by

Mempertahankan Eksistensi Bahasa dan Budaya Jawa

-Budaya, OPINI-497 views

Sragen, 7 Februari 2019

Wartaindo.news – Suku Jawa merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur yang jumlah penduduknya kurang lebih 34,560.859 jiwa untuk Jawa Tengah dan Jawa Timur +/- 39.292.972 jiwa (sumber BPS 2016-2017).

“Suku Jawa yang sehari-hari menggunakan bahasa Jawa, terutama untuk Solo dan Yogyakarta menggunakan tingkat-tingkatan dalam berbicara yaitu sebagai berikut:

Untuk orang-orang sepantaran atau yang berkedudukan sama biasanya berbicara secara Ngoko: “Aku Wong Jawa”.

Untuk orang yang berbicara kepada orang lain yang usianya lebih tua atau yang punya kedudukan lebih tinggi biasanya berbicara dengan bahasa (basa) Krama: Kulo Tiyang Jawi.

Sedangkan untuk berbicara kepada orang yang sangat dihormati seperti kepada orang tua (kakek, nenek, ayah, ibu, orang-orang Kraton, guru, dan lain-lain biasanya menggunakan bahasa Krama inggil : “Dalem Piyantun Jawi”
Sedangkan untuk orang yang lebih tua atau yang mempunyai kedudukan lebih tinggi bisa bicara secara ngoko kepada yang lebih muda.

Dari jumlah penduduk Jawa yang mencapai lebih dari 73 juta jiwa, berapa persen yang bisa bahasa kromo atau kromo inggil ? Apalagi generasi anak muda jaman sekarang, bila dilakukan penelitian saya yakin gak sampai 20% yang bisa berbahasa Jawa kromo dan kromo inggil.

Dari sisi Bahasa bahwa bangsa Indonesia memiliki 1.100 bahasa daerah dari 714 suku. Dari jumlah itu, Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa pada Kemendikbud telah mendokumentasikan 652 bahasa.

Dari segi budaya.
Berbicara masalah budaya Jawa, banyak sekali ragam dan macamnya antara lain mulai dari bayi di kandungan, anak dilahirkan sampai nikah banyak ritual budaya yang harus dilalui misalnya: saat anak di kandungan 7 (tujuh) bulan ada upacara “Mitoni” yaitu saat usia bayi di kandungan berumur tujuh bulan. Kemudian saat anak berumur 40 (empat puluh) hari ada upacara “Selapanan”.
Kemudian selagi anak mau belajar jalan (yang semula merangkak) maka dilakukan upacara yang namanya “Tedhak Siti”.
Kemudian saat mau nikah banyak sekali upacaranya, mulai dari “Nembung” (meminta) kemudian “Lamaran” (melamar), “Siraman”, hingga akad nikah dan resepsi yang didalam prosesinya banyak sekali jenis upacaranya seperti ada upacara adang sepisan (menanak nasi untuk yang pertama kali), jualan dawet, tumplak punjen (untuk mantu anak terakhir), upacara “panggih” ada balang-balangan suruh (saling lempar daun sirih), nginjak telor dan lain sebagainya. Tentunya semua tata upacara budaya tersebut diatas itu mempunyai makna masing-masing.

Hal tersebut diatas hanya merupakan sebagian dari budaya Jawa dan masih sangat banyak ragam budaya Jawa lainnya yang perlu dipelihara (diuri-uri).

Mungkin di antara kita sebagai penutur bahasa Jawa ada yang bertanya, “Bagaimanakah kelanjutan bahasa Jawa di masa depan, sedang saat ini saja banyak ditinggalkan kaum muda?” Kebudayaan Jawa begitu teruji dengan masih mempertahankan ciri-ciri tradisionalnya ketika datang pengaruh Hindu-Budha, Islam, bahkan Kristen-Katolik. Semuanya seakan “di-Jawa-kan”, dalam artian saling melengkapi tanpa kehilangan “Jawa-nya”. Pun juga salah satu sendi budaya, yaitu bahasa.
Bagaimana dengan dewasa ini? Jangankan bersaing dalam hal eksistensi dengan bahasa Indonesia, Inggris, atau bahasa lainnya, di dalam bahasa Jawa sendiri ada indikasi implisit saling memarginalkan dialek-subdialek-dan perbedaan wicaranya (lihat, kategori dialektometri leksikal). Bagaimana demikian? Kita flashback terlebih dahulu.

Pemakaian bahasa Jawa meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, dan beberapa provinsi yang didatangi transmigran dari suku Jawa. Banyaknya pengguna bahasa Jawa di Indonesia memunculkan berbagai dialek, subdialek, dan perbedaan wicara pula. Dialek-dialek tersebut antara lain adalah dialek Solo-Yogyakarta, dialek Banyumas, dan dialek Tegal.

PENULIS : Candra Krisjayanti.
Pemerhati Bahasa Jawa tinggal di Karangtanjung, Pelemgadung, Karangmalang, Sragen, Jateng, Kuliah Di UNS (Universitas Sebelas Maret) Surakarta
Semester 4
Prodi Pendidikan Bahasa Jawa.

Editor : Dannyts

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed