by

Membaca Realita Meletusnya Gunung Semeru Jawa Timur

-Artikel-102 views

KEMBALI membaca realita GUNUNG SEMERU, Jawa Timur Indonesia.

Keseimbangan alam, khususnya pulau jawa yang diemban dan ditanggung oleh sosok Gunung Semeru, yang memiliki catatan sejarah turun temurun memiliki Puncak Semeru yang disebut Puncak Jonggring Salaka, dimana Jongring Salaka di percayai secara turun temurun sebagai istana para dewa, saat istananya terjadi geger letusan alam berupa letusan Gunung Semeru 04/12/2022 berarti ada proses sangat penting dalam rangka keseimbangan alam dan keseimbangan para makhluk ciptaanNya, yang membutuhkan proses dan wujud manisfestasi dari gerak keseimbangan kosmik bhumi dalam hal ini di episentrum Gunung Semeru Pulau Jawa, Indonesia.

Di bawah ini tulisan saudara Dwi Cahyono yang Kita dapatkan dari akun media sosial facebook beliau, perihal catatan catatan yang membantu Kita membaca perihal menggeliatnya Gunung Semeru.

Semeru menggeliat lagi

SEMERU, MENGAPA ITU NAMAMU : Gunung Api yang Dahsyat Mengerikan namun Disucikan

Oleh : M. Dwi Cahyono

…………
Mangku purel neng karaokean
Ndemek pupu sampai munggah
neng Semeru
…………
(Potongan lirik lagu “Mangku Purel”, Nur Bayan)

A. Meru sebagai Gunung Suci pada Pusat Kosmos

Sebutannya yang familier di publik adalah “Semeru”. Namun ada dua varian sebuatan lain baginya, yaitu “Mahemeru” dan “Sumeu”. Dari ketiga sebuatan itu, sama sama adalah sama-sama memiliki unsur se- butan “meru”, dengan perincian : se + meru, maha + meru, dan su + meru. Apa itu “Meru”? Mengapakah nama itu yang diberikan untuk gunung tertinggi di Pulau Jawa yang terletak di Jawa Timur, tepatnya di Kabupaten Malang dan Lumajang?

Secara harafiah, istilah Sanskreta yang diserap ke dalam Bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan me-nunjuk kepada : (1) gunung (mitologis) pada pusat Jambudwipa (dan dunia), (2) bangunan seperti pagoda pada kompleks percandian dengan atap yang berjumlah ganjil (Zoetmulder. 1995: 667). Pada mitologi di India (nama arkais : Jambudwipa = Pulau Jambu), Gunung Meru dikonsepsikan berada di titik sentrum Jambudwipa, yang sekaligus sebagai titik pusat jagadraya (makro kosmos). Itulah suatu gunung maha tinggi yang berada di sub-kontinen Asia Selatan, yang lazim dikenal dengan sebutan “Himalaya”. Benda angkasa, seperti matahari (surya), bulan (candra), planet-planet maupun bintang- gemintang (maksatra) berke mengitari Meru.

Pada pandangan mitologis itu, yang tergambarkah adalah “geosentrisme”, tepatnya adalah “mountain sentristrisme”, bukan “heliosentrisme” seperti yang diteorikan kini. Meru berada di tengah suatu pulau (dwipa), yang dinamai “Jambudwipa”.

Tergambar bahwa India Raya (region Asia Selatan) dipandang sebagai pulau, meski padahal adalah tanjung yang maha besar dari daratan Asia.

Penggunaan unsur sebutan “jambu”, sebab di pulau ini banyak tumbuh pohon darsaba, yakni suatu macam dari bermacam pohon jambu.
Pada puncak Meru pada Dewa bersemayam, yang dirajai oleh Dewa Indra, sehingga ada sebutan “Kaindran” untuknya.

Lantaran Kaindran itu berada di puncak Meru, maka gunung maha tinggi ini diyakini sebagai “gunung suci (holy mountain)”. Sungai-sungai besar yang bermata air (ber-tuk) pa- danya, seperti Sungai Gangga dan Brahmaputra, kerenanya juga dikonsepsikan sebagai “sungai suci (holy ruber)” dengan airnya yang suci pula (holy wa- ter).

Bangunan-bangunan suci di India Raya, baik Hindu ataupun Buddhis, cenderung mengkiblat ke puncak Meru.

Ada kalanya kata “meru” dipadu dengan kata-kata lain menjadi gata gabung, misal “meruparwata atau Merusaila (gunung Meru), Meruraja (raja gunung- gunung), Merusikara (puncak gunung Meru), Meru- tulya (seperti gunung Meru), Meruwiwara (rongga atau goa pada gunung Meru), dsb.

Ada pula kata gabung untuknya di Nusantara, seperti “Mahameru (Meru yang agung) dan Sumeru (Meru yang baik — varian sebutannya “Semeru”).

Sebuatan “Meru” juga acap dipakai untuk menamai atap bangunan suci yang berbentuk tumpang, besusun dalam jumlah gasal (ganjil — dari tumpang tiga himgga tumpang sebelas). Atap bersusun yang demikian juga hadir pada payung, yang dinamai “catra” atau disebut juga dengan “songsong”.

B. Semeru sebagai Gunung Suci, Pasak Pulau Jawa

Mengapa gunung tertinggi di Pulau Jawa (sebutan arkais “Jawadwipa”) dinamai dengan menggunakan unsur sebutan “Meru”, seperti “Semeru, Sumeru dan Mahameru”?

Penamaannya itu berlatar kosmologis, yakni mitos tentang (a) pemotongan, dan (b) pemindahan (relokasi) puncak Meru dari Jambudwipa ke Jawadwipa. Kosmologi ini tersurat dalam susastra gancaran “Tantupanggelaran” berbahasa Jawa Tengahan, yang ditulis (sinurat) pada akhir Majapahit sekitar abad ke-15 Masehi.

Pada kisah itu dijumpai alasan mengapa puncak Meru dipotong lantas di- boyong dari Jambudwipa ke Jawadwipa.

Alasannya adalah untuk menstabilkan Pulau Jawa. Sebelumnya Jawa berada dalam kondisi yang labil lantaran mendapat hempasan ombak dahsyat dari Samudra Selatan. Untuk menstabilkan, pulau besar di Nusantara itu musti “dipasak (dipantek)”. Apa pasak untuk pulau yang besar? Pasak untuk pulau besar tentunya pasak yang maha besar, yaitu gunung.

Itulah sebabnya mengapa puncak Meru dipotong, untuk dijadikan pasak pulau Jawa. Kisah ini memiliki keserupaan dengan kosmogoni di era Perkembangan Islam berkenaan dengan Gunung Tidar di tengah daerah Magelang sebagai “paku”-nya Pulau Jawa, yang dipakukan oleh Syeh Subakir.

Dengan mempasak atau memakunya diharapkan Jawa tak lagi terombang-ambing manakala mendapat terpaan dahsyat ombak Laut Kidul.

Mengapa tidak seluruh Gunung Meru dijebol untuk dijadikan pasak?

Disamping tentunya menjadi lebih berat jika seluruh gunung diboyong ke Jawa. sengaja puncaknya yang lebih dipentingkan, karena pada puncak Meru itulah Kaindran (Kahyangan) berada.

Dengan memotong dan memindahkan puncak Meru ke Jawadwipa sekaligus memboyong Kaindrama (kahyangan, persemayaman para Dewa) ke Jawa. Kaindran yang mulanya jauh berada di India lantad didekatkan ke Jawa.

Proses itulah yang oleh para pengkaji mitologi Jawa diistilahi dengan “Jawani- sasi (pen-Jawa-an)”. Hal ini merupakan fenomena yang menguat pada Masa Majapahit.

Itulah pula mengapa puncak Gunung Semeru dipotong untuk dipindahkan ke Bali menjadi Gunung Agung, lantas puncak Gunung Agung dipotong untuk dipindahkan ke Pulau Lombok menjadi Gunung Rinjani. Kaindran menjadi rebutan untuk diboyong ke tempat masing- masing pemujanya.

Dalam kitab _Tantupanggelaran” yang pertama kali disunting oleh Dr. Th. G. Th. Pigeaud pada tahun 1924 itu dikisahkan bahwa Batara Guru (Shiwa) memerintahkan dewa Brahma dan Wishnu untuk mengisi pulau Jawa dengan manusia. Oleh karena kala itu pulau Jawa masih mengambang di lautan luas, terombang-ambing, dan senantiasa berguncang, maka para dewa putuskan untuk tancapkan paku (pasak) guna menstabilkan Pulau Jawa, yakni de dengan cara memotong punak Meru kemudian memakamkannya di Bhumi Jawa Dewa Wisnu ber- awatara menjadi seekor kura-kura raksasa (Akupa) untuk menggendong gunung itu di punggungnya, sementara Dewa Brahma menjelma menjadi ular naga raksasa (Ananta) yang membelitkan tubuhnya pada gunung sebagai tali yang beramai-ramai ditarik oleh para dewa dari Jambudwipa ke Jawadwipa Dalam perjalanan dari Jawa bagian barat ke Jawa bagian timur.

Puncak Meru rompal beberapa bagian menjadi sejarah gunung di perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur dan utamanya di wilayah Jawa Timur, yaitu : Gunung Katong (Lawu), Wilis, Kampud (Kelud), Kawi, Arjuna, Ardi Kumukus (Welirang), dan dibentang sebagian menjadi Gunung Pawitra (kini dikenal dengan nama “Penanggungan”). Adapun puncak utamanya menjadi Semeru. Semenjak itulah Jawa menjadi stabil. Ketika Sang Hyang Shiwa datang ke Jawa dilihat olehNya banyak pohon Jawawut, sehingga pulau ini dinamai “Jawa”. Wisnu kemudian menjadi raja yang pertama yang berkuasa di pulau Jawa dengan nama “Kandiawan”, dengan mengatur pemerintahan, masyarakat, dan keagamaan.

C. Ikhtiar Meredam Murka Gunung Api Semeru

Gunung Semeru sebagai potongan puncak Meru di dalam mitologi Hindu diyakni sebagai tempat persemayanan para dewa (kediaman Hyang), sebagai sarana penghubung antara manusia yang tinggal di bumi dengan Dewa yang berada di Kahyangan.

itulah latar mitologis mengapa Semeru (Mahameru) diyakni sebagai “gunung suci” kepada mana banyak bangunan suci di Jawa diorientasikan (dikiblatkan) ke puncaknya.

Warga Tengger yang tinggal dekat dengan Gunung Semeru meyakini bahwa mereka bermukim dekat dengan “Alam Kedewan” — dalam hal ini puncak Semeru diyakini sebagai Alam Ke-dewataan. Bila punya hajat, warga Tengger tidak berani menanggap wayang kulit Purwa yang melakonkan kisah kedewataan. Oleh karena mereka tinggal terlampau dekat dengan Alam Kadewan, maka menggantikan pertunjukan wayang kulit purwa dengan wayang topeng Malang dengan lakon Panji tentang kesejarahan Jawa.

Gambaran tentang Alam Kedewataan itu juga kedapatan dalam relief cerita “Kunjarakarna” yang dipahatkan di teras pertama Candi Jajaghu (Jago), yakni ada sebuah panil relief yang menggambarkan jalan kecil berkelok dan me- nanjak, yang merupakan jalan menuju ke “Swarga (Nirwana)”. Boleh jadi. jalan itu menggambarkan jalan sukar menuju ke puncak Gunung Suci Semeru.

Warga masyarakat sekitar Semeru dan pelaku ritual ke Gunung Semeru meyakini bahwa Dewata yang ber- semayam.di puncak Gunung Suci Semeru adalah Pasupati (पाशुपतास्त्)”– sebutan lain yang menunjuk kepada Dewata yang sama adalah “Pasupata”, yaitu salah sebuah sebutan untuk Dewa Siwa, yang disimbolkan dalam bentuk Lingga. Siwa adalah satu diantara Trimurti (Brahma, Wisnu dan Siwa), yang yang dikonsepsikan sebagai “pe-mralina (dewa perusak)”. Terkait itu, dampak destruktif letusan Gunung Berapi (vulkan) Semeru yang membawa kerusakan merupakan pengejawantahani sifat pralina dari Dewa Siwa tersebut.

Pasupata juga digunakan sebagai sebutan untuk salah satu sekte dalam agama Hindu yang lebih menonjolkan pemujaan terhadap Lingga sebagai pelinggih Dewa Siwa. Pada agama Hindu di Bali, kata “pasu (varian “pasura”) dan “pati (varian “pradana) membetuk kata gabung “pasupati”, dalam arti : pelinggih sari beruang dua yang ada di merajan untuk memuja leluhur dalam wujud purusa dan pradana sebagai sumber dari benih kehidupan.

Konon sekte ini pernah ada di Bali, sejumlah konsep berbeda dengan Siwa Shidanta, utamanya dalam hal cara pemujaan, dimana sekte Pasupata menggunakan Lingga sebagai perangkat ritus upacara keagamaannya.

Penyembahan Lingga — lambang Siwa — menjadi ciri khas sekte Pasupata, seperti antara lain hadir di pura Goa Gajah. Arah beragama pada sekte pada Niwrti, yaitu jalan (marga) yang di- proritaskan kepada penguatan kepada hati nurani, yang berorientasi ke dalam diri.

Adapun pada sekte Siddhanta arah beragamanya pada marga Prawrti, yang orientasi ke luar beragama ke luar diri.

Cara Niwrti dalam Siwa Pasupata ditempuh untuk mencapai keadaan yang ”Pasupata”, yaitu penguasaan nafsu yang identik dengan sifat-sifat kebinatangan.

Jika Dewa Siwa murka (ugra, saura), maka fungsi ke-pralina-annya berlangsung, yakni timbul ragam kerusakan di bumi. Manusia sebagai penghuni bumi tentu berikhtiar supaya buminya terhindar dari kerusakan. Itulah sebab mengapa dilakukan ritual pemujaan kepada Pasupati (Siwa, sebagai penguasa gunung, diistilahi dengan “Girisa”) yang diyakini menaungi Gunung Semeru.

Bangunan-bangunan suci dalam bentuk candi yang kedapatan tersebar di sekitar Gunung Semeru banyak yang mengorientasikan bangunan cucinya ke puncak Semeru untuk antara lain “meredam ugra Dewa Siwa”, untuk bisa terhindar atau selamat dari pralina-Nya.

Untuk kesekian kalinya kini Mahameru tengah aktif, yang diyakni sebagai berlangsungnya proses pralina dari kekuatan Dewa Siwa. Dengan perkataan lain “Sang Hyang Pasupati (varian sebutan “Padupata”) tengah maugra (masaura), sehingga perlu secara religis “diredakan ke-ugra-an)-nya. Lava dari lubang kepundannya naik ke kawah tumpah ke lerangnya. Proses alamiah naiknya aliran lava itu tentulah beda dengan naiknya tangah pemangku purel dari paha ke Semeru yang tergambar di dalam lirik lagu viral “Mangku Purel” terkutip diawal tulisan ini. Nuwun.

Sangkaling, 5 Desember 2022
Griyajar CITRALEKHA.

Sedangkan menurut Al Quran di bawah ini :

Adapun menurut perspektif Alquran dan sains, menjelaskan bahwa gunung adalah pasak (paku) bagi bumi. Hal ini terdapat dalam firman Allah SWT dalam Surah Al-Anbiya ayat 31 yang artinya: Dan Kami telah menjadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh agar ia (tidak) guncang bersama mereka, dan Kami jadikan (pula) di sana jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk, (QS. Al-Anbiya: 31).

Serta dalam Surah An-Naba ayat 6-7 yang artinya: Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan,dan gunung-gunung sebagai pasak? (QS. An-Naba: 6-7).
Dr. Frank Press seorang ahli geofisika asal Amerika Serikat dalam bukunya berjudul Earth, menyimpulkan bahwa gunung itu bentuknya seperti pasak (paku).
Permukaan gunung yang menjulang tinggi ke permukaan tanah, adalah sebagian kecil dari keseluruhan gunung yang bisa kita lihat sekarang. Sementara bagian gunung lain, yakni akarnya tertanam di dalam bumi.

Penyambung Referensi :
Guntur Bisowarno

Kontributor