by

Lembaga Investigasi Penyelamatan Aset Negara, Temukan Salah Satu Aset Daerah Yang Terbengkalai

Wartaindonews, Jeneponto – Hasil investigasi tindak lanjut maraknya pemberitaaan pasar Boyong di Kabupaten Jeneponto yang tak kunjung dipakai dan dimanfaatkan oleh masyarakat pedagang pasar Tamanroya.

DPD Lipan Sulsel saat di pasar Boyong, Kecamatan tamalate, (20/06/2019), melalui ketua tim Investigasinya, Syam Rizal menuturkan alasan tidak dipergunakannya pasar Boyong.

Menurutnya, Pasar Boyong diduga kuat tidak memiliki ijin amdal dan kajian study kelayakan.

“Posisi Pasar yang tidak strategis. Ini diungkapkan oleh beberapa masyarakat yang di temui di sekitar pasar tersebut. katanya mana ada pedagang yang mau pindah dari pasar tamanroya ke pasar boyong yang katanya lokasinya sangat jauh dan sering banjir”, lewat pesan elekroniknya.

Sebagai kontrol sosial, Syam Rizal yang menemui beberapa warga mengenai aktivitas di pasar boyong, namun masyarakat mengatakan sejak diresmikan 2013 lalu oleh Gubernur, tidak ada lagi aktivitas di pasar boyong
“Jika tidak dipergunakan, berarti hilang pemasukan untuk kas negara selama 4 tahun. Berapa kerugian yang ditimbulkan”, Tegas Rizal.

Dirinya juga menyanyangkan pasar yang dibangun menggunakan anggaran dari Dana APBN sebesar RP17 miliar itu hancur, dan sebagai ketua tim investigasi DPD Lipan Sulsel berharap agar kiranya pemerintah Kabupaten Jeneponto lebih cekatan menangani penggunaan pasar Boyong, mengingat pasar tersebut sudah mau hancur.

“Lihat saja pagar belakang sudah rubuh. Platfon sudah hancur, sebahagian petak-petak ruangan banyak yang rusak. Begitupun pintu rolling doornya. Kasihan melihat pasar Boyong ibarat aset yang terbengkalai”, tutup Rizal. (SDN)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed