by

Masyarakat Peduli Lawu Adakan Sarasehan Budaya Untuk Pelestarian Wukir Mahendra

-Daerah-523 views

Wartaindonews, KEMUNING – Beberapa komunitas pecinta Gunung Lawu dan masyarakat bergabung bersama mengadakan sarasehan budaya dengan tema Pelestarian Wukir Mahendra di bescamp pendakian Cetho Jumat 2 Agustus 2019.

Tampak beberapa komunitas pecinta Gunung Lawu yang hadir diantaranya Reco, AGL, PGL, MANTAP, RENDAN, Hima Lawu, Jaga Lawu, Rimba Lawu, organisasi, tokoh masyarakat, warga sekitar dan beberapa yang lainnya juga Dewan Pemerhati dan Penyelamatan Seni Budaya Indonesia. Tampak hadir pula Ketua LSM DPPSBI BRM. Kusumo Putro SH, MH selaku pembicara dan narasumber dalam sarasehan tersebut.

Wukir Mahendra ( Gunung Lawu ) adalah bentang alam yang memiliki sejarah peradaban dimasa silam. Terbukti dengan banyaknya penemuan situs sejarah di kawasan Gunung Lawu yang di akui secara sah oleh dinas terkait di dalam negeri maupun lembaga pelestari dunia.

Beberapa peninggalan situs Cagar Budaya di Gunung Lawu saat ini diantaranya :
1. Candi Sukuh
2. Candi Cetho
3. Candi Planggatan
4. Candi Kethek
5. Situs Menggung
6. Ringin Jenggot
7. Tapak Brawijaya
8. Cemoro Pogog
9. Pertapaan Pringgodani
10. Dan situs lain yang saat ini sudah banyak ditemukan oleh masyarakat sekitar tetapi belum terespos secara umum.

Selain peninggalan situs Cagar Budaya, budaya kearifan lokal yang berbenda maupun yang tidak berbenda seperti adat dan tradisi yang bersumber dari kearifan masyarakat terhadap pelestarian Gunung Lawu, juga menjadi kekayaan yang sangat tidak ternilai.

Banyaknya temuan situs sejarah baik yang sudah didaftarkan ataupun yang belum didaftarkan ke dinas terkait, menjadikan Gunung Lawu layak menyandang status Landscape Cagar Budaya. Meski status tersebut saat ini sudah didaftarkan dan berlanjut ke dalam proses pengkajian, namun amanat UU tentang Cagar Budaya jelas mengatakan perlakuannya sebagaimana layaknya Cagar Budaya. Sehingga sanksi hukum akan berlaku bagi siapapun yang merusak dan menghalangi proses pelestariannya.

Kerusakan secara otomatis akan memberikan dampak hilangnya keseimbangan alam, tergerusnya kearifan lokal masyarakat dan rusaknya ekosistem alam Gunung Lawu.

Mengacu pada hal tersebut maka masyarakat dilarang melakukan kegiatan apapun yang bisa merusak kelestarian Cagar Budaya di Gunung Lawu.

“Kami akan menindak tegas setiap orang yang dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi, atau menggagalkan upaya pelestarian Cagar Budaya sesuai Pasal 55 yaitu pidana 5 tahun dan/atau denda paling sedikit Rp 10.000.000 ( sepuluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 500.000.000 ( lima ratus juta rupiah ) dan juga melarang semua kegiatan ilegal di Landscape Cagar Budaya.” tegas BRM Kusuma Putra. (Tutty F)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed