by

Menyikapi Serbuan Informasi – Halaman 2

-Artikel-324 views

Layak Expose

Bagi orang yang belajar Ilmu Komunikasi atau mereka yang faham ilmu serta etika jurnalistik, maka sebelum menyebarkan informasi,  harus dilihat dulu baik secara hukum atau pun etika jurnalistik, apakah informasi yang akan sesebarluaskan tersebut layak ekspose ( fit to expose) atau tidak. Orang yang belajar Ilmu Jurnalistik tentu sangat faham hal tersebut.

Sayangnya, dengan telepon pintar (smart phone) saat ini banyak sekali wartawan tiban, yang seolah menempatkan diri sebagai wartawan, namun tidak memiliki ilmu yang memadai. Diperparah dengan mereka yang cukup piawai menggunakan smart phone, namun tidak faham tugas serta tanggung jawab media, banyak memunculkan sejumlah situs on-line menyerupai media massa on-line, namun tidak jelas secara kelembagaan, penanggungjawabnya, bahkan alamatnya pun fiktif.

Penulis sering menyebut situs-situs semacam itu sebagai “tidak jelas.com”. Sayangnya masyarakat, khususnya para pengguna smart phone yang awan tidak memahaminya, sehingga tatkala mereka membaca atau memperoleh pembagian link atau bahkan informasi, foto , atau pun video melalui medsosnya, tanpa pikir panjang langsung mereka bagikan ke teman serta grup-grup yang mereka masing-masing ikuti.

Kaprah

Pertanyaannya, mengapa rata-rata mereka melakukan itu ? Dari sisi komunikasi terdapat teori bahwa bila seseorang menerima informasi, di mana saat itu dia tidak memiliki informasi pembanding, maka penerima informasi tersebut cenderung memercayainya. Mereka yang dalam kondisi itulah yang dengan cepat serta serta merta membagikannya kepada pihak lain, agar dianggap  sigap serta kaya informasi, tanpa memperhitungkan dampak yang terjadi kemudian.

Mereka juga tidak memahami (karena tidak melek fungsi internet sebagai media massa),bahwa media sosial yang mereka miliki itu adalah bagian dari internet, yang dikategorikan sebagai media massa dengan kekuatan serta dampaknya yang luar biasa.

Bagi mereka yang faham ilmu komunikasi serta etika jurnalistik, tatkala terpapar informasi seharusnya mengkonfirmasinya, baik dengan media arus utama, atau pun dengan mereka yang dipandang memiliki pengetahuan serta pengalaman yang memadai. Mereka inilah yang di lapangan sering mengingatkan teman atau grupnya untuk tidak menyebarluaskan info abal-abal tersebut, meski sering berdampak pahit, karena dianggap memihak salah satu calon.

Banyaknya orang yang tidak melek internet, khususnya medsos itulah, yang solah saat ini terkesan bahwa masyarakat Indonesia itu terbelah. Padahal, kenyataannya di tengah masyarakat sebetulnya tidak terjadi apa pun. Mall-mall, pasar-pasar tradisional, serta tempat-tempat lainnya termasuk tempat-tempat hiburan, tetap ramai seperti biasa. Hubungan antar tetangga serta pertemanan juga tidak berubah, kecuali ketika sedang membicarakan kandidat Presiden dan Wakilnya, utamanya bila mereka bertentangan.

Itu pun hanya terbatas pada diskusi, serta tidak berlanjut pada pertentangan atau pun benturan yang tidak diharapkan. Tampaknya sifat masyarakat Indonesia yang rata-rata guyup rukun serta memiliki toleransi yang tinggi tetap mengalahkan kehebohan antar dua pendukung yang sering terkesan mengkhawatirkan.

 

Penulis – Gunawan Witjaksana

Halaman Selanjutnya

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed