by

Keliling BARCELONA bersama Gede Kresna

-Artikel-51 views

Banyak orang mengatakan Barcelona adalah kota paling indah di dunia, utamanya di musim gugur seperti ini. Kami tidak percaya begitu saja, karena Sagrada Familia yang sedemikian terkenalnya tidak memberikan kesan yang mendalam. Kami mengerti, Gaudi adalah arsitek sekaligus seniman yang sangat hebat. Tetapi melihat bagaimana Sagrada Familia direnovasi, kami seperti melihat cara-cara Pemerintah kebanyakan merestorasi bangunan tua di Indonesia.

Karena patah hati dengan Sagrada Familia, kami memutuskan untuk keliling kota dengan Barcelona City Tour.

Dengan tiket seharga 30 Euro, kita sudah bisa keliling kota sepanjang hari dan bebas naik turun kapan saja di 30 titik yang menjadi ikon Kota Barcelona.

Kami berpikir, ketika kami tidak bahagia dengan satu objek, mungkin kita perlu berjarak dan melihat dari kejauhan.

Saat awal perjalanan naik ke atas bus beratap terbuka, yang kami lihat bukan wajah kota, tetapi bagaimana jelinya orang Barcelona memberikan kemudahan. Bahkan bagi kami yang datang dari negara dengan kurs mata uang yang lemah, 30 euro dengan fasilitas earphone 16 bahasa berbeda, peta yang sangat jelas dan interval kedatangan bus yang sekitar 10 menitan menjadi cukup terjangkau. Tentu wajah kotanya sangat indah, tetapi konsentrasi kami melihat kota terpecah dengan earphone yang menempel di telinga dan peta yang selalu kami pegang. Tapi itu tidak seberapa lama.

Kami mulai memperhatikan orang-orang yang melintas. Mereka bersepeda, berjalan kaki, berskate-board, bermotor dan sebagainya. Jalanan sangat tertib, tetapi “pelangaran” lalu lintas terjadi setiap saat. Tapi kami segera mengerti pelanggaran yang mereka lakukan semata untuk memperlancar perjalanan untuk semua orang, dan sepertinya seisi kota sepakat dengan itu.

Di jalanan, orang-orang bergerak, duduk, berlari, bersenda gurau, menikmati waktu dengan keluarga, memadu kasih, membaca, juga merokok. Di Barcelona orang bebas merokok di mana-mana di jalanan. Puntung rokok juga di mana-mana. Tapi sejujurnya, melihat gaya hidup seperti itu membuat kota ini terlihat hidup. Canabis Shop juga cukup mudah ditemukan, dan gaya berpakaian warganya yang asimetrikal membuat kota semakin tampak bergairah.

Tak seperti cara berpakaian warganya, arsitektur kota Barcelona tampak agak konservatif. Setiap perempatan dipotong ujungnya sehingga tiap pojokan menyumbang bidang berbentuk segitiga yang nenjadi ruang hidup bagi warganya. Cafe pinggir jalan tumbuh di mana-mana. Warna-warna bangunan tidak mencolok. Mereka seperti sepakat untuk tak kelihatan sendiri. Di beberapa titik, bangunan diberikan ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Sagrada Familia tentu salah satunya. Gaudi memang fenomenal di Barcelona. Bahkan beberapa detail dalam bangunan komersial dan gedung bermukim juga sedikit “meng-Gaudi”. Tapi Barcelona memang bukan hanya Gaudi. Dalam perjalanan dengan bus kami juga “bertemu” dengan Mies van der Rohe, Santiago Calatrava dan beberapa karya arsitek yang dulu hanya sempat kita lihat di buku.

Dari 30 titik perhentian, sebagian besar di antaranya adalah ruang terbuka. Orang Barcelona senang menghabiskan waktunya di luar. Mungkin karena musim memang sedang bagus-bagusnya atau karena di rumah-rumahnya ruang yang tersedia tidak cukup. Kami berasumsi dari hotel yang kami tinggali selama 3 malam. Harganya untuk hitungan harga hotel di Bali cukup mahal, berkisar 4 kali lipat dari harga hotel yang selalu kami rekomendasikan kepada tamu-tamu Rumah Intaran, tetapi ruang yang kami dapatkan lebih minimalis dengan fasilitas yang bak bumi dengan langit.
.
Satu dari 30 titik perhentian bus itu adalah Jardin De Miramar, tempat kita bisa melihat nyaris sebagian besar Kota Barcelona dari ketinggian. Sagrada Familia jadi terlihat mungil, tetapi kapal-kapal kecil di Port Vell dan kapal-kapal pesiar yang bersandar di Moll De Ponent terlihat sangat jelas. Seusai perhentian Miramar, sejumlah museum menjadi titik perhentian. Kami tidak sempat turun karena pikiran lebih tertuju pada panggilan tanggung jawab membeli oleh-oleh di Spotify Camp Nou Stadium buat anak-anak yang lama kami tinggal bepergian, dan sedikit kebimbangan untuk menonton langsung pertandingan Barcelona vs Athletic Club di malam harinya.

Tapi akhirnya kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan mengelilingi Kota Barcelona, menikmati kota yang semakin malam semakin ramai. Saat kemudian kami berhenti tepat di depan Sagrada Familia untuk berjalan kaki 5 menit ke hotel, kami tak lagi punya keraguan bahwa Barcelona mungkin memang kota paling indah di Eropa, atau paling tidak Barcelona adalah salah satunya. Tapi sekali lagi kami harus mengatakan itu sama sekali bukan karena Sagrada Familia. Sagrada Familia hanya daya tarik semata.

Barcelona menjadi kota yang sangat indah karena memberikan kemudahan bagi penduduknya dan juga memberikan kemudahan bagi pengunjung yang ingin menikmatinya. Barcelona menjadi indah karena gairah warga kotanya.

Penulis : Gede Kresna

Editor : Guntur Bisowarno

Kontributor