by

LIFE NEED ‘YES’ – LIFE STYLE ‘NO’

-Artikel-202 views

Kisah yang akan saya ceritakan berikut ini adalah kisah tentang seorang cewek sebut saja namanya Dea (bukan nama sebenarnya). Dea adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Dea mempunyai dua adik cowok. Dea dan adiknya hanya tinggal bersama mamanya. Papanya sudah lama meninggalkan mereka karena perceraian. Dea bekerja sebagai karyawati di sebuah laboratorium yang bergerak di bidang kesehatan.

Suatu sore Dea datang ke rumah saya, persis saya selesai memberi les privat sekelompok siswa-siswi SMA. Kedatangan Dea dalam rangka konsultasi tentang masalah yang sedang Dea hadapi. Ceritanya adalah sebagai berikut: Dea bekerja di salah satu bagian di laboratorium yang bergerak di bidang kesehatan. Dea bekerja dengan beberapa teman lain. Bagian itu dipimpin oleh seorang pria, sebut saja namanya Marco (bukan nama sebenarnya). Marco adalah kepala keluarga dengan satu isteri dan satu anak yang masih kecil. Marco adalah bapak muda. Setiap hari Marco dan Dea selalu bekerja sama. Lama-lama relasi mereka semakin dekat. Sebagai pimpinan Dea, Marco selalu mencari peluang untuk bisa dekat dengan Dea. Dea yang statusnya masih lajang, memang berparas cantik. Tidak mengherankan kalau banyak cocok tertarik kepada Dea, termasuk Marco yang notabene sudah menikah. Berbagai cara Marco lakukan demi bisa ‘menggaet’ Dea. Marco berani keluar uang bahkan dalam jumlah yang tidak sedikit. Mulai dari makan bersama, nonton film, bahkan Marco membelikan sebuah sepeda motor. Tidak hanya itu, Marco pun memberi uang semacan gaji setiap bulan kepada Dea. Jadi setiap bulan Dea menerima gaji dobel. Satu dari gaji resmi dari tempat Dea bekerja dan satu lagi dari Marco. Tetapi bisa diduga apa imbalan Dea kepada Marco? Dea harus bersedia diajak apa saja, termasuk hubungan badan seperti layaknya suami isteri. Dan apa yang terjadi? Dea hamil dua kali. Kedua kehamilan itu digugurkan semua. Jadi Dea menggugurkan janin dua kali. Dan karena ulahnya ini, Dea hidupnya menjadi tidak tenang, kacau. Perasaan bersalah sangat mengganggu hidup keseharian Dea. Sejak hidupnya kacau itulah Dea datang kepada saya. Dea tidak sanggup menanggung ‘dampak’ penggugurannya, karena dirasa sangat mengganggu Dea. Menurut Dea (percaya tidak percaya), setiap kali Dea berangkat kerja, pada saat Dea mengendarai motornya, Dea seperti menabrak kepala bayi. Dan Dea sungguh sangat ketakutan. Marco pun menurut Dea juga mengalami sesuatu yang aneh. Pada saat tertentu, misalnya pada saat Marco membaca koran, Marco merasa ada seseorang yang menampar pipinya, pada hal tidak ada siapa-siapa (sekali lagi percaya tidak percaya). Jadi baik Marco maupun Dea harus menerima dampak dari perbuatan mereka.

Untuk menuntaskan persoalan Dea, dibutuhkan pendampingan melalui pertemuan enam kali. Sejak pertemuan pertama, saya selalu menyarankan tiga hal penting untuk Dea lakukan supaya masalahnya selesai dengan tuntas, sehingga bisa menjalani hidupnya kembali dengan tenang. Pertama, saya minta Dea untuk menerima sakramen pertobatan, karena pada saat datang ke saya, Dea belum menjalani pengakuan dosa. Yang kedua, saya minta Dea untuk minta maaf kepada dua janin yang telah Dea gugurkan melalui ritual ‘CLOSING’. Yang ketiga, agar Dea memutus hubungan dengan Marco, baik secara tatap muka maupun melalui alat komunikasi seperti HP, dll. Dea berjanji akan melakukan tiga saran saya. Pada pertemuan kedua, Dea mengaku sudah menjalani sakramen tobat, namun belum mengadakan ritual ‘CLOSING’ dan juga belum memutus hubungan dengan Marco. Saya berpesan kembali agar Dea segera menjalankan dua pesan yang belum Dea jalankan. Pada pertemuan ketiga, Dea memberitahu saya bahwa Dea sudah melakukan ritual ‘CLOSING’, namun belum bisa memutus relasinya dengan Marco. Saya bisa memahami betapa sulitnya bagi Dea untuk memutus hubungan dengan Marco. Dea tentu merasa berat kehilangan fasilitas atau kenyamanan yang diperoleh dari Marco. Uang, pakaian, kosmetik yang harganya mahal, yang kalau dengan uang penghasilan Dea sendiri belum tentu cukup. Apalagi kalau Dea sendiri sebenarnya juga ‘mencintai’ Marco.

Mulai pertemuan keempat, saya lebih tegas meminta Dea untuk memutus hubungan dengan Marco meskipun cara saya mengingatkan hal ini tetap lunak ‘GRAVITER IN RE SUAVITER IN MODO’ – ‘Tegas perkaranya, lunak caranya’. Akhirnya, dengan enam kali pendampingan masalah Dea pun tuntas. Dea bisa terlepas dari kungkungan perasaan takut dan menjalani hidupnya dengan tenang, meskipun ingatan akan kenangan dengan Marco tidak serta merta menghilang. Ternyata yang membuat Dea sampai menempuh cara hidup tidak wajar (nekad) sehingga nama baiknya tercoreng adalah karena Dea tergiur mengikuti pola hidup kebanyakan orang sekarang, yaitu hidup yang mengutamakan ‘LIFE STYLE’ bukan mendasarkan pada realita, yaitu ‘LIFE NEED’, sehingga Dea terjerumus. Dari cerita Dea ini, kita semua diingatkan untuk hidup yang realistis. Jangan sampai hidup kita besar pasak daripada tiang, karena tidak bisa mengendalikan nafsu kita. Hati-hati dan bijaklah dengan ‘LIFE STYLE’ karena bisa menjerumuskan.

Cerita tentang Dea, meskipun masalah dengan Marco sudah selesai, masih ada ganjalan lain pada diri Dea, yaitu masalah keperawanan. Dea mempunyai kekhawatiran tentang masa depannya, yaitu tentang perkawinan. Bukankah Dea sudah bukan perawan lagi. Hal itu menghantui Dea. Mengenai masalah ketidakperawanannya, saya menasehati Dea untuk jujur berkata kepada calon pasangannya. Katakan apa adanya. Kalau calon pasangan itu sungguh-sungguh mencintai Dea, dia pasti akan menerima Dea dengan segala kelebihan dan kekurangan Dea. Risiko kalau Dea menyembunyikan ketidakperawanannya bisa terjadi sesudah Dea resmi menjadi suami isteri bisa parah. Tetapi kalau dengan kejujuran Dea bercerita tentang ketidakperawanannya, calon pasangan Dea mundur, ya Dea harus bisa menerima, itu kan dampak dari apa yang Dea lakukan pada waktu lampau.

Setelah pertemuan ini, Dea sudah tidak datang lagi ke rumah saya. Tetapi suatu sore, Dea muncul dengan seorang cowok yang saya tidak kenal. Dea memperkenalkan cowok itu adalah pacarnya. Saya hanya bisa mendoakan semoga pacarannya bisa berlanjut sampai jenjang pernikahan dan mereka berdua bisa bahagia.

 

Penulis: Ph. Ispriyanto.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed