by

MENYELAMATKAN NYAWA

-Artikel-289 views

Wartaindonews — Setiap tahun menjelang kedatangan Roh Kudus (Pentakosta) di paroki-paroki diselenggarakan Ekaristi (Novena menyambut kedatangan Roh Kudus). Saya biasanya ikut meskipun sendiri karena isteri kalau diajak tidak mau dengan alasan sibuk menyiapkan makan malam. Saya tidak pernah memaksa, saya menghargai kemerdekaan isteri saya. Faktanya memang dia sibuk menyiapkan makan malam untuk keluarga. Tetapi pernah pada suatu novena menyambut kedatangan Roh Kudus, saya mencoba mengajak isteri. Eh, ternyata dia bersedia ikut, sehingga kami bisa ikut novena berdua. Kami sangat senang, gembira, penuh sukacita. Kami bisa mengikuti novena secara utuh, tidak ada yang bolong.

Nah, setelah mengikuti perayaan Ekaristi penutupan, saya dan isteri pulang, dan mampir di rumah seorang teman untuk mengembalikan pinjaman buku sekaligus pinjam yang lain. Saya singgah di rumah teman itu agak lama, ngobrol sana-sini. Saking asyiknya mengobrol, saya tidak tahu kalau isteri saya keluar lebih dahulu. Pada waktu saya pamit dan keluar dari rumah teman saya itu, saya toleh kanan toleh kiri mencari isteri saya. Ternyata, dia di halaman rumah tetangga teman saya. Alangkah terkejutnya saya, di halaman itu sedang terjadi percekcokan antara suami isteri. Peristiwa itu sungguh mendebarkan. Ngeri melihatnya. Apa yang terjadi disana? Suami menduduki isteri dalam posisi telentang, dan suami memegang pisau yang diarahkan ke perut isterinya sambil mencekiknya. Kedua anaknya yang masih kecil yang bugil karena sudah siap untuk mandi, lari mondar-mandir sambil menangis sejadi-jadinya, menyaksikan adegan orangtuanya. Sementara itu, si pembantu tidak kuasa berbuat apa-apa. Dia ikut mondar-mandir mengikuti anak-anak dengan wajah ketakutan.

Melihat keadaan yang mencekam itu, saya masuk ke halaman mendekati isteri saya. Kami dimarahi oleh bapak yang sedang kalap itu. Dia omong dengan keras dan marah-marah: ‘Anda siapa, berani-beraninya masuk ke halaman rumah orang?’. Isteri saya dengan nada lembut menjawab: ‘Maaf bapak, coba lihat siapa yang bapak duduki dan cekik itu?’. Pada saat itu terjadi suatu keajaiban, bapak itu pelan-pelan melepaskan pisau dan cekikan pada isterinya. Namun, isterinya sudah terlanjur pingsan. Lalu kami bertiga: isteri, saya dan pembantu, menggotong ibu ini masuk ke kamar tidur sambil merawatnya hingga siuman. Setelah siuman, dia duduk di atas dipan. Di kamar itu, saya melihat salib tanpa ‘CORPUS’. Saya berasumsi keluarga ini, keluarga Kristiani. Pada saat saya sedang memandangi salib, suami masuk ke kamar, sambil berkata: ‘Bapak, saya ini sebenarnya orang Kristen, tetapi sudah puluhan tahun tidak ke Gereja’. Mendengar kalimat bapak itu, saya mencoba memberanikan diri menawarkan doa bersama. Lalu, kami berempat berdoa bersama demi keutuhan/kerukunan keluarga. Kami berdoa dengan cara saling menumpangkan tangan. Paling bawah tangan saya, lalu tangan isteri saya, lalu tangan suami isteri. Setelah berdoa selesai, saya dan isteri saya diajak pindah ke ruang tamu. Sementara isteri tetap di kamarnya, ditemani pembantu. Di ruang tamu, terjadi percakapan yang mengasyikkan dan berlangsung cukup lama. Percakapan itu menjadi sarana curhat. Bapak itu bercerita panjang mengenai dirinya. Dan salah satu bagian yang paling mendebarkan dan sungguh tak terduga adalah sebuah pengakuan bahwa dia pernah tinggal di Nusakambangan karena terlibat pembunuhan. Hiii… ngeri… kami sedang berhadapan dan beromong-omong dengan seorang pembunuh. Namun, kami berdua tetap terus dengan tekun dan bersungguh-sungguh mendengarkan apa yang dia katakan. Dia bahkan akhirnya menceritakan sebab pertikaian dengan isterinya. Ternyata, percekcokannya disebabkan oleh api cemburu. Ceritanya, pada saat bapak ini pulang dan belok masuk gang dekat rumahnya, dia melihat isterinya sedang asyik omong-omong dengan seorang lelaki. Dalam ceritanya itu, dia juga mengaku sebagai seorang yang emosional dan pencemburu. Adegan yang sungguh diluar dugaan kami berdua, setelah ibu itu lebih membaik kondisinya, sudah berganti pakaian, dia keluar dan ikut bergabung omong-omong, seolah-olah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Suasana yang sebelumnya mencekam, menakutkan, sekarang mencair menjadi percakapan yang santai, sambil menikmati teh yang dihidangkan. Setelah bapak selesai cerita tentang dirinya dan kehidupannya, dia ganti menanyai saya dan isteri saya: identitas, tempat tinggal dan bertanya kok bisa belok ke rumahnya? Sebenarnya dari mana atau mau kemana? Kami berdua bercerita bahwa kami ini baru saja mengikuti Ekaristi (Novena menjelang kedatangan Roh Kudus) dan mau pulang, tetapi mampir dulu di rumah teman. Akhirnya, kami berkenalan. Setelah berkenalan, kami mohon pamit. Dan bapak itu mengungkapkan rasa terima kasihnya pada kami berdua. Kami melangkah keluar rumah diantar oleh bapak, ibu dan kedua anaknya sampai ke pintu gerbang. Perasaan saya waktu itu campur aduk. Perasaan saya benar-benar seperti gado-gado: takut, terharu, syukur. Takut karena peristiwa itu menyangkut masalah keselamatan nyawa. Dalam pikiran saya, wah andaikata bapak itu betul-betul khilaf dan kalap, nyawa isteri bisa melayang. Kalau tidak ya, nyawa saya atau isteri saya. Terharu karena percekcokan itu bisa diatasi, masing-masing mau rekonsiliasi. Syukur karena semua selamat, tidak ada korban nyawa.

Kami akhirnya pulang. Sampai di rumah, kami langsung duduk deleg-deleg. Saya dan isteri lalu glenikan tentang peristiwa itu. Kami saling menyeletuk: ‘Ini bukan karya kita. Kita pasti tidak akan sangggup dan berani menghadapi situasi tadi atas dasar kekuatan kita. Ini pasti karya Roh Kudus. Kita dipakai oleh Roh Kudus untuk menyelamatkan nyawa seseorang’. Peristiwa itu sampai sekarang tak pernah kami lupakan. Setiap menjelang kedatangan Roh Kudus, kami ingat akan peristiwa itu. Roh Kuduslah yang menyelamatkan ibu itu. ‘ROH KUDUS SANG PENYELAMAT’.

 

 

Penulis: Ph. Ispriyanto

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed