by

MENDAMPINGI SEORANG TEMAN SAKIT TERMINAL

-Artikel-164 views

Saya mempunyai sahabat pasangan suami-isteri yang relasinya cukup dekat. Kami sangat sering bertemu, maksudnya mengadakan pertemuan yang disengaja alias direncanakan. Biasanya saya yang diundang ke rumahnya. Kalau sudah bertemu, yah asyik ngobrol banyak hal sana-sini. Dari hal yang ringan sampai hal yang serius. Dari masalah berita, ekonomi, politik, pendidikan, agama, hidup menggereja, dll. Apalagi kalau membicarakan masalah yang sedang hangat, seperti: radikalisme, intoleransi yang marak di negara kita, teman saya semangat sekali. Lalu terjadi diskusi. Tetapi pembicaraan seperti itu, hal yang lumrah bagi semua orang. Sebagai sahabat mereka percaya kepada saya untuk berbicara tentang masalah pribadi atau keluarga yang dalam. Maka, saya menyebut mereka sebagai sahabat bukan sekedar teman biasa. Biasanya orang hanya berani atau mau menceritakan masalah pribadi yang sangat private kepada orang yang dekat dan bisa dipercaya.

Kalau kebetulan kami sama-sama tidak sibuk, kami sering membuat acara. Bisa sekedar  makan malam di rumahnya. Kami juga sering mengadakan ziarah. Pernah suatu kali saya dan isteri diajak ziarah ke sembilan tempat dalam sehari. Kami berangkat jam 06.00 pagi. Mulai dari Gua Maria Mojosongo-Solo, lalu secara berurutan: Gua Maria Rosa Mistika-Tuntang, Gua Maria Kerep- Ambarawa, Gua Maria Sendangsono, Gua Maria Jatiningsih, Sumur Kitiran Kencono-Pakem, Salib Suci-Gunung Sempu, Gamping, Candi Hati Kudus Yesus, Ganjuran dan terakhir Gua Maria Marganingsih-Bayat. Kami tiba di rumah jam 01.00 dini hari. Capai tetapi senang dan gembira.

Pasutri teman saya ini, suami adalah seorang bos atau kepala sebuah lembaga yang terkenal di kota. Sedang isteri murni ibu rumah tangga. Sebagai seorang bos, yang mempunyai banyak bawahan, dia berpenampilan ‘ngebosi’. Suka mengatur, tidak mau diatur dan tidak mau menerima pendapat orang lain. Pola ini dia terapkan dalam keluarganya. Jadi menurut saya, yah pola otoriter. Ini berlaku bagi semua anggota keluarga: isteri dan anak-anak. Karena pola ini, relasi isteri dan anak-anak dengannya tidak dekat. Mereka merasa tertekan. Sampai anak-anak yang semuanya kuliah di luar kota, enggan pulang meski libur. Mereka tidak kerasan di rumah. Mereka kepingin ketemu mama, tetapi tidak mau ketemu papa. Akibatnya, orang yang paling kena dampak situasi seperti ini adalah isteri. Maunya sesering mungkin ketemu dengan anak-anak, tetapi tidak bisa. Di rumah, dia hanya dengan suami yang lebih banyak membuat jengkel. Akibatnya, ibu  memendam perasaan-perasaan negatif, seperti: kesepian, jengkel, sedih, marah. Lama perasaan-perasaan ini ibu rasakan dan dia tekan sehingga masuk ke pikiran bawah sadar. Dan ini tentu tidak baik bagi kesehatan jiwa dan badan. Akibatnya, karena memendam perasaan-perasaan negatif dalam kurun waktu yang lama, dia menderita kanker. Ini sesuai yang ditemukan dalam buku ‘Self Healing’ karya Louis Proto. Menurut Louis Proto, salah satu penyebab penyakit kanker adalah perasaan-perasaan negatif.

Semakin lama kondisi ibu semakin memburuk. Dalam kondisi semakin memburuk itu, dia tidak kuasa menahan beban perasaan yang semakin berat dan menindih. Dalam keadaan seperti itu, ibu sering mengontak saya. Dia sering menelpon saya untuk datang ke rumahnya, setelah suaminya pergi ke kantor. Kalau saya datang ke rumahnya, saya selalu menanyakan perasaannya. ‘Bagaimana ibu perasaan ibu hari ini?’, saya mengawali pertemuan itu. ‘Yah, sama saja, seperti biasa: jengkel, sedih, sepi, macam-macamlah, Pak Is. Saya tidak tahu harus bagaimana?’. Jawab ibu  dengan nada putus asa. Meski saya selalu membesarkan hatinya, rasanya ibu sudah ‘nglokro’ alias tidak memiliki harapan.

Dan bisa dibayangkan apa yang terjadi, apabila orang tidak punya harapan? Ibu seperti sudah menyerah kalah. Kondisi sakitnya semakin parah. Ibu harus masuk rumah sakit. Beberapa kali saya datang menemani ibu. Dan saya sungguh dibuat terkejut pada suatu saat ketika saya berkunjung dan disana ada suaminya dan salah satu anaknya. Ibu mengucapkan kalimat ini kepada anaknya: ‘Rosa (bukan nama sebenarnya), ada lakban tidak? Mulut papamu itu lakban lah!’. Ibu tidak tahan mendengar suaminya yang tidak mau diam, padahal isterinya menghendaki suasana yang tenang. Semakin hari kondisi ibu semakin melemah. Rasanya sudah tidak ada harapan. Ibu sudah tidak bisa bicara. Namun saya ingat, bahwa seseorang yang dalam kondisi sakit dan sudah tidak bisa bicara, dia masih bisa mendengar. Maka, saya dan Rosa bergantian membisikkan pada telinga ibu: ‘Yesus kasihanilah aku’ terus menerus bergantian. Melihat gelagat yang semakin kritis, saya berembug dengan pihak keluarga. Saya mengusulkan agar ibu bisa menerima sakramen pengurapan orang sakit. Akhirnya, usul saya diterima. Dan menjelang saat-saat terakhir, ibu bisa menerima sakramen pengurapan orang sakit dan viatikum.

Ibu akhirnya pulang ke rumah Bapa dengan tenang. Dari raut wajahnya terpancar ketenangan. Segala beban penderitaan telah diletakkannya dan dipersembahkan kepada Tuhan. Saya sedih kehilangan seorang sahabat dekat. Namun di sisi lain, saya bersyukur saya diperbolehkan untuk mendampingi ibu sejak sakit hingga menanggapi panggilan Ilahi, pulang ke rumah Bapa di surga, tempat kediamannya yang sejati dan abadi.

‘Selamat jalan ibu: AVE PIA ANIMA‘.

 

Penulis: Ph. Ispriyanto

Comment

Leave a Reply

News Feed