by

Langkah Pencegahan dari Terorisme

-Artikel-10 views

Bilamana menginginkan suatu kemenangan tanpa harus bertarung, langkah yang paling sering dilakukan adalah melakukan teror atau intimidasi. Hal ini dilakukan untuk menjatuhkan mental bertanding lawan. Perang-perang urat syaraf terkadang jauh lebih sederhana dan mudah dilakukan daripada berperang secara fisik.

Arti dari terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Hal ini mengacu pada pelaku-pelakunya yang tidak tergabung dalam angkatan bersenjata dengan aturan yang sah. Terorisme juga mengandung makna bahwa serangan-serangan yang dilakukan oleh teroris tidak berperikemanusiaan oleh karena itu tindakan terorisme mutlak perlu hukuman yang setimpal.

Subyek terorisme seperti sudah bisa dihapal dengan mudah oleh masyarakat, sudah seperti sebuah stigma. Selama subyek tersebut menenteng dan mengacung-acungkan senapan otomatis AK-47, maka dengan mudah orang akan menganggapnya sebagai teroris. Ditambah lagi dengan memakai atribut dan simbol-simbol suatu agama. Maka tidak mengherankan jika terorisme sering muncul dengan mengatasnamakan suatu agama, padahal tidak demikian adanya.

Bukankah agama adalah kebutuhan mendasar manusia yang teratas tetapi mengapa seringkali agama dipakai sebagai kendaraan untuk melakukan tindakan terorisme. Terorisme kalaupun sudah muncul di permukaan akan sulit diberantas karena pastinya akan berbenturan dengan yang namanya hak asasi manusia. Apabila hak asasi manusia sudah dilanggar maka akan muncul efek domino, akan banyak pihak yang juga akan terseret didalamnya.

Tindak terorisme tidak mungkin muncul seketika itu juga tetapi pastilah memerlukan proses dalam kemunculannya. Subyek dari tingkat terdasar dari skala usia akan terus menerus dicuci otaknya supaya membenci dan mengubah suatu tatanan, meskipun akan menimbulkan keresahan di masyarakat.

Sebaik-baiknya hukum yang berlaku apabila tidak disertai dengan kesadaran dan moralitas masyarakatnya akan sama saja. Sebaliknya hukum tertulis akan semakin sedikit tercipta apabila terus bermunculan kesadaran dan moralitas hukum masyarakatnya. Alangkah lebih baik mencegah daripada mengobati. Mencegah dalam artian menghalau sesuatu akan terjadi lain halnya dengan mengobati. Mengobati dapat diartikan sesuatu telah terjadi lantas dilakukan tindakan.

Tujuan dari terorisme adalah untuk membuat orang lain merasa resah dan ketakutan sehingga akan menarik perhatian khalayak ramai. Apabila tidak ada jalan lain untuk memenuhi keinginan dan kehendaknya, seringkali perbuatan terorlah yang digunakan.

Terorisme dipakai sebagai senjata psikologis untuk menciptakan suasana kacau dan panik serta menciptakan ketidak percayaan masyarakat terhadap pemerintahan yang ada. Tidak jarang akan memaksa masyarakat, halus maupun kasar, untuk mentaati kehendak pelaku teror. Terorisme tidak ditujukan langsung kepada lawan secara tatap muka tetapi perbuatan teror justru dilakukan dimana saja dan terhadap siapa saja. Maksud utama yang ingin disampaikan oleh pelaku teror adalah agar perbuatan teror yang dilakukannya tersebut mendapat perhatian yang khusus.

Seringkali tatanan keharmonisan masyarakat sudah tertata rapi dan kondusif akan tetapi dengan adanya era internet seperti sekarang ini sering bermunculan pemberitaan-pemberitaan miring mengenai tatanan kemasyarakatan yang lain dan informasi ini dalam hitungan detik dapat diakses oleh tiap-tiap individu. Seiring dengan berjalannya waktu, pemberitaan-pemberitaan melalui media massa tersebut menimbulkan keresahan di masyarakat, sehingga dapat dikatakan bahwa terorisme tidak selalu harus melalui senjata ataupun alat-alat perang tetapi lewat media massa sudah dapat mempengaruhi daya piker penerimanya. Kitapun juga belum atau tidak bisa memastikan kebenaran pemberitaan tersebut seketika. Bisa dibayangkan karena kebohongan suatu pemberitaan akan memunculkan peperangan yang besar.

Bila teroris diidentikkan dengan penggunaan senapan otomatis AK-47 apakah untuk memeranginya harus dengan senapan otomatis tandingan semisal M-16? Bilamana demikian adanya, maka dapat dikatakan kita kurang lebih sama seperti mereka, memeranginya dengan mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan. Haruskah kita melawan api dengan api? Kalau kita tetap melawannya juga dengan api maka dapat dipastikan kedepannya akan banyak yang menjadi korban peperangan, perekonomian hancur, lingkungan musnah dan sebagainya. Bilamana sudah demikian pelaku teror justru akan tersenyum lebar karena tujuan utamanya tercapai yaitu kekacauan.

Bagaimana dengan Indonesia? Dalam hal ini sebaiknya dunia pendidikan di Indonesia menghilangkan segala bentuk pembelajaran akademik minimal sampai dengan si anak duduk di kelas 4 SD, misalnya. Dari kelas 1 sampai dengan kelas 3, si anak hanya akan mendalami etika, kebudayaan, patriotisme, kesadaran hukum, spiritual dan sebagainya, sehingga dari awal si anak itu sudah tertanam rasa cinta tanah air yang kokoh. Akan menjadi penyaring otomatis apabila si anak mulai mendapatkan informasi-informasi yang tidak bertanggung jawab.

Kalau sudah begitu dirasa si anak tidak akan mudah tercuci otaknya oleh yang namanya kepentingan terorisme. Jauh lebih rumit lagi ketika kita harus membenahi jiwa seorang dewasa karena orang dewasa efek kepentingannya sudah jauh lebih kompleks dibandingkan dengan anak-anak. Dalam bahasa halusnya sebelum si anak dicuci otaknya oleh berbagai kepentingan, kita “cuci otak”-nya terlebih dahulu dengan berbagai pengetahuan dan wawasan mengenai Negara Indonesia, karena sejatinya pendidikan adalah hak tiap-tiap anak di suatu bangsa.

Setelah anak tersebut dewasa dia akan secara sadar mentaati peraturan tanpa harus takut dengan adanya ancaman, karena sebenarnya peraturan diciptakan untuk melindunginya dari ancaman. Ancaman justru akan datang dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, yang menginginkan kekacauan terjadi.

Langkah ini dirasa jauh lebih efektif dan efisien dibandingkan harus membangun armada perang yang memerlukan dana yang besar pula dan bukan tidak mungkin juga akan menimbulkan kerugian korban jiwa, materiil dan imateriil. Lewat langkah ini kita tinggal melakukan tindakan persuasif terhadap anak dari tingkat awal kependidikan. Ilmu secara akademis tidak akan kesemuanya terpakai tetapi etika, kebudayaan, patriotisme, kesadaran hukum, spiritual dan sebagainya akan selamanya terpakai sampai akhir hayat.

Secara lebih serius mengintensifkan pembinaan bibit-bibit unggul dalam dunia olahraga, supaya kelak dapat menjadi atlet berprestasi yang membanggakan Indonesia. Karena bukan tidak mungkin melalui olahraga dapat mempererat kesatuan antar kelompok dan mencegah perpecahan. Sebagai contoh, tiap kali Timnas sepak bola Indonesia berlaga kita dapat melihat hampir semua jalanan sepi, karena kebanyakan dari mereka menonton TV bersatu untuk mendukung Timnas Indonesia di suatu kejuaraan, tanpa mempedulikan para pemainnya yang berasal dari berbagai suku, ras dan agama.

Alangkah lebih indah andaikata kita dapat mewariskan kedamaian kepada anak cucu kita daripada kehancuran. Hanya lewat pendidikanlah yang dapat mencegah terorisme dengan mudahnya dapat memasuki generasi muda kita. Munculkanlah kembali pelajaran berbentuk wawasan perihal moralitas dan budayakan rasa malu. Niscaya Indonesia tidak akan lagi dipandang sebelah mata oleh Negara lain.

 

Penulis: Yudhi Widyo Armono, SE, SH, MH

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed