by

ME-‘RESET’ HIDUP SEMBARI MENUNGGU CORONA MEREDUP

-Artikel-293 views

Socrates filsuf kesohor Yunani yang juga sering dijuluki sebagai bapak filsafat pernah berkata: ‘THE UNEXAMINED LIFE IS NOT WORTH LIVING’ alias kehidupan yang tidak teruji adalah kehidupan yang tidak bernilai. Dengan ucapannya itu, Socrates mau mengatakan dan menekankan bahwa hidup itu penting. Bahkan secara pribadi, saya mengatakan bahwa hidup itu merupakan karunia yang paling berharga bagi saya yang dianugerahkan oleh Allah untuk saya. Bukankah saya bisa melakukan berbagai kegiatan ini dan itu karena saya hidup. Bila hidup ditarik kembali oleh Sang Pemberi hidup, berarti saya akan mati dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Melihat begitu pentingnya hidup, maka perlu hidup itu dirawat. Agar hidup sungguh bermakna, kita semua perlu mengevaluasi, mengkaji dan merefleksikannya. Janganlah hidup asal hidup, asal menggelinding. Ibarat kita melepas roda di jalan, roda akan berjalan tanpa kendali, belok kanan, belok kiri, menabrak sesuatu yang ada dihadapannya. Roda itu bisa merusak apa saja yang diterjangnya dan bisa mencederai orang yang tertabrak. Itulah hidup yang asal menggelinding saja. Tanpa makna. Maka, hidup perlu selalu dievaluasi, dikaji dan direfleksi untuk kemudian diperbaiki apabila ada hal yang tidak pantas dihidupi. Nah, hidup yang selalu dievaluasi dan ditata ulang itu ibarat kita naik ‘andong’ atau kereta kuda. Kita mengendalikan kuda. Apabila kuda berlari tidak sesuai dengan kemauan kita, kita bisa mengendalikan, bisa meluruskan kembali ke arah yang kita kehendaki. Kuda tidak asal jalan, nabrak sana, nabrak sini dan bisa merugikan orang lain atau kita sendiri. Dengan evaluasi dan refleksi, hidup menjadi lebih berarti. Hidup menjadi nyaman dan pantas dihidupi. Tidak merugikan orang lain atau diri sendiri.

Nah, saat ini dunia sedang dilanda wabah corona. Corona merebak dimana-mana, di sebagian besar negara di dunia. Ini fakta. Menyikapi mewabahnya virus corona, orang memiliki pendapat atau komentar yang berbeda-beda. Hal itu wajar-wajar saja, karena manusia diciptakan oleh Sang Pencipta dengan keunikannya masing-masing. Bahkan ada ungkapan dalam bahasa Latin yang  populer yang juga mau menegaskan bahwa orang itu berbeda-beda, termasuk pendapatnya. TOT CAPUT QUAD SENSUS’ alias ‘rambut di kepala sama hitam, pendapat berbeda-beda’. Ada yang berpendapat merebaknya virus corona sebagai hukuman Tuhan karena manusia sudah hidup tidak sesuai dengan tuntunanNya atau perintahNya sehingga Tuhan murka. Ada yang mengatakan inilah cara Tuhan mengajar manusia agar manusia hidup benar seperti yang Allah kehendaki.

Sesuai dengan iman yang saya yakini, menurut ajaran agama saya yang saya jalani, ‘ALLAH ADALAH KASIH’ alias DEUS CARITAS EST’. Sifat Allah itu kasih, bukan Allah yang kejam. Maka, saya menyikapi mewabahnya corona bukan sebagai cara Allah menghukum umat manusia, melainkan sebagai cara untuk mengingatkan agar manusia hidup sesuai dengan kehendak Allah karena manusia makin menyimpang jauh dari jalan Tuhan. Maka, manusia harus berani berbalik arah kembali kepada Tuhan dengan ‘pertobatan’. Kita harus berani membuang semua dosa atau kotoran jiwa kita. Kita keluarkan semua kotoran jiwa sampai hati menjadi bersih. Lalu setelah bersih hati kita isi dengan kebaikan-kebaikan, sehingga kita menjadi manusia baru. Meminjam istilah dalam dunia teknologi yang berhubungan dengan dunia komputer kita ‘mereset hidup kita alias menata ulang hidup kita’.

Nah, pertanyaannya bagaimana atau apa yang mesti kita lakukan agar kita bisa mereset hidup kita? Langkah pertama yang mesti kita kerjakan adalah intropeksi alias melihat hidup kita secara jujur atau realtistis. Untuk ini dibutuhkan saat hening agar kita bisa dengan jelas melihat hidup kita, lebih-lebih yang tidak sesuai dengan kehendak Allah.

Untuk intropeksi diri, kita perlu kembali ke kisah penciptaan semesta alam dengan segala isinya. Semua yang diciptakan Allah tidak ada yang tidak baik. Semua baik. Maka, kalau sekarang menjadi tidak baik, pasti bukan kehendak Allah. Penderitaan, bencana terjadi karena ulah manusia sendiri. Pada sebuah misa live streaming pada saat pandemi corona ini, ada seorang Pastor yang dalam homilinya mengajak seluruh umat untuk melihat relasi-relasi kita yang meliputi tiga area. Apakah masih ada keharmonisan diantara relasi-relasi itu?

Pertama. Relasi manusia dengan Allah. Apakah manusia masih setia menyembah Allah Yang Esa dan Maha Kuasa? Ataukah manusia sudah meninggalkanNya dan pindah ke allah-allah lain? Kalau orang Israel dulu menyembah allah-allah berupa patung berhala, tentu berbeda dengan orang zaman now. Mereka tidak menyembah patung. Allah atau berhala orang zaman modern adalah uang, kekuasaan, seks, karir, dll.

Kedua. Relasi manusia dengan manusia. Rasanya relasi antar manusia juga mengalami degradasi. Sekarang ini kerukunan mengalami penggerusan. Kepedulian terhadap sesama semakin berkurang. Sebaliknya sikap cuek lebih menonjol. Orang gampang memusuhi orang lain. Tidak mudah maaf memaafkan, sehingga yang ada adalah dendam, balas membalas.

Ketiga. Relasi manusia dengan lingkungan atau alam. Saya kira kita semua tahu bahwa relasi antara manusia dengan lingkungan atau alam, juga tidak harmonis. Dimana-mana terjadi penebangan atau penggundulan hutan, pembakaran ladang. Banyak juga binatang yang diburu. Semua tujuannya adalah uang. Orang tidak peduli akibat yang ditimbulkan oleh perilaku mereka. Maka, tidak mengherankan kalau sering terjadi banjir dimana-mana. Kota yang dulu aman dari banjir sekarang menjadi langganan banjir. Ini akibat yang harus kita terima bila manusia tidak bersahabat dengan lingkungan atau alam dengan merawatnya. Semoga homili Pastor ini menjadi refleksi kita bersama. Marilah kita mereset hidup kita dengan membuang perilaku yang sembarangan yang akan merugikan manusia sendiri dengan berani memperbaiki diri sambil menunggu corona meredup. Semoga corona segera berlalu.

 

Penulis: Ph. Ispriyanto.

Kontributor