by

Kedungmonggo Episetrum Topeng Malang Gagrak Gunung Kawi

-Artikel-426 views

Wartaindonews, Malang – Minggu lalu Kampung Budaya Polowijen menelusuri jejak topeng Malang Brang Wetan (timur) lebih dari 6 kantong topeng (kemantren, Argosari, Gedog, Jabung, Kecamatan Jabung, Tulus Besar, Duwet, Glagahdowo Kecamatan Tumpang dan Gubuh Klakah Poncokusumo).

Istilah Brang Wetan lebih dikenal dengan gaya Jabung, Tumpang dan Poncokusumo yang merepresentasi topeng Gagarak Gunung Semeru karena berada di bawah Gunung Semeru.

Minggu ini 23 Juni 2019 KBP kembali menapaki jejak topeng Brang Kidul yang di kemas dalam acara Jalal Bi Halal Sonjo Feso ke kantong topeng Malang. Daerahnya yaitu di Kedungmonggo, Lowok Permanu (Kecamatan Pakisaji), Precet Senggreng, Jatiguwi,(Kecamatan Sumberpocung), Kopral (Kalipare) Jambuwe dan Kromengan (Kecamatan Kromengan) dan Pijiombo Kecamatan Wonosari yang semua di bawah kaki gunung Kawi

Istilah Brang Wetan lebih dikenal dengan gaya Jabung, Tumpang dan Poncokusumo yang merepresentasi topeng Gagarak Gunung Semeru karena berada di bawah Gunung Semeru.

Brang Kidul yang dikenal dengan gaya Pakisaji, Suberpocung, Kromengan, Kalipare dan Wonosari yang semua ada dibawah kaki gunung kawi sehingga bisa di sebut Topeng Gagrak Gunung Kawi

Istilah ini di sampaikan oleh Ki Suroso saat menerima kunjungan KBP ke sanggar Asmoro Bangun. KI suroso adalah seniman topeng penari pengendang dan pencipta ragam gerak tari topeng yang merupakan cucu Maestro Topeng Malang Alm. Mbah Karimun yang saat ini meneruskan kegiatan Sanggar Asmoro Bangun bersama adiknya Tri Handoyo yang saat ini menjadi rujukan topeng se malang kaeena konsistensi pelestarian dan pengembangan

“Perbedaan ragam gerak brang Kidul lebih Rancak dan dinamis, sementara brang wetan lebih halus itu dipengaruhi kondisi geografis dan karakter kewilayahan”. Dimana di daerah Malang Selatan ini banyak urban dari madura selain campuran mataraman. Semetara disana di brang wetan adalah masyarakat agraris yang banyak dipengaruhi kultur tengger. imbuhnya

Penjelasan itu di berikan setelah para penari KBP dan penari Sanggar Asmoro Bangun latihan menari bersama untuk menyamakan ragam gerqk tari topeng. Yang menarik saat penari KBP memperagakan Tari Topeng Putri Ragil Kuning yang belum di ajarkan di sanggar manapun, penari Sanggar Asmoro Bangun ramai ramai menirukan gerqkan sari belakang. Ini sebuah pemandangan yang langka terjadi.

Sebenarnya tari topeng Malang baik dari gagrak Semeru maupun gagrak Kawi sumbernya satu yaitu Ki Tjondro Suwono (Mbah Reni) sang empu Topeng Malang
Yang berasal dari Polowijen. Kala itu sesepuh seperti mbah Seno Mbah Wiji dan Mbah Karimun sama sama belajar dari salah satu narasumber Mbah Reni sehingga topeng brang kidul bisa punya warna yang berbeda yang terkenal dengan gagahannya. Demikian juga ketika Mbah Reni yang pernah tinggal di Jabung gaya Alusan mewarnai topeng Wrang Wetan

Menurut Ki Demang Penggagas KBP, “Acara ini penting sebagai ajang sambung roso seduluran saklawase antar sesama pegiat topeng dan saling belajar kekurangan dan kelebihan masing-masing tentang ragam geeak tari topeng”. Selain itu penting kiranya kegiatan kunjung dapat membangkitkan spirit, motivasi dan semangat serta belajar sejarah perkembangan topeng sebagai upaya melestarikan kesenian topeng Malang. (Ririn SDN)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed