by

MEDIASI UNTUK PENYELESAIAN KONFLIK

-Artikel-19 views

Keadilan adalah permasalahan mendasar yang telah ada sejak manusia diciptakan dan sampai dengan saat ini tetap masuk diakal untuk diulas. Sebagai makhluk sosial, keadilan merupakan kebutuhan asasi manusia. Akan tetapi bukan suatu perkara yang mudah untuk memahami makna keadilan itu sendiri, terlebih lagi menegakkan keadilan di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat yang majemuk. Adil bagi satu pihak belum tentu adil bagi pihak yang lain, demikianlah fenomena yang terjadi terkait persoalan keadilan. Begitu juga dengan keadilan dalam keimanan seseorang, keyakinan iman akan menghadirkan keadilan.

Media cetak dan elektronik seringkali menyajikan berita tentang keadilan baik dalam perspektif hukum, sosial, ekonomi, politik, budaya dan lain sebagainya. Bahkan terjadi situasi manakala peristiwa ketidakadilan diatasi dengan cara-cara yang justru mengakibatkan ketidakadilan yang semakin meluas. Peperangan dan perpecahan yang terjadi di berbagai tempat yang pada dasarnya memperjuangkan keadilan justru melahirkan korban-korban ketidakadilan. Kebijakan politik dan ekonomi yang pada dasarnya ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat justru melahirkan ketidakadilan terkait dengan distribusi pendapatan yang tidak berimbang. Berbagai undang-undang dan produk hukum beserta dengan penegakannya justru menimbulkan ketidakadilan di tengah masyarakat. Upaya mewujudkan keadilan seolah bagai menjaring angin. Apakah itu semua adalah hal yang sia-sia? Tidak sepenuhnya sia-sia, sejauh kita telah berusaha maka hasilnyapun juga akan berbeda. Lain halnya apabila kita hanya pasrah tanpa berbuat sesuatu, akanlah benar-benar sia-sia belaka. Hakekatnya keadilan diciptakan untuk mengatasi suatu konflik, akan tetapi sering terjadi manakala keadilan yang tercipta justru menimbulkan konflik berkepanjangan.

Kadangkala, kita justru menuduh Tuhan karena telah bertindak tidak adil. Kita merasa telah hidup seturut dengan apa yang menjadi kehendak-Nya tetapi berbagai hal buruk terus saja menimpa. Bisa jadi pula kita mulai meragukan dan mempertanyakan perihal keadilan. Keadilan dinyatakan melalui mencintai kebenaran itu sendiri dahulu, ada sebab maka ada akibat dari dosa yang telah diperbuat dan adanya hukum tabur tuai. Janganlah melawan api dengan api, melainkan doakanlah orang-orang yang menyakitimu. Dalam hal ini doa adalah pintu pertama untuk menggapai apa yang dinamakan dengan keadilan. Tanpa mengesampingkan hukum yang berlaku di suatu negara, kekuatan doa sangatlah besar pengaruhnya bagi pihak-pihak terkait karena dengan doa kita berkomunikasi dengan Tuhan, pencipta segala kebijakan. Tuhanpun kelak juga akan memberikan keadilan bagi umat manusia ketika hari kiamat datang, Ia akan memberikan penilaian tersendiri terkait dengan kehidupan manusia di dunia.

Seperti janji-Nya, Ia akan memberikan hidup yang kekal atau akan memasukan kita dalam dunia yang gelap dan masyarakat semakin memahami tentang harkat dan martabatnya sebagai makhluk ciptaan-Nya yang utuh dan sempurna dengan mengupayakan keadilan yang bermartabat di tengah-tengah kehidupan bersama. Kalaupun berbeda biarlah perbedaan itu hidup bersama-sama, tidak diharuskan untuk diseragamkan tetapi menganut satu landasan yang sama yaitu Pancasila dan bukan tidak mungkin akan menghasilkan harmonisasi yang jauh lebih indah.

Konflik = conflict berasal dari kata kerja latin configere < com (yang berarti bersama atau bersaling-silang) + fligere (yang berarti tubruk atau bentur). Definisi bebasnya adalah benturan antara dua pihak. Suatu keadaan yang terjadi karena adanya pertentangan antara dua atau beberapa kekuatan yang berlawanan. Kekuatan tersebut bersumber dari keinginan manusia atau kelompok yang tidak seragam. Konflik bisa bersifat laten atau terpendam, tetapi bisa pula bersifat manifes atau terbuka.

Konflik terjadi didalam dan diantara individu, komunitas, negara dan budaya. Konflik bersifat alami. Konflik dialami oleh orang dari berbagai latar belakang, budaya, kelas, kebangsaan, umur dan jender setiap harinya. Yang paling penting bukanlah apakah konflik itu berdampak baik atau buruk tetapi adalah bagaimana kita menghadapinya.

Sumber terjadinya konflik yaitu
⦁ Kebutuhan : esensi terhadap kesejahteraan dan keberadaan manusia.
⦁ Persepsi : cara pandang dan pemahaman terhadap suatu hal atau masalah.
⦁ Kekuasaan : kemampuan yang dimiliki seorang untuk mempengaruhi orang lain sesuai dengan kehendaknya.
⦁ Nilai : kepercayaan atau prinsip dasar yang dipertimbangkan sebagai hal yang amat penting.
⦁ Perasaaan dan emosi : respon yang timbul dari individu/kelompok dalam menghadapi konflik

Penyebab Konflik :
⦁ Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.
⦁ Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda.
⦁ Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.
⦁ Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.

Mediasi adalah cara penyelesaian sengketa melalui proses perundingan untuk memperoleh kesepakatan para pihak. Untuk tujuannya adalah untuk mencapai atau menghasilkan kesepakatan yang dapat diterima pihak-pihak yang bersengketa guna mengakhiri sengketa. Dengan mediasi diharapkan dicapai titik temu dalam menyelesaiakan masalah yang dihadapi para pihak, yang selanjutnya akan dituangkan sebagai kesepakatan bersama. Mediasi mempunyai beberapa keunggulan yaitu ditempuh dalam waktu singkat, menghemat waktu dan biaya, dilaksanakan secara tertutup dan rahasia, prosedur dan proses bersifat informal, fokus kepada akar permasalahan dengan memperhatikan aspek-aspek komersial, psikologis dan emosi para pihak dan bentuk penyelesaian merupakan hasil kesepakatan para pihak yang bersengketa (berkonflik menjadi awal mulanya). Mediasi bertujuan untuk menemukan solusi yang terbaik atas sengketa yang terjadi diantara para pihak, dimana solusi ini dapat mereka percayai dan jalankan dan bukan untuk mencari kebenaran atau memaksakan penegakan hukum, melainkan untuk menyelesaikan masalah, mensosialisasikan dan mengembangkan konsep mediasi kepada publik, pemerintah dan organisasi dengan bekerjasama dengan berbagai institusi dan mendorong pemanfaatan mediasi dalam menyelesaikan sengketa pada seluruh tingkat lapisan masyarakat sesuai dengan semangat musyawarah.

Kesepakatan bersama (win win solution) yang dihasilkan dari Mediasi adalah sama muatan hukumnya dengan putusan Pengadilan. Meskipun cara Mediasi jauh lebih efisien namun animo masyarakat untuk menyelesaikan sengketa lewat jalur Mediasi jauh lebih sedikit daripada Pengadilan. Masyarakat memperkarakan perkaranya ke Pengadilan adalah untuk mencari putusan Pengadilan yang memuaskan dirinya, bukanlah orientasi mediasi yang dicari. Sulit rasanya untuk mengubah dalam jangka pendek perihal etos budaya dalam masyarakat, karena masyarakat terkesan terpuaskan apabila dapat melihat pihak yang terkalahkan menderita. Maka ada baiknya kita mulai mengubah pola pikir masyarakat dari menghukum dan penderitaan menjadi musyawarah untuk kebaikan bersama. Secara terus menerus diadakan sosialisasi perihal arti pentingnya mediasi untuk menyelesaikan konflik.

 

Penulis: Yudhi Widyo Armono, SE, SH, MH

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed