya sendiri. Dengan menjauhkan atau memisahkan anak dari orangtua berarti orangtua tidak memenuhi kebutuhan jiwa anak, sehingga kebutuhan jiwa anak tidak utuh, yang bisa mempengaruhi pertumbuhan kepribadian anak. Janganlah anak dijadikan korban egoisme, dendam, benci orangtua terhadap pasangannya. Jangan sampai anak yang tidak bersalah apa-apa kena dampaknya. Kasihan.

 

Penulis: Ph. Ispriyanto.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

1 comment

News Feed