by

MENYEMBUHKAN LUKA BATIN PASANGAN

-Artikel-175 views

Berbicara mengenai luka batin rasanya tidak ada orang yang bebas darinya. Itu berarti setiap orang pernah mengalami luka batin. Yang membedakan antara satu orang dengan yang lain mungkin kadar intensitas dampaknya. Ada yang kadarnya ringan dan mudah disembuhkan. Ada pula yang kadarnya berat sehingga tidak mudah untuk penyembuhannya. Pembeda yang lain bisa pada faktor penyebabnya, misal: ditolak, tidak dikasihi atau dimarahi dengan disertai kekerasan fisik seperti pemukulan, dll. Maka penyembuhan luka batin pun sangat bervariasi lamanya. Ada yang membutuhkan waktu yang tidak lama, namun ada juga yang membutuhkan waktu yang lama, bahkan terbawa sampai dewasa. Cepat lambatnya proses penyembuhan luka batin tergantung pada berat ringannya kasus dan karakter kepribadian orang yang bersangkutan. Ada orang luka batin yang bisa menyembuhkan dirinya sendiri dengan ‘Shelf Healing’, tetapi ada juga orang yang tidak bisa sembuh dengan ‘Shelf Healing’, sehingga membutuhkan pertolongan profesional seperti psikolog atau psikiater. Berikut saya akan menceritakan kisah nyata yang dialami oleh seorang cewek yang mengalami luka batin yang traumatis, yang dibawanya sampai dewasa bahkan sampai dia menikah. Kisah selengkapnya adalah sebagai berikut:

Ada seorang cewek sebut saja namanya ‘Rosa’ (bukan nama sebenarnya). Rosa tinggal bersama orangtua dan saudara saudarinya di desa. Ayah Rosa adalah sosok pribadi yang keras, disiplin, tidak mudah menerima pendapat orang lain. Rosa bercerita panjang lebar tentang bagaimana Rosa diperlakukan oleh ayah Rosa yang keras itu. Apapun yang dilakukan oleh Rosa, bila tidak sesuai dengan keinginan ayah Rosa meskipun sebenarnya logis atau masuk akal pasti ditentangnya. Misalnya pernah suatu saat ayah dan ibu Rosa terlibat pertengkaran. Sebenarnya ibu Rosa benar, namun ayah Rosa tidak bisa menerima. Melihat peristiwa itu, Rosa mengingatkan ayah Rosa bahwa ibu Rosa benar. Tapi apa reaksi ayah Rosa? Ayah Rosa marah kepada Rosa. Hari itu Rosa mestinya sekolah seperti biasa dengan naik sepeda. Hari itu Rosa tidak bisa naik sepeda karena sepeda digembok oleh ayah Rosa sebagai hukuman bagi Rosa. Pada kesempatan lain, lagi-lagi ayah dan ibu Rosa terlibat pertengkaran. Dan Rosa lagi-lagi membela ibu Rosa. Rosa dihukum tidak boleh makan. Untuk menghilangkan rasa lapar, Rosa pergi ke sawah mencari apa yang bisa dimakan: kacang, ubi, dll.

Pernah juga sekali waktu sebagai seorang siswi, Rosa mendapat tugas pekerjaan rumah Matematika. Rosa belajar didampangi ayah Rosa. Karena memang Rosa tidak berbakat Matematika, Rosa mengalami kesulitan mengerjakannya. Ayah Rosa tidak sabar, kepala Rosa dibenturkan ke meja, sehingga bibir Rosa sobek dan berdarah. Sampai saat ini, bekas sobeknya masih terlihat hitam. Kadang ayah Rosa kalau sedang marah, memegang sabit, mungkin sekedar menakut-nakuti, namun Rosa sangat ketakutan. Rosa khawatir kalau ayah Rosa alfa atau lepas kontrol dan menggunakan sabitnya benar-benar dipakai untuk mencederai. Maka sebegitu takutnya, Rosa memasukkan sabit, dll ke dalam karung dan disimpan di dalam tanah.

Natal bagi umat kristiani adalah masa yang penuh suka cita menyambut kelahiran Tuhan Yesus. Tidak demikian bagi Rosa, karena sebagai anak sulung, Rosa harus menjaga rumah, sementara orangtua dan adik-adiknya menghadiri misa Natal. Rosa sendirian di rumah, padahal lingkungannya sangat sepi. Untuk membunuh rasa takut, Rosa sengaja tidur. Pada saat orangtua dan adik-adiknya pulang, Rosa sedang tidur lelap. Rosa tidak mendengar pintu di ketuk oleh ayah Rosa. Karena diketuk berulang kali tidak bangun juga, ayah Rosa mengambil sebatang bambu untuk membangunkan Rosa. Bambu ditusukkan pada kaki Rosa lewat lubang angin. Akhirnya Rosa bangun dengan kesakitan dan membukakan pintu. Eh dasar ayah Rosa orang yang kejam, pintu sudah dibukakan, ayah Rosa masih menyakiti Rosa dengan ikat pinggang. Natal yang bagi orang lain mendatangkan suka cita tetapi bagi Rosa adalah duka cita, yang menimbulkan luka batin yang dalam.

Serentetan kekerasan yang dialami Rosa menyebabkan luka batin traumatis dan terbawa sampai Rosa menikah. Nah sejak menikah itulah proses penyembuhan mulai dan berangsur-angsur Rosa sembuh. Kesembuhan terjadi berkat kerjasama antara Rosa dengan suami Rosa. Rosa menceritakan semua pengalaman kekerasaan yang dilakukan ayah Rosa terhadap Rosa. Beruntung suami Rosa adalah orang yang lembut yang berkarakter berlawanan dengan ayah Rosa. Suami Rosa adalah juga pendengar yang baik. Proses penyembuhan luka batin Rosa oleh suami Rosa dirasa aneh juga.

Prosesnya adalah sebagai berikut: Menjelang tidur malam, pada saat mereka berdua sudah di atas tempat tidur dan siap untuk tidur, Rosa pasti meminta pasangannya untuk memposisikan wajahnya berhadap-hadapan dengan Rosa, sehingga bisa saling memandang. Itu menjadi semacam ‘Ritual’ tidak bisa tidak. Nah kalau sudah tidur beneran dan wajah pasangan ketahuan membelakangi Rosa dan Rosa mengetahuinya, wajah pasangannya pasti di putar ke posisi awal sebelum tidur, artinya wajahnya harus berhadap-hadapan lagi. Dalam semalam itu, bisa terjadi beberapa kali. Oleh suami Rosa tentu dirasa aneh. Dia bertanya-tanya dalam hati, mengapa demikian. Merasa tidurnya terganggu oleh ulah Rosa yang terus memutar wajahnya setiap kali wajah membelakangi Rosa sekalipun sedang tidur nyenyak, ada perasaan jengkel juga pada suami. Akhirnya suami Rosa tidak tahan untuk mengerti apa sebabnya, apa alasannya. Akhirnya dengan jujur Rosa mengatakan Rosa butuh rasa aman dan terlindungi. Ternyata rasa tidak aman atau ketakutan atas perlakuan ayah Rosa pada waktu lampau membekas dalam diri Rosa. Dengan melihat wajah pasangannya, Rosa merasa damai. Sejak saat itu, pasangannya rela wajahnya diputar, demi rasa damai Rosa.

Selain diputar wajahnya pada saat tidur, masih ada satu hal lagi yang sering terjadi yaitu mimpi. Pada waktu tidur Rosa sering bermimpi dan mimpi Rosa selalu sama berulang-ulang. Biasanya pada waktu mimpi berlangsung, Rosa berteriak-teriak minta tolong: ‘Tolong, tolong, tolong! Lalu pasangannya membangunkan Rosa dan bertanya: ‘Mimpi apa?’. Jawab Rosa dengan nafas yang tidak teratur dengan tubuh yang dingin: ‘Mau dibunuh ayah’. Alur mimpi pun selalu sama, mengambil lokasi di sawah. Rosa sedang berjalan di galengan atau jalan setapak dan dikejar oleh ayah Rosa dengan membawa sabit. Nah pada saat sabit mau diayunkan itulah Rosa berteriak-teriak lalu terbangun. Biasanya pasangannya lalu memeluk Rosa dan Rosa menjadi tenang dan bisa tidur kembali.

Nah itulah kisah Rosa yang mengalami luka batin yang traumatis yang terbawa sampai dewasa sebagai akibat perlakuan atau kekerasan yang dilakukan oleh orangtua sendiri. Orangtua yang seharusnya memberikan kasih yang berlimpah kepada buah kasihnya agar bahagia, justru merusak kebahagiaan anaknya. Dengan mengikuti kisah Rosa ini, harapannya hendaknya kita jangan sampai menyebabkan luka batin kepada siapa pun, lebih-lebih orangtua jangan sampai menyebabkan luka batin pada anak-anaknya. Bijaksanalah memperlakukan anak-anak kita.

 

Penulis: Ph. Ispriyanto

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed