by

MA, CIUM AKU DONG MAAA!

-Artikel-112 views

Nobody’s child adalah sebuah lagu yang cukup popular di tahun 70-an. Lagu itu meroket. Penyanyinya adalah Karen Young, seorang penyanyi wanita dari Inggris. Lagu ini bercerita tentang seorang wanita yang mampir di satu panti asuhan. Cerita lengkapnya adalah sebagai berikut:

Ada seorang wanita yang mampir di sebuah panti asuhan. Dia melihat seorang anak lelaki sendirian dan bertanya kenapa padanya, kepalanya mendongak dan menampakkan matanya yang buta dan dia mulai menangis sambil berkata: Aku bukan anak siapa-siapa, laksana kembang di padang aku tumbuh sesukaku, tak ada cium mesra seorang ibu, tak ada senyuman seorang ayah, tak ada yang menginginkanku karena aku bukan anak siapa-siapa. Orang datang untuk mencari anak untuk dibawa. Ku tahu mereka sebenarnya tertarik untuk membawaku, namun begitu tahu buta, mereka selalu membawa anak yang lain. Aku tetap sendiri dan sepi. Tak ada pelukan lembut seorang ibu atau bujukan meredakan tangisanku. Terkadang sepi begitu menyesak hingga aku mau mati saja. Ku akan berjalan menapak tangga surga dimana semua orang bisa melihat tanpa kecuali. Dan sama seperti anak lain, kini akan ada rumah bagiku.

Lagu ini bernuansa sedih, sendu dan melow. Anak yang diceritakan dalam lagu ini buta. Dia tinggal di panti asuhan, yang berarti tidak dirawat oleh orangtua sendiri. Tidak diceritakan alasan mengapa anak ini tidak diasuh atau dibesarkan oleh orangtua sendiri. Dengan hidup atau tinggal di panti asuhan, jelas dia tidak menerima atau kehilangan kasih dari orangtuanya. Dia pasti sedih sekali dan berharap mendapat kasih dari orang lain. Dia tahu ada orang yang mau mengambil anak dari panti asuhan untuk diadopsi. Tetapi mereka tidak mengambil anak ini, setelah mengetahui bahwa anak ini buta. Dia semakin sedih karena tertolak. Tidak ada orang yang mau menerima dia dan mengasihinya. Karena tidak ada yang menerima dia dan mengasihinya, dia berujar aku bukan anak siapa-siapa, laksana kembang di padang, aku tumbuh sesukaku alias tumbuh liar. Tak ada cium mesra seorang ibu, tak ada senyuman seorang ayah. Dampak dari kebutaannya yang sangat menyedihkan, dia tidak merasa ada orang yang mencintainya atau mengasihinya, yang diwujudkan dalam cium mesra atau senyuman. Kasih adalah kebutuhan dasar manusia, bahkan kebutuhan paling dasar.

Nah, berbicara tentang ‘Kasih’ dalam konteks antara orangtua dengan anak, dewasa ini tidak sedikit anak yang bernasib sama dengan anak buta dalam lagu Nobody’s child, meskipun anak tidak buta alias anak normal atau utuh. Yang dimaksud bernasib sama adalah anak juga tidak mendapat ungkapan kasih yang konkrit seperti ciuman atau pun pelukan dari orangtua. Mengapa hal ini terjadi? Ada bermacam alasan yang menyebabkan orangtua sampai tidak memberikan ciuman atau pelukan kepada anak.

Pekerjaan.
Tuhan memberikan waktu 24 jam sehari kepada setiap orang. Semua sama. Waktu itu ada yang dipakai untuk bekerja, untuk istirahat, untuk pergaulan, untuk hobi, dll. Diantara aktifitas yang bermacam ragam itu, biasanya pekerjaan mengambil waktu paling banyak. Rata-rata waktu kerja adalah 8 jam. Tetapi ada juga yang bisa lebih untuk pekerjaan tertentu. Tentu setelah menunaikan tugas bekerja, orang mengalami kelelahan. Dalam kondisi lelah dan capai, yang dibutuhkan adalah istirahat. Yah, ini logislah. Sebagai mana orang haus yang dibutuhkan adalah minum. Orang yang lapar yang dibutuhkan adalah makan. Orang yang mengantuk yang dibutuhkan adalah tidur. Dengan demikian orang pulang kerja dalam kondisi capai, yang dibutuhkan ya istirahat. Dia sudah tidak ada perhatian diluar kebutuhannya itu, termasuk peduli kepada anak. Bahkan ada juga orang yang pulang kerja masih membawa pekerjaan kantor yang harus diselesaikan di rumah.

Hobi.
Hobi merupakan kebutuhan jiwa bersama dengan rekreasi, pergaulan, dll. Sebagai kebutuhan tentu harus dipenuhi. Tentu hobi merupakan sesuatu yang baik bagi semua orang, karena hobi pasti sesuatu yang menyenangkan. Hobi membuat orang gembira. Maka tidak mengherankan orang bisa begitu asyik dengan hobinya. Orang bisa asyik dengan hobinya berlama-lama bahkan berjam-jam, sehingga kadang sampai lupa waktu. Karena itu orang yang keasyikan dengan hobinya, bisa jadi melupakan hal lain, tugas, anak, dll.

Pergaulan atau pertemanan.
Sebagai makhluk sosial adalah wajar kalau orang memiliki kecenderungan untuk berkumpul dengan orang lain. Apalagi kalau pertemanan itu berlandaskan ketertarikan yang sama. Itu pasti mengasyikan dan bisa makan waktu yang lama. Misalnya: catur. Wah itu bisa berjam-jam sehingga lupa untuk memberi perhatian pada hal lain, termasuk perhatian terhadap anak.

Konsep pendampingan anak yang keliru.
Mendampingi pertumbuhan atau perkembangan pribadi anak adalah tugas orangtua sebagai pendidik utama dan pertama. Pendampingan terhadap pertumbuhan atau perkembangan anak harus utuh atau integral, yang mencakup kebutuhan fisik, jiwa dan roh. Kebutuhan fisik sebagai kebutuhan dasar, pada umumnya terpenuhi bahkan ada yang berlebih. Kebutuhan makan, sandang, fasilitas seperti motor, HP atau laptop, dll. Tetapi itu saja tidak cukup. Masih ada kebutuhan jiwa. Dalam konteks orangtua dan anak, kebutuhan jiwa itu berupa relasi cinta kasih. Yang salah satu ungkapannya adalah ciuman atau pelukan. Dan masih ada kebutuhan roh, yaitu doa, merenung, meditasi dan membaca Kitab Suci. Dan jangan lupa Ekaristi. Itulah pendampingan utuh atau integral. Namun di zaman now, banyak pendampingan orangtua yang tidak utuh. Sekarang yang banyak terjadi adalah pendampingan yang timpang. Banyak orangtua yang beranggapan sudah cukup bertanggung jawab membesarkan anak kalau sudah menyediakan atau memberi kebutuhan fisik anak. Makan, sandang, HP, laptop, motor, dll. Konsep orangtua tentang pendampingan anak keliru. Anak butuh perhatian orangtua. Tidak bisa dilepas begitu saja. Yang namanya ‘Hati’ tidak bisa diganti dengan barang atau benda. Anak mungkin diam, seolah-olah tak terjadi apa-apa, tetapi sebenarnya sangat mengharapkan kasih orangtua yang diekspresikan melalui ciuman atau pelukan.

Berikut adalah kisah nyata yang dialami oleh 2 remaja putri yang sangat mendambakan ciuman atau pelukan mama, namun tidak mendapatkannya.

Kisah I.
Ada seorang siswi SMA, sebut saja namanya ‘Mawar’ (bukan nama sebenarnya). Mama Mawar adalah seorang pengusaha warung makan. Dia bekerja mulai sekitar jam 10.00 pagi hingga jam 10.00 malam. Sehari penuh antara Mawar dan mama Mawar tidak saling jumpa. Maka sangat wajarlah bila mama Mawar selesai menutup warung makan, Mawar ingin bermanja-manja dengan mamanya. Tetapi mama Mawar tidak pernah memberikan kesempatan. Sambil mendorong Mawar untuk menjauh, mama Mawar berkata: ‘Sik to, Nik! Itu kentangku, belum dikupas. Kobisku belum dirajangi’. Mama Mawar terus bekerja tanpa memperhatikan Mawar. Mawar kecewa tidak bisa menerima ciuman atau pelukan sambil bermanja-manja. Kecewa tidak bisa mendapat cinta kasih atau perhatian di rumah, Mawar mencari di luar rumah. Mawar datang kepada gurunya dan bermalam 4 hari. Mawar curhat kepada guru Mawar. Mendengar curhat Mawar dan bisa menangkap kebutuhan Mawar, setiap hari di sekolah, guru Mawar selalu mencium Mawar. Mawar menjadi lebih ceria dan bersemangat.

Kisah II.
Saya mempunyai seorang murid les. Sebut saja namanya ‘Melati’ (bukan nama sebenarnya). Orangtua Melati adalah pengusaha tekstil. Rumah Melati besar, bagus, bertingkat, lengkap dengan taman, binatang piaraan berupa burung dan anjing dalam jumlah yang banyak. Setiap kali datang dan mengetuk gerbang, sambutan pertama adalah gonggongan anjing, baru kemudian pintu dibuka oleh pembantu. Pernah suatu hari, saya mengetuk gerbang. Sambutan pertama tetap sama, yaitu gonggongan anjing, tetapi yang membuka pintu adalah Melati. Lalu saya masuk dan melihat mama Melati sedang asyik bermain dengan salah satu anjingnya. Mama Melati dengan mesra menciumi si anjing dan mengelus-elusnya. Sambil berjalan saya bertanya kepada Melati: ‘Mama Melati suka anjing ya?’. Melati menjawab: ‘Banget, Pak!’. Tiap hari mama mesti bermesraan sama anjingnya, diciumi, dielus-elus. Tetapi tidak melakukan hal yang sama untuk anaknya (maksudnya Melati)’. Melati iri. Melati cemburu. Ini kisah yang menyedihkan.

Kedua kisah diatas adalah kisah tentang dambaan anak akan ciuman atau pelukan dari mamanya, sebagai ungkapan cinta yang tidak terpenuhi dengan latar belakang atau alasan yang berbeda. Kisah I, alasan pekerjaan. Kisah II, alasan hobi. Entah alasan apa yang melatarbelakangi, semoga orangtua menyediakan waktu untuk anak, demi terpenuhi kebutuhan jiwa anak, yang bisa membangkitkan semangat anak dan menjadikan anak gembira dan pertumbuhan anak utuh. Catatan: lebih-lebih bagi orangtua yang sedang mendampingi anak kecil, yang masih bayi. Berikan ciuman Anda setiap hari kepada anak Anda, sehingga anak tidak haus cinta.

 

Penulis: Ph. Ispriyanto

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed