by

Macandetan: Sebuah Catatan Kebudayaan

-Artikel-78 views

Tehnologi nirkabel mendekatkan semua aktifitas dunia ke depan mata kita. Menggenggam hanya ponsel android, ada jutaan, bahkan meliaran konten Youtube bisa disimak. Mulai dari hal-hal konyol, seronok, kepornoan, hiburan, hingga kemalangan melawan akal. Namun, di balik kekonyolan dan cibiran hidup yang jahil, yang hampir mubasir itu, kita juga menemukan konten-konten edukatif inovatif– bahkan kadang kontemplatif. Sebutlah misalnya dunia musik — mulai dari musik bergenre kesukuan hingga musik-musik kontemporer.

Kita bisa menikmati jutaan ragam musik, baik itu musik cadas berjenis rock, reggae maupun musik syahdu untuk menenangkan pikiran; musik pengantar meditasi misalnya. Di situ disajikan beragam pilihan sesuai mood pendengar. Ini dunia baru tentu, manakala kanal Youtube mengalir bagai air bah. Siapa saja bisa menjadi “manusia penonton” dengan hanya menghandalkan satu “klik jari. ” Semua hadir dihadapkan kita, menjadi realitas tak terbayangkan. Apa yang kemudian disebut Youtuber adalah lahan baru di mana orang-orang bisa berebut subcribe, artinya berebut penyuka dan rezeki dengan konten apapun. Orang kaya baru dari dunia nirkabel pun kian melejit.

Dalam gelombang air bah informasi itu, kreatifitas dan kepekaan kita terus diuji, karena disitu ia menemukan tantangan-tantangan baru, perihal apa kemudian disebut dunia metaverse — dunia yang memliki kesanggupan merebranding dengan memberi sinyal dan merangkul ide-ide futuristik. Dunia yang sepuluh tahun silam tak bisa kita bayangkan. Sungguh, hari ini dunia dibuat kian datar, terjangkau sekaligus tak terjangkau — “durga maya”, kata orang Bali.

Begitulah di kanal Youtube itu orang bisa dengan mudah menikmati gambelan Bali dari jenis apapun. Mulai dari Gambang, Selonding, Gong Gde, Gong Luang, Semara Pagulingan, Pagenderan, Preret, Angklung, Rindik, Jegog hingga produk kreatifitas terbaru bernama gambelan Pesel. Begitu pula tari-tari baru ikut hadir, kadang tak mudah menggoda bagi siapa saja yang mempunyai cukup selera seni. Dia menjadi sejenis produk massa, meluber, kerap membuat penonton cepat jemu. Atau begitu cepat berpindah sinyal karena saking banyaknya pilihan, hingga “kanal batin” kita tak mendapat jeda menikmati sampai jauh mendalam. Kehambaran tengah menghantui kita, para seniman memerlukan magnitud baru untuk melelehkan hati para penikmat. Semua harus tunduk pada standar dunia nirkabel produk budaya metaverse — secara teknik ia menjadi seragam, kerap menjemukan sekaligus menggoda.

Di tengah-tengah kelindan dunia nirkabel itulah, “yang silam” dan “yang baru” hadir bersamaan. Yang dina, melarat, juga hadir meniru yang tajir, ningrat tak terjangkau. Kita bisa menonton sesuka hati gambelan “Kebyar Ding” karya tokoh legendaris Nyoman Regog, yang diciptakan tahun 1925. Atau menikmati tabuh “Jaya Warsa” karya I Gusti Made Putu Geria, karya kerawitan yang dilaras tahun 1968 itu, sembari rebahan di tempat tidur — lalu sesuka hati pindah sinyal untuk menonton tarian Legong klasik bergaya Banjar Binoh, Denpasar.

Puas menonton “Kebyar Ding” kita bisa beralih menikmati alunan rancak pagenderan “Gringsing Kuning” dari anak-anak Sanggar Kreatifitas Maha Bajra Sandhi asuhan guru pemikir- meditatif Ida Wayan Granoka, seorang linguis, seniman serba bisa kelahiran Desa Budekeling, Karangasem. Atau menonton penuh kagum penggalan-penggalan akbar pegelaran sanggar ini, mulai dari Perburuan ke Prana Jiwa, liukan Dyah Rangke Sari, Marga Wening, hingga penggalan-penggalan penuh gemuruh ritus ‘dibia’ desa “Grebeg Aksara”. Disitu, Granoka terlihat benar-benar menghadirkan visi baru yoga musik Yuganadakalpa dalam bangunan Pakarana Gamelan, seperti halnya pendeta saat memimpin upacara di Bali.

Dalam silang dunia lingkar maya seperti ini kita juga bisa menyaksikan karya-karya akademisi muda ISI Denpasar. Sebutlah misalnya; karya-karya musikal I Wayan Sudirana yang menghadirkan Gamelan Yuganada. Tontonlah “Rejang Jajar Pari yang gemulai dan elegan itu. Di sana Sudirana seakan merestorari kesilaman menjadi pegelaran baru, dengan tetap memegang tradisi leluhur, dengan iringan gegambelan khas bebonangan. Atau mendengar langgam gambelan Bali baru dari karya-karya Wayan Gde Yudane yang terdengar amat “matematis”, kakotekan yang tertib dan ketat, yang menggoda telinga para pangrawit tradisi. Coba menonton karya-karya tari Ida Ayu Wayan Arya Satyani yang terlihat unik, menggali genre baru tari Bali yang khas, dengan sentuhan bahasa tubuh kenyal gemulai namun arkais, bahwa menari memerlukan keterlibatan seluruh kecerdasan, baik kecerdasan tubuh, pikiran, serta kepekaan intuitif — hingga menjadi sejenis tarian jiwa.

Sebagai pulau kecil, yang memiliki kebudayaan unik, Bali mewariskan tradisi musikal amat subur, beragam dan rancak. Boleh jadi ini karena musik atau gamelan di Bali tidak semata-mata terhubung dengan dunia hiburan. Nun di situ gamelan juga hadir dalam ritus-ritus suci — dalam berjenis-jenis upacara daur hidup manusia Bali. Maka gamelan lalu menjadi semacam ideologi, bahwa bermusik itu adalah juga panggilan menutrisi rohani. Bermusik adalah kerja kebudayaan, mendinamiskan kultur okestranya, menata nada batin massa pendengarnya. Tentu ideolgi gamelan Bali yang paling nirkata adalah ‘prakempa’, satu kosmologi nada-nada semesta, lengkap dengan tata dewa-dewa, arah kiblat, hingga musik batin bernama “genta pinara pitu” —suara genta berganda tujuh.

Beragam gamelan yang terwarisi hingga kini menunjukkan keluhuran itu sebagai warisan rohani manusia Bali. Warisan yang dalam tugasnya paling ilahiah menghaluskan otak korteks kita yang kasar, atau difungsikan untuk memanggil dewa-dewa turun ke bumi saban upacara. Berjenis-jenis tari rejang yang terwarisi di Bali hingga kini adalah contoh kongkrit di mana dewa-dewa bisa ‘diturunkan’ lewat gamelan dan tarian.

Maka, agama bagi orang Bali adalah agama yang bersuka-ria, bangunan katarsis masal, pegelaran yoga sosial untuk menata harmoni. Bunyi gamelan, dentingan genta, lengkingan sungu, alunan kidung, madah mantra-mantra, api tetimpug, warna bunga-bunga, dan yantra-yantra upacara seperti bebanten adalah elemen di mana yoga sosial itu digelar — di situ manusia meritus dirinya dan juga meritus alam lingkungannya. Ini tentu ideasi yang diharapkan. Namun toh kerap ideasi itu tak mudah dijalankan, selalu ada kesenjangan antara ideasi dan tindakan.

Setiap desa di Bali memiliki gamelan yang selalu dikeramatkan, juga tari-tarian yang tidak setiap saat bisa ditonton. Ubud adalah contoh nyata di mana dunia seni selalu berdiaspora. Boleh jadi Ubud merupakan desa paling beruntung — karena entah dikondisikan atau tidak, pembaharuan, penyerapan, proses hibrida kultural selalu terjadi di desa tua ini. Di bidang seni lukis misalnya, tak bisa dihindari, pengaruh Rudolf Bonnet, Walter Spies dianggap memberi cahaya baru dunia seni lukis Bali di Ubud.

Penting dicatat, dalam bidang seni musik, kehadiran Collin McPhee di Desa Sayan menghadirkan hibrida baru dalam tehnik-tehnik gamelan Bali. Kendati dalam pembelajaran-pembelajaran langsung, Bali memiliki metode tersendiri, dengan metode petuding langsung, menghafal tanpa notasi, tidak sebagaimana pengajaran musik di Barat. Karenanya, nama McPhee perlu dicatat, tidak saja bagi dunia musik di Ubud. Namun bagi khasanah musik ‘Pulina’ Bali yang kecil ini. Buku berjudul Music in Bali menunjukkan keseriusan etnomusikolog pada dunia musik Bali, dan menjadi magnum opus, rujukan tunggal bagi siapa saja yang mendalami dunia gamelan Bali.

Manakala memori kultural tentang musik Bali kian ‘apus’, Bali berhutang pada Collin McPhee. Ia berjasa mencatat puluhan notasi paletan kidung berdasarkan paletan-paletan gending Gambang. Sebutlah misalnya; paletan Megat Kung, Wilet Si Tan Pegat, Jagir Mangu, Anting-Anting Timah, Tambangan Badung, Misa Gagang, Wilet Adang-Adang, Kebo Dungkul, Rareng Canggu, Juragan Danu, dan puluhan paletan kidung lainnya. Dan, Ubud tentu sangat mengkondisikan kerja akademis Collin McPhee — alih-alih saat rumahnya di Sayan dijadikan tempat latihan, di mana ia bisa belajar dan mengajar lebih karib, hingga memahami psiko-kultural gamelan Bali.

Buku Music In Bali karya Collin McPhee memberi babak baru bagi dunia gambelan Bali. Dimulainya Center of World Music dan dikirimnya pengajar gamelan Cokorda Agung Mas Kanaka ke LA, Amerika menjadi penanda penting “glo-Bali-sasi” gamelan Bali. Tentu tak sampai di situ, gamelan Bali terus berkembang mengikuti arah zaman. Historitas dan jejak proses-proses itu setidaknya bisa kita baca layaknya historiografi musik. Tidak ada proses yang selesai memang. Namun setiap capaian adalah kebudayaan yang mengalir. Waktu mengadilinya, yang kadang terlihat pilih kasih, kejam. Memang, hari ini di dunia yang kian datar itu, yang dicatat dan yang diloloskan waktu sungguh berbeda. Sebab seniman adalah mereka yang terhanyut membawa tradisi dengan keunggulan masing-masing. Begitulah seniman kerawitan sekelaliber I Wayan Kale, I Gusti Made Putu Geria, I Nyoman Regog, Gde Manik, Cokorda Agung Mas Kanaka, dan lain sebagainya untuk menyebut beberapa nama — mereka adalah guru-guru yang mengalir membawa tradisi. Capain-capain mereka adalah tonggak, di mana generasi bisa belajar untuk mengalirkan kembali pada generasi. Dan buku Macandetan ini adalah salah satu cara untuk mengalirkan tradisi itu, tentu dengan sejumlah ketidaksempurnaan manusiawi.

Kusa Agra, Purnama Kartika, 2022

I Wayan Westa
Penulis dan Pekerja Kebudayaan

Kontributor