by

Merajut Harmoni di Tengah Pandemi

Wartaindonews, Malang – Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Cabang Malang tak henti-hentinya terlibat dalam berbagai upaya pencegahan dampak pandemi Covid 19, Salah satunya melalui salah satu program Psikoedukasi Pandemi Covid 19 Himpsi Malang. Program yang di gagas oleh pengurus bidang kompetensi dengan narasumber Sayekti Pribadiningtyas, S.Psi, M.Pd, Psikolog dengan moderator Muammilah Ani Solichah, S.Psi, M.Psi, Psikolog.

Kegiatan yang diselenggarakan Minggu 17 Mei 2020 itu mengangkat tema Merajut Harmoni di tengah pandemi di ikuti peserta dari berbagai propinsi bahkan ada beberapa peserta dari Eropa. Sayekti adalah psikolog senior ahli di bidang psikologi klinis dan psikologi perkawinan itu menyebutnya bahwa kondisi saat ini disebut dengan istilah “Cabin Fever” Akibat stay at home, work from home, karantina mandiri, ketatnya PSBB dan protokol kesehatan pencegahan pandemic Covid 19.

Beragam pertanyaan disampaikan kepada narasumber. Peserta ada yang merasa masa pandemic menyebabkan tingkat stress keluarga meningkat yang menimbulkan gesekan dan konflik yang beragam. Terjebak di bawah satu atap yang sama dalam waktu yang relatif lama. Padahal Setiap orang membutuhkan ruang tersendiri. tidak selalu harus bersama dengan pasangan. Tentu semua ingin segera berakhir masa-masa seperti ini. Bagaimana saling mengerti keinginan pasangan yang selama ini terpendam, Support system yang seperti apa yang di perlukan, jika tidak punya hubungan harmonis di dalam rumah tangga termasuk didalamnya ada lansia yang mengalami dimensia.

Rata-rata peserta juga bertanya tentang relasi antar pasangan yang tidak biasanya berkumpul 24 jam dalam sehari dan malah menyebabkan munculnya gesekan-gesekan antar anggota keluarga akibat rasa saling bersalah, kecewa dan menimbulkan stress. Disisi lain ada juga peserta bertanya Bagaimana cara menjaga harmoni hubungan suami istri yang LDR selama pandemi ini. Ada pula yang bertanya tentang bagaimana menjaga harmoni dalam kehidupan bertetangga karena kesempatan berkumpul menjadi terbatas.

Bagaimana mengatasi perbedaan pendapat di dalam keluarga karena dalam satu keluarga punya kesenangan yang berbeda dan jika melakukan sesuatu bersama dengan keluarga hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Bagaimana mungkin ingin hidup suasana sendiri semetara rumahnya kecil, di kamar di dapur dapur di ruang tamu ketemu terus. Sehingga dampak dari kurangnya harmoni dalam keluarga bisa terjadi tindakan KDRT.

Sebagian mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini juga bertanya selama masa pandemi ini sering susah focus, karena merasa tertekan karena tugas online terlalu over selain itu terkadang jaringan eror saat pengiriman tugas sehingga menjadi beban pikiran, sering gelisah, kurang istirahat dan susah tidur. Ada pula peserta sebagai orang tua merasa prihatin sama anak-anak saat sekolah biasa masih ada jam kosong dan hari libur, tapi saat pandemi ini tugas mereka makin bertambah, seperti tanpa libur.

Peserta lainnya menyampaikan bahwa banyak karyawan yang di luar sana merasa tertekan, cemas, dan lelah untuk mencari pekerjaan yang baru akibat di rumahkan. Mereka depresi selain jauh dari keluarga, mau pulang kampung tidak bisa dan takut di karantina, mau ketemu teman tapi sedang dalam masa sosial distancing, tentu hal hal ini dapat merusak psikis seseorang, bagaimana cara mengatasi rasa tertekan tersebut dan motivasi apa yang bisa dilakukan agar orang-orang tersebut dapat hilang dari rasa depresi akibat kehilangan pekerjaan.

Peserta dari Italia bertanya dan menyampaikan bahwa di Italia mulai dibuka malah muncul kekacauan public. Ketika kerumunan dan perjumpaan dengan banyak orang tidak terhindarkan, ketakutan menjadi lebih besar karena tidak mengetahui posisi bahaya covid 19. Sementara, saya dituntut memberikan pelayanan dan tampil lebih meyakinkan disisi lain harus bisa menyembunyikan rasa takut itu. Bagaimana caranya supaya ekspresi ketakutan tidak tampak di depan banyak orang?.

Dari semua pertanyaan diatas di jelaskan oleh Nining, panggilan akrab Sayekti. Orang yang mengalami “Cabin Fever” merasakan sedih, bosan, gelisah, mudah tersinggung, dan beragam perasaan negatif lainnya akibat terlalu lama diam di suatu tempat dan terisolasi dari lingkungan sekitarnya. Cabin fever memang tidak termasuk dalam gangguan psikologis, tetapi bukan berarti kondisi ini tidak nyata. Gejala yang muncul pada cabin fever benar-benar nyata hingga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.

“ Gejala cabin fever yang dialami setiap orang bisa berbeda-beda. Namun, perasaan negatif yang muncul umumnya tidak hanya sesaat, melainkan berlangsung cukup lama hingga memengaruhi kehidupan sehari-hari orang yang mengalaminya, termasuk dalam bekerja, berinteraksi dengan orang lain, dan beristirahat.” Jelas Nining yang juga merupakan ,wakil ketua Himpsi Malang. Maka yang paling penting saat ini adalah mengubah mindset kita untuk menerima situasi keterpaksaan menjadi pemicu proses fleksibilitas atau kemampuan beradaptasi secara cepat. Memanfaatkan skill Anda yang mungkin selama ini tidak terasah dan terabaikan karena kesibukan.

Coba saja menciptakan kegiatan baru bersama anak dan pasangan. Saling menyemangati dan membuat senang dengan media yang ada dan sederhana saja. Melatih kemampuan komunikasi antar anggota keluarga jauh lebih bijak. daripada mengisi hari-hari dengan nada tinggi, mengeluh dengan hal-hal negatif, Kita bisa membuat skenario untuk film pendek yang lucu melibatkan seluruh anggota keluarga. Suatu hari rekaman itu menjadi kenangan berharga karena kita membuatnya saat pandemi Covid 19. Tambah Nining penulis buku best seller Selingkuh Cerdas dan Mbok Ti.

Jika kondisi ekonomi Anda terganggu, pasutri harus melakukan sesuatu untuk menciptakan penghasilan baru disesuaikan dengan situasi yang ada dan kebutuhan secara umum serta kompak berpikir pada tujuan yaitu finansial. Pandemi Covid 19 tidak bisa diprediksi kapan berakhir, manfaatkan saja untuk (1), belajar hal-hal baru; (2), terlibat kegiatan sosial; (3), bantulah sesama; (4), perbaiki kesehatan fisik; (5), rekatkan hubungan emosional antar keluarga; (6), memperkuat ibadah. Demikian Tips Nining selain sebagai psikolog beliau adalah seniman seni lukis. (Ririn SDN)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed