by

Kebangkitan Tayub Iringi Acara Bersih Desa di Giripurno Batu

Wartaindonews, Malang – Senin Wage, 21 Oktober 2019 Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu – Jawa Timur menyelenggarakan Bedah Tari Langen Beksan atau lebih di kenal dengan istilah Tayub. Di Balai Desa Giripurno Tayub di gelae dalam rangka bersih desa yang di selenggarakan 1 tahun sekali.

Tayub merupakan kesenian Jawa yang berkembang di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang menampilkan gerak tari mengikuti alunan lagu atau langgam yang ditembangkan oleh sinden dengan diiringi oleh para pengrawit atau penabuh gamelan.

Langgam atau gendhing bisa beraneka ragam, namun dalam Langen beksan yang ada di Desa Giripurno sedikit berbeda, ada dua macam langen beksan, yaitu Langen beksan dalam – sambang petren (ritual) dan langen beksan dalam sajian pertunjukan (khajatan dll).

Dari hasil observasi Fuad Dwi Yono medasarkan pitutur para sesepuh desa, di desa giripurno ada 4 macam gendhing untuk langen beksan – sambang petren yg harus di mainkan sebagai pengiring, yaitu gendhing eling eling, gendhing ijo ijo, gendhing srampat & gendhing samirah.

Tayub yang berasal dari kata tata dan guyub (jawa: kiratha basa), yang artinya bersenang-senang dengan mengibing bersama penari wanita. Pagelaran tari tayub ini adalah bentuk seni pertunjukan masyarakat Jawa yang berwujud tarian berpasangan antara penari dengan pengibing.

Di daerah Jawa Barat penari perempuan dalam tayub ini dikenal dengan sebutan ronggeng, sedangkan di daerah Jawa timur seperti didaerah tulungagung penari tayub perempuan dikenal sebagai “Tledek”. Penari Tayub biasanya mengawali pentas dengan membawakan Tari Gambir Anom, sebuah tarian klasik dengan gaya lemah lembut. Setelah itu, mereka menarikan irama-irama yang sedikit rancak dengan lagu lagu seperti dari campursari atau langgam jawa.

Yang unik dari tarian ini adalah ikut sertanya para penonton atau tamu untuk menari bersama dengan penari Tayub. Tamu yang dipandang terhormat biasanya akan didaulat ikut menari dengan ditandai dikalungkannya sebuah sampur.Tari Tayub adalah tari pergaulan tetapi dalam perwujudannya bisa bersifat romantis dan bisa pula erotis. Biasa ditarikan oleh penari wanita dan selalu melibatkan penonton pria untuk menari bersama (pengibing).

Anggapan tayub sebagai tarian mesum merupakan penilaian yang keliru. Sebab, tidak seluruh tayub identik dengan hal-hal yang negatif. Dalam tayub, ada kandungan nilai-nilai positif yang adiluhung. Selain itu, tayub juga menjadi simbol yang kaya makna tentang pemahaman kehidupan dan punya bobot filosofis tentang jati diri manusia.

Menurur Arif Dwi Yono, Tayub selama ini distereotipkan sebagai sebuah seni pertunjukan tari yang mengumbar erotisisme dan jauh dari moralitas. Erotisisme tayub ditemukan dalam maraknya goyang erotis penari serta ”tradisi” menyelipkan uang sawer ke kemben penari.

Kesan inilah yang didapat siapa saja sejak kecil. Ketika ada tetangga yang punya hajat dan nanggap tayub (tledhek), anak anak dilarang orangtua untuk menonton. Katanya itu tontonan orang dewasa. Terlebih sejak adanya peristiwa seorang laki-laki berbuat tak senonoh terhadap penari dan menimbulkan kecemasan, sejak itu pula tayub seperti mati.

Tayub semakin tersingkir oleh budaya yang lebih religius. Tayub juga dianggap sebagai sebuah seni pertunjukan yang usang. Munculnya orkes dangdut, dengan penyanyi muda yang lebih segar dan berani dalam bergoyang, semakin menenggelamkan eksistensi tayub.

Stereotipisme tersebut menimbulkan putusnya pengetahuan dan regenerasi tayub. Anak-anak muda sekarang tak banyak yang mengenal tayub. Mereka lebih mengenal seni pertunjukan yang dianggap lebih modern, seperti konser musik pop dan dangdut. Imbas lain adalah tayub menjadi seni yang tak laku ditanggap. Pada akhirnya, tayub tidak lagi menghidupi secara ekonomi para penggiatnya. Kini saatnya tayub di bangkitkan lagi untuk kepentingan melestarikan tradisi dan budaya. (Ki Demang)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed