by

Menjadi Lansia Bermakna dan Bahagia

-Artikel-646 views

Wartaindonews — Orang dikatagorikan masuk lansia apabila seseorang sudah mencapai usia 60 atau 65 tahun. Memasuki lansia, orang akan menghadapi bermacam peristiwa yang bisa membuat orang stres apabila tidak disikapi dengan bijak. Pada umumnya, rata – rata pensiun terjadi pada usia 60 tahun. Memang, ada yang diatas usia 60 tahun. Namun, ada juga yang di bawah usia 60 tahun. Nah, apa sajakah peristiwa – peristiwa yang akan dihadapi oleh kaum lansia? Peristiwa – peristiwa itu berupa dalam tanda kutip ‘KEHILANGAN – KEHILANGAN’.

  • KEHILANGAN PEKERJAAN
    Orang yang bekerja dalam pengertian profesi entah di lembaga / yayasan / lembaga negara, pada suatu saat menurut ketentuan yang berlaku pasti diberhentikan dengan hormat oleh lembaga / instansi dimana orang itu bekerja. Inilah yang disebut pensiun. Sejak SK pensiun ditentukan, orang tersebut penghasilannya otomatis akan berkurang. Jadi, pensiun berarti kehilangan pekerjaan dan sebagian dari penghasilan.
  • KEHILANGAN KOLEGA
    Sejak memasuki pensiun, orang sudah tidak bekerja lagi. Ini berarti orang sudah tidak lagi datang ke tempat kerja. Dengan demikian, orang tersebut sudah tidak akan bertemu kolega – koleganya, kecuali orang tersebut sengaja datang untuk menemui kolega – koleganya di tempat kerjanya dulu.
  • KEHILANGAN ANAK
    Pada saat orang mencapai usia 60 tahun, pada umumnya anak – anak sudah besar, bahkan sudah mandiri, sudah bisa mencari nafkah sendiri. Karena alasan pekerjaan di tempat / kota lain, anak – anak meninggalkan orangtuanya, sehingga rumah yang dulu ramai sekarang menjadi sepi karena ditinggalkan oleh anak – anak, sehingga di rumah bisa tinggal berdua saja. Inilah situasi yang disebut ‘EMPTY NEST’ (SARANG KOSONG). Keluar masuk ya ‘ciluba’ terus dengan pasangannya.
  • KEHILANGAN KESEHATAN
    Ketika umur kronologis mencapai 60 tahun atau lebih, para lansia biasanya menghadapi banyak kemunduran fisik, psikis dan sosial ekonomi. Untuk itu, keluarga diharapkan peduli kepada para lansia dengan memberi perhatian / pertolongan kepada mereka. Ada pun kemunduran fisik ini bisa diformulasikan dengan istilan 12B.

1. BOTAK : Rambut memutih kemudian perlahan – lahan rontok.

2. BOGANG : Banyak gigi yang tanggal sehingga ompong. Gigi palsu bisa menjadi solusi, namun makanan tidak boleh terlalu keras.

3. BINGUNG : Kemampuan otak mulai menurun untuk mengingat. Kepikunan hingga dimensia kerap terjadi.

4. BRUWET : Istilah dalam bahasa Jawa, ini berarti penglihatan yang kabur. Lensa mata tidak lagi elastis. Lansia biasanya menderita cacat rabun.

5. BUDEK : Pendengaran terganggu sehingga kalau bicara dengan orang yang budek, volume suara perlu diperkeras. Namun, perlu diperhatikan nadanya agar tidak menyakiti mereka.

6. BUNGKUK : Berjalan maupun duduk tidak setegap saat masih muda, karena pengeroposan tulang.

7. BAWEL / BISU : Ada yang makin cerewet dan rewel dalam hal apa pun, termasuk menjadi suka bercerita sendiri. Tetapi ada pula yang makin pendiam dan pelit bicara. Maunya susah ditebak.

8. BAU : Mandi tidak bersih pada bagian itu bisa mengakibatkan bau. Apalagi bila banyak sisa ompol atau buang air besar yang melekat. Keluarga sebaiknya memperhatikan.

9. BESER : Artinya seringkali harus buang air kecil. Ketika tidak kuat menahannya, seringkali mengompol.

10. BEBELEN : Susah buang air besar disebabkan sistem pencernaan tidak seoptimal dulu. Seiring dengan bertambahnya usia, otot kendur.

11. BUYUTAN : Gejala gemetaran ini adalah salah satu gejala dari Parkinson karena kerja dopamin dalam otak rusak.

12. BOKEK : Seorang lansia pasti tidak punya penghasilan. Kadang itu menjadi beban pikiran. Tidak enak hati merepotkan anak atau malah tidak dihiraukan anak, membuat hatinya sedih.

Nah, apakah memasuki lansia berarti hanya mengalami kehilangan – kehilangan? Tentu saja tidak. Memasuki lansia juga ada sesuatu yang diperoleh. Apa itu? WAKTU. Semua orang lansia yang sudah pensiun tiba – tiba menjadi kaya, yaitu kaya ‘WAKTU’. Mengapa? Sudah bebas dari profesi yang dulu biasanya menyita waktu paling banyak. Nah, sekarang bagaimana kita memaknai waktu yang adalah hidup itu sendiri. Ada teori tentang kebahagiaan yang mengatakan: ‘KEBAHAGIAAN ADALAH BUAH DARI PENGELOLAAN WAKTU SECARA BAIK’. Mengelola waktu secara baik berarti menyeimbangkan waktu. Pengelolaan waktu secara baik itu:

  • WAKTU UNTUK TUHAN
    Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, manusia harus berelasi akrab dengan Tuhan penciptanya melalui: doa, sembahyang, meditasi, membaca kitab suci. Sesibuk apa pun manusia, dia harus menyediakan waktu untuk Tuhan. Manusia tidak bisa hidup damai tanpa berelasi dengan Tuhan. Di era yang sibuk bahkan super sibuk, orang ketat bersaing dalam pekerjaan, hiruk pikuk mengumpulkan uang / kekayaan. Mereka mungkin secara materiil hidup berkelimpahan. Kebutuhan secara fisik terpenuhi, tetapi rohaninya tidak terpenuhi. Lalu yang terjadi, kekosongan rohani dan tidak bahagia.
  • WAKTU UNTUK SESAMA
    Lansia yang relatif masih sehat, mobilitasnya masih baik, bisa memberikan sebagian dari waktunya untuk sesama, berupa: pelayanan di gereja, di masyarakat, dimana saja dibutuhkan. Di RT saya, tiap Senin ke-2 dalam bulan, banyak ibu lansia melayani kontrol kesehatan untuk anggota masyarakat: tensi, gula darah, dll. Saya mengamati mereka melayani dengan tulus dan mereka tertawa – tawa penuh suka cita. Mereka pasti senang bisa melayani. Punya makna di usia lanjut. Kita jangan hanya mikir diri sendiri. Maka, berikan sebagian waktu yang dimiliki, biar jadi berkat bagi orang lain. Dan meskipun faktanya waktu kita berkurang, tetapi kita dapat imbalan berupa asupan jiwa berupa suka cita. ‘GIVING IS RECEIVING’ (MEMBERI BERARTI MENERIMA). Lansia, yang artinya lanjut usia berarti cukup lama meniti roda kehidupan. Dengan demikian, bisa dipastikan sudah banyak makan asam garam kehidupan. Maka, biar pun sudah lanjut usia dan mungkin sudah tidak memiliki mobilitas yang tinggi, lansia bukannya tanpa arti. Lansia bisa jadi penasehat diperkumpulan – perkumpulan. (MAZMUR 92:15 ‘Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar’).
  • WAKTU UNTUK DIRI SENDIRI
    Sesibuk bagaimana pun orang, orang harus mempunyai waktu untuk diri sendiri, yang dalam jaman now dikenal sebagai ‘ME TIME’. Orang bisa sibuk dengan pekerjaannya, orang boleh sibuk dalam pelayanan di gereja, di masyarakat, bahkan ibu – ibu rumah tangga sibuk melayani keluarga. Semua karya – karya yang baik dan mulia. Namun, jangan lupa harus ada waktu untuk diri sendiri, bila orang ingin mengelola waktu dengan seimbang sehingga orang menjadi sehat dan bahagia. Bagi lansia khususnya, waktu untuk diri sendiri bisa digunakan untuk melakukan hobi seperti: memasak, berkebun, membaca, olahraga, main alat musik, traveling, meditasi, dsb. Kegiatan – kegiatan ini akan membuat orang bahagia. Inilah asupan jiwa. Maka, dengan pengelolaan waktu secara integral yang baik: waktu untuk Tuhan, waktu untuk sesama dan waktu untuk diri sendiri, lansia akan menikmati kebahagiaan.

Kebahagiaan merupakan hasil / buah dari makna dari apa yang kita lakukan. Semoga lansia hidup bermakna dan bahagia.

 

 

Penulis: Ph. Ispriyanto

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

1 comment

News Feed