by

Menghidupi Spiritualitas Ayub

-Artikel-437 views

Wartaindonews — Salah satu kisah dalam Kitab Suci Perjanjian Lama yang sangat mengesankan bagi saya adalah kisah tentang AYUB. Tokoh/sosok Ayub dihadapan Allah dipandang sebagai orang ‘BENAR’. Kebenaran cara hidupnya terpancar pada empat sifat terpuji yang dimilikinya: saleh, jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Kita akan bisa lebih melihat/memahami seperti apa empat sifat terpuji yang dimiliki Ayub bila meruntut secara bahasawi, yaitu bahasa Ibrani.

SALEH
Kata Ibrani untuk sifat terpuji kesatu ini adalah adalah ‘tâm’. Tetapi berdasarkan sejumlah pengertian yang diberikan oleh kamus konvensional dapat disimpulkan bahwa kata Ibrani ‘tâm’ dimaksudkan seorang yang sempurna, tidak bercacat dan tidak bercela dalam segala segi kehidupan manusia.

JUJUR
Kata Ibrani untuk sifat terpuji kedua ini adalah ‘yâsyâr’. Tetapi berdasarkan sejumlah pengertian yang diberikan oleh kamus konvensional dapat disimpulkan bahwa kata Ibrani ‘yâsyâr’ dimaksudkan seorang yang selalu bersikap dan bertindak benar sesuai dengan norma kehidupan manusia.

TAKUT AKAN ALLAH
Kata Ibrani untuk sifat terpuji ketiga ini adalah ‘yâre’ ‘ELOHIM’. Tetapi berdasarkan sejumlah pengertian yang diberikan oleh kamus konvensional dapat disimpulkan bahwa kata Ibrani ‘yâre’ ‘ELOHIM’ dimaksudkan seorang yang menyadari hubungannya dengan Allah, sehingga senantiasa menghormati dan menaati-Nya dalam hidup sehari-hari.

MENJAUHI KEJAHATAN
Kata Ibrani untuk sifat terpuji keempat ini adalah ‘sâr merâ’. Tetapi berdasarkan sejumlah pengertian yang diberikan oleh kamus konvensional dapat disimpulkan bahwa kata Ibrani ‘sâr merâ’ dimaksudkan seorang yang mempunyai hati nurani jernih, sehingga dengan sengaja dan konstan memilih yang baik serta menolak yang jahat.

Nah, karena ‘kebenaran’nya, Ayub dianugerahi berlimpah kekayaan oleh Allah. Bukan saja kekayaan anak, melainkan juga kekayaan ternak dan budak dalam jumlah yang sangat besar, sehingga dia menjadi orang terkaya dari antara semua orang di sebelah timur (bdk Ayub 1:2-3). Meskipun demikian Ayub tidak mabuk kekayaan, sehingga melupakan Allah. Dia senantiasa memelihara ‘kebenaran’ dirinya dan keluarganya dengan berusaha hidup tak bercacat dan tak bercela dihadapan Allah. Setiap kali anak-anaknya selesai berpesta, Ayub memanggil mereka dan menguduskan mereka, supaya mereka tidak tercemar dan ternoda oleh dosa kemabukan. Untuk memohon pengampunan bagi anak-anaknya yang mungkin telah berbuat dosa, Ayub mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka (bdk Ayub 1:5). Dengan melakukan hal itu secara rutin, Ayub berharap bahwa dia dapat terus mempertahankan ‘kebenaran’ diri keluarganya dihadapan Allah.

Nah, singkat cerita ‘kebenaran’ Ayub dimata Allah itu, oleh iblis diragukan kemurniannya. Iblis beranggapan ya jelas Ayub benar dihadapan Allah karena Allah menganugerahi kekayaan yang berlimpah. Dia mendapat tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Dia memiliki tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina dan budak-budak dalam jumlah yang sangat besar.

Menurut iblis, bila seluruh kekayaannya diambil darinya, dia pasti akan mengutuki Allah. Untuk menguji ‘kebenaran’ Ayub, Allah mengizinkan iblis untuk beraksi mencobai Ayub dengan cara mengambil seluruh kekayaannya, kecuali nyawanya. Bagaimana hasilnya? Semua harta kekayaan Ayub termasuk anak-anaknya diambil. Setelah ujian itu, status Ayub sebagai orang terkaya di timur berubah menjadi orang termiskin. Semua harta kekayaan diambilnya. Meskipun demikian, status hidup Ayub sebagai orang benar dihadapan Allah tidak luntur. Kesetiaannya pada Allah tetap terbukti. Ternyata iblis salah dan kalah. Bagaimana dengan sikap isteri Ayub setelah Ayub jatuh miskin dan seluruh tubuhnya ditimpakan barah dari telapak kaki hingga batok kepala, seluruh tubuhnya menjijikkan dan berbau busuk? Kalau dalam ujian hidup ini Ayub tetap hidup benar dan setia kepada Allah, sikap isterinya sangat berlawanan dengan sikap Ayub. Isteri Ayub membelakangi dan menjauhkan diri dari Allah. Melihat nasib buruk yang menimpa suaminya itu, berkatalah isterinya kepada Ayub: ‘Masih bertekunlah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!’ (bdk Ayub 2:9). Mendengar perkataan isterinya ini, Ayub menjadi marah sambil berkata: ‘Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?’ (bdk Ayub 2:10a).

Nah, dari sosok Ayub dan isterinya, kita bisa melihat dua sikap/reaksi terhadap ujian hidup. Isteri Ayub berpendapat bahwa kesalehan harus mendapatkan keuntungan. Apa gunanya hidup saleh kalau tidak mendapatkan keuntungan. Jadi, dalam pandangan isteri Ayub, kesalehan sangat erat berkaitan dengan keuntungan (bdk Ayub 21:14-15). Tetapi menurut pendapat Ayub, kesalehan tidak boleh dikaitkan dengan keuntungan. Sebagai ciptaan, manusia memang harus hidup saleh dihadapan Allah Sang Pencipta. Jadi, baik menguntungkan maupun merugikan, manusia harus tekun dalam kesalehan.

Nah, pertanyaan bagi kita semua. Apabila kita mendapat ujian seperti Ayub ini, masuk yang mana kita ini? Ayub yang tetap setia dan beriman meskipun hidupnya dibuat sengsara. Atau seperti isteri Ayub, yang mau beriman dan setia kepada Allah hanya pada saat hidupnya mengenakkan, terpenuhi segala kebutuhannya.

Menurut saya, setiap orang harus belajar dari Ayub, yang memiliki empat sifat yang terpuji. Namun, ada salah hal lagi yang harus kita pelajari, yaitu: mau menerima hidup ini apa adanya, baik dalam untung maupun malang. Menurut saya ini sangat penting. Mengapa? Karena hidup dan kehidupan ini bagaikan sebuah koin yang memiliki sisi-sisi yang berbeda. Satu sisi berkaitan dengan hal-hal yang positif, menyenangkan. Di sisi lain berkaitan dengan hal-hal yang negatif, menyedihkan. Kita semua harus siap untuk menjalani hidup ini apa adanya. Kata-kata Ayub: ‘Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?’ Inilah satu spiritualitas Ayub yang perlu kita hidupi.

Bila dikaitkan dengan situasi pandemi Corona hari-hari ini, bisakah kita bersikap seperti Ayub? Saat ini, pasti banyak hal-hal yang tidak menguntungkan dialami oleh banyak orang di dunia. Banyak orang kehilangan harta kekayaan. Perusahaan/bisnisnya harus tutup. Apalagi kehilangan saudara, pasangan, orangtua, anak, teman dekat, kakek, nenek. Pasti sangat menyedihkan.

Meskipun Ayub kehilangan kekayaannya yang berlimpah dan tubuhnya ditimpa barah, dia tidak pernah kehilangan iman. Atau kita bersikap seperti isteri Ayub, yang hanya mau menerima yang menyenangkan dan menolak yang tidak menyenangkan. Dengan kehilangan kekayaannya yang berlimpah isteri Ayub kehilangan imannya.

Karena hidup kita ini ibarat koin yang bersisi dua, apapun yang kita alami harus kita terima. Kita harus siap. Hidup tidak akan pernah sama selamanya. Ada gelombang turun naik. Suatu saat sehat. Suatu saat sakit. Suatu saat hidup berkelimpahan. Suatu saat kekurangan. Suatu saat sukses. Suatu saat gagal. Pada waktu muda: perkasa, produktif, banyak prestasi. Pada saat tua: lemah, banyak mengalami kemunduran fisik, psikologis, banyak diakrabi oleh sakit penyakit.

Siapkah kita menerima kenyataan hidup seperti ini? Semoga kita bisa mengolah hidup kita dengan menimba dan menghidupi spiritualitas Ayub. Marilah kita selalu ingat dan merenungkan serta menghidupi kata-kata Ayub yang sangat bernas ini: ‘APAKAH KITA MAU MENERIMA YANG BAIK DARI ALLAH, TETAPI TIDAK MAU MENERIMA YANG BURUK?’. Semoga kita semua dimampukan untuk hidup seperti Ayub.

 

Penulis: Ph. Ispriyanto

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed