by

MENDAMPINGI ANAK-ANAK KELUARGA BROKEN

-Artikel-161 views

Diantara banyak pelayanan pendampingan keluarga dengan bermacam ragam masalah atau persoalan ‘Mendampingi anak-anak keluarga broken’, bagi saya merupakan pengalaman pendampingan keluarga yang paling menarik. Pengalaman ini merupakan pengalaman yang sangat mengesankan dan mendalam. Ceritanya adalah sebagai berikut:

Satu hari, lingkungan saya kedatangan warga baru. Keluarga ini terdiri dari empat orang. Seorang Opa dan seorang Oma, dengan dua cucu, semua cewek. Opa sudah pensiun, mantan anggota ABRI. Oma mantan kepala sekolah di luar pulau. Kedua cucunya pada waktu itu masih belajar di SD. Yang besar kelas lima, adiknya kelas tiga. Nama cucu yang besar sebut saja Santi, dan yang kecil sebut saja Sinta (keduanya bukan nama sebenarnya). Sejak kehadirannya di lingkungan saya, mereka cukup rajin ikut pertemuan doa lingkungan, APP atau advent. Kalau hari minggu, saya sering melihat Santi dan Sinta diantar ke gereja untuk mengikuti perayaan Ekaristi oleh Opa. Sampai suatu saat, saya tidak melihat Santi dan Si ke gereja dalam kurun waktu yang agak lama. Dalam hati saya bertanya-tanya kemana anak-anak ini. Akhirnya teka-teki pun terjawab. Pada suatu hari, ada ibadat arwah di rumah salah satu umat. Keluarga ini datang bertiga. Kebetulan waktu itu yang memimpin ibadat saya, Santi dan Sinta duduk persis di samping saya, sedangkan Oma di ruang lain bersama kelompok ibu-ibu. Selesai ibadat, saya memancing mereka mengapa sekarang tidak terlihat di gereja. Saya membuka pembicaraan dengan bertanya: ‘Santi dan Sinta, sekarang saya tidak melihat kalian ke gereja pada hari Minggu, kenapa?’. Santi menjawab: ‘Ndak ada yang ngantar’. ‘Lha, kenapa?’ tanya saya lebih lanjut. ‘Lha, Opa kan belum lama meninggal’. ‘Oh, begitu’, kata saya. ‘Andaikata ada orang yang mau mengantar Santi dan Sinta ke gereja, apa kalian mau?’. Santi dan Sinta menjawab dengan semangat: ‘Mau dong’. Saya katakan kepada Santi dan Sinta: ‘Ada dong’. ‘Siapa dong orangnya?’. Saya menjawab: ‘Pak Is dong orangnya’. Santi dan Sinta melonjak penuh suka cita. Lalu saya berkata kepada Santi dan Sinta: ‘Oke, mulai besok Minggu saya akan jemput kalian. Pagi jam 05.00, saya akan bangunkan lewat telpon. Bangun terus mandi, tidak berebut. Jam 06.30, kalian harus siap. Saya tidak mau datang ke gereja terlambat. Jam 06.30, Santi dan Sinta sudah siap. Oma selalu mengenakan pakaian pada Santi dan Sinta dengan model dan warna sama seperti anak kembar. Setelah perayaan Ekaristi, Santi dan Sinta saya antar pulang. Lama kelamaan, relasi saya dengan Santi dan Sinta semakin dekat. Lama-lama setelah saya pulangkan Santi dan Sinta dari Ekaristi, mereka mengajak main atau jalan-jalan. Saya kalau pas tidak ada acara oke-oke saja. Saya biasanya berkata kepada Santi dan Sinta: ‘Iya, izin Oma dulu’. Oma biasanya mengizinkan juga dengan satu pesan: ‘Asal tidak nakal’. Santi dan Sinta biasanya saya ajak ke tempat rekreasi di Balekambang, Sriwedari, Manahan. Saya bawakan Santi dan Sinta makanan kecil dan minuman seperti: kacang atom, salak, dll. Suatu hari Minggu, setelah pulang gereja, Santi dan Sinta mengajak jalan-jalan. Santi dan Sinta saya ajak melihat kuda. Kami duduk di tempat duduk terbuat dari cor-coran pasir dan semen memanjang, Santi dan Sinta nampak asyik melihat kuda. Pada saat haus dan lapar, Santi dan Sinta mendekati saya, Santi berkata: ‘Pak Is, boleh minta kacang atomnya?’. ‘Boleh’, jawab saya seraya membuka bungkusnya. Pada saat iru terjadi adegan yang mengharukan. Santi yang perasaannya halus, makan kacang. Santi tidak duduk sendiri, tapi Santi duduk di pangkuan saya dengan wajah ke arah saya, jadi kami berhadap-hadapan. Ini adegan yang sangat mengharukan. Santi sangat menikmati duduk di pangkuan saya sambil makan kacang atom. Saya memandangi wajah Santi sambil berguman dalam hati: ‘Ini anak siapa, mau duduk di pangkuan saya tanpa rasa canggung sama sekali?’. Saya bisa memahami perasaan dan kebutuhan Santi-Sinta akan cinta kasih. Sejak kecil Santi dan Sinta sudah ditinggal oleh kedua orangtuanya karena perceraian. Mama Santi dan Sinta bekerja di luar pulau, sedangkan papa Santi dan Sinta tidak diketahui rimbanya. Santi dan Sinta ada di bawah asuhan Opa dan Oma. Santi dan Sinta jarang sekali bertemu Mamanya, apalagi Papanya.

Seiring berjalannya waktu, relasi saya dengan Santi dan Sinta semakin dekat. Bahkan relasi ini melebar menjadi relasi antar dua keluarga. Anak-anak saya pun jadi dekat dengan Santi dan Sinta. Oma pun menjadi dekat dengan kami sekeluarga. Dalam keadaan tertentu, Oma tidak segan meminta tolong keluarga saya. Kami sungguh-sungguh menjadi bersaudara. Santi dan Sinta, nampak sekali ingin semakin dekat dengan keluarga saya. Santi dan Sinta semakin ingin berlama-lama berada bersama kami. Suatu saat Santi bertanya kepada saya: ‘Pak Is, boleh nggak besok malam minggu, saya dan Sinta tidur atau bermalam di rumah Pak Is?’. Saya menjawab: ‘Boleh, asal Oma mengizinkan’. Oma selalu berpesan: ‘Boleh, asal tidak nakal’. Akhirnya, Santi dan Sinta paling tidak sebulan sekali tidur di rumah saya. Santi dan Sinta nampak penuh suka cita, tertawa lepas, bercanda, bercerita bersama kami sekeluarga.

Saya pada saat-saat tertentu, pulang ke rumah orangtua di Yogya. Kalau Santi dan Sinta mendengar, mereka lalu merengek-rengek minta ikut. Pernah suatu hari, saya ke Yogya tiga hari. Santi dan Sinta juga ikut. Santi dan Sinta sangat bergembira. Sepanjang jalan Santi dan Sinta bernyanyi sambil berjoged. Salah satu tembang yang Santi dan Sinta lantunkan berdua adalah ‘Ning Stasiun Balapan’, karya almarhum Didi Kempot.

Pada suatu hari, Mama Santi dan Sinta datang menengok mereka. Saya di undang ke rumah. Kami sempat berbincang-bincang panjang lebar. Pada kesempatan itu, Mama Santi dan Sinta meminta tolong kepada saya, bagaimana caranya agar Santi dan Sinta bisa dibaptis, karena Santi dan Sinta belum dibaptis. Saya membawa Santi dan Sinta menghadap Romo. Romo menyarankan Santi dan Sinta diikutkan pelajaran bagi katekumenat regular. Setelah beberapa kali mengikuti pelajaran, katekisnya menemui saya dan mengatakan bahwa Santi dan Sinta tidak bisa mengikuti kelas tersebut karena itu kelas dewasa. Kelas anak-anak tidak ada. Saya kembali menghadap Romo untuk menceritakan tentang ketidakmampuan Santi dan Sinta mengikuti pelajaran karena Santi dan Sinta mestinya ikut kelas anak-anak. Romo meminta saya agar saya mencarikan katekis. Saya mendapatkannya, seorang Ibu yang sudah tua. Dia datang seminggu sekali ke rumah Santi dan Sinta naik sepeda. Sayang setelah beberapa bulan, Ibu itu mengundurkan diri tidak bisa melanjutkan mengajar karena kesulitan ekonomi, sepeda satu-satunya sebagai sarana transportasi harus dijual. Saya kembali menghadap Romo, menceritakan peristiwa tersebut. Akhirnya Romo berkata: ‘Ya, sekarang Pak Is sendiri yang mengajar’. Meskipun saya bukan seorang katekis, saya menerima tugas ini sepenuh hati. Saya mulai mencari referensi buku-buku pelajaran agama calon baptis. Setelah pelajaran berlangsung setahun, Santi dan Sinta saya ajak menghadap Romo, untuk menanyakan apakah sudah bisa dibaptis. Romo mengatakan setengah tahun lagi. Jadi saya mengajar Santi dan Sinta selama satu setengah tahun, baru Santi dan Sinta bisa dibaptis. Bagi saya momen baptisan Santi dan Sinta merupakan momen yang luar biasa membahagiakan. Saya boleh mendampingi Santi dan Sinta sehingga menjadi anggota gereja secara resmi.

Akhirnya Santi selesai belajar di bangku SMP. Sejak itu, Santi dan Sinta diambil Mamanya untuk sekolah di kota ‘J’ karena Mama Santi dan Sinta bisa pindah ke kota ‘J’, sehingga mereka bisa tinggal bersama. Demikianlah pendampingan saya terhadap Santi dan Sinta. Saya melakukan pendampingan ini selama lima tahun. Sejak itu, saya sudah jarang bertemu Santi dan Sinta. Hanya kadang-kadang saja Santi dan Sinta menengok saya.

Setelah agak lama tidak berjumpa, suatu hari Santi akan datang dan bermalam di rumah saya. Santi bercerita bahwa dia sudah selesai dengan kuliahnya. Santi segera akan di wisuda. Saya dan isteri diminta menghadiri wisuda tersebut. Maka saat itu, Santi dan saya langsung mencari tiket pesawat. Saya dan isteri, merencanakan tinggal di rumah Santi dua hari saja. Tetapi Santi meminta kami tinggal lebih lama. Akhirnya, kami tinggal selama seminggu. Setiap hari, kami di bawa keliling kota. Di ajak ke ‘GI’ melihat toko buku. Saya oleh Santi diminta melihat-lihat buku dan kalau suka diminta mengambilnya. Setiap hari berkeliling kota dan pulang malam antara jam 22.00-24.00. Begitu Santi betul-betul memanjakan saya. Setelah seminggu saya pulang.

Kabar selanjutnya yang saya terima dari Santi, setelah lulus dari salah satu universitas swasta di kota ‘J’, Santi melanjutkan kuliah lagi ke negeri ‘Tirai Bambu’. Setelah selesai kuliah, Santi memutuskan kerja di sana. Dalam perjalanan hidup, Santi bertemu dengan pasangannya, seorang cowok bule. Akhirnya dari perkenalan itu, mereka berpacaran dan menikah. Sekarang Santi dan suami tinggal di Eropa. Semoga Santi dan keluarga barunya hidup bahagia.

 

Penulis: Ph. Ispriyanto

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed