by

Kapal-Peradaban Kelautan Samudera Indonesia

-Budaya, Daerah-462 views

Wartaindonews, Lawang – Mas Wawan yang sering disebut Mbahmeen, Pemilik Program Perancangan Pembuatan KAPAL PERADABAN KELAUTAN SAMUDERA INDONESIA tersebut menjadikan momentum mereka untuk kembali berbunyi sambung menyambung menjadi satu bak rangkaian dan tatanan nilai, ungkapan untuk bahasan garapan KAPAL PERADABAN KELAUTAN SAMUDERA INDONESIA di atas Sungai Jempinang Kaki Gunung Arjuno Jawa Timur itu.

Tak Kebetulan Hari Sabtu, 8 Juni 2019 yang lalu adalah HARI LAUT SEDUNIA, yang sudah diperingati setiap tanggal 8 Juni, sejak pengajuan pertama pada tahun 1992 oleh Kanada di Earth Summit di Rio De Janeiro Brasil.
Hari peringatan ini, lalu disahkan oleh PBB pada akhir tahun 2008. Sejak tahun 2008 itulah The Occean Project telah mengkoordinasikan hari peringatan itu dengan mengumpulkan para peserta setiap tahun dari setiap negara.
Hari Laut Sedunia di peringati untuk menghargai laut-laut se dunia dengan merayakan hasil dan kontribusi yang disediakan oleh samudera seperti makanan laut, kehidupan laut untuk aquarium, hewan laut peliharaan khusus, serta bahan baku jamu untuk kesehatan dan bahan kosmetika, beserta peradaban kelautan serta waktu untuk menghargai nilai intrinsik dan keindahan alam laut itu sendiri.

Di Zaman kejayaan kerajaan Majapahit pada abad XIII masa Prabu Hayam Wuruk ada 2(dua) tokoh militer jenius, yaitu Mahapatih Gajahmada dan Laksamana Mpu Nala. Laksamana Mpu Nala sebagai Panglima Angkatan Laut Majapahit menempatkan puluhan kapal perang untuk menjaga 5 titik penting perairan Nusantara

Armada gugus PERTAMA bertugas di sebelah barat Sumatera sebagai gugus kapal perang penjaga Samudera Hindia di bawah pimpinan laksamana yang berasal dari Jawa Tengah.

Armada gugus KEDUA kapal perang penjaga Laut Kidul atau sebelah selatan Jawa di bawah pimpinan seorang laksamana putra Bali.

Armada gugus KETIGA berrtugas menjaga perairan Selat Makassar dan wilayah Ternate, Tidore, dan Halmahera di bawah pimpinan seorang laksamana putra Makassar.

Armada gugus KE-EMPAT menjaga Selat Malaka dan Kepulauan Natuna di bawah pimpinan seorang laksamana dari Jawa Barat.

Terakhir adalah armada gugus KELIMA menjaga Laut Jawa sampai ke arah timur hingga kepulauan rempah-rempah Maluku. Armada Jawa tersebut mengibarkan bendera Majapahit ditambah lagi bendera emas simbol istana Majapahit biasanya dipimpin seorang laksamana berasal dari Jawa Timur.

Setiap armada gugus kapal perang ada kapal bendera tempat kedudukan pimpinan komando tertinggi bagi semua kapal penyerang, kapal perbekalan, dan pelindung kapal bendera. Dari ke-5 armada Majapahit tersebut, beban berat adalah menjaga perairan Selat Malaka dan Laut Cina Selatan yang penuh perompak yang berpangkalan di sekitar wilayah Campa, Vietnam, dan Tiongkok.

Armada Ke-4 yang menjaga Selat Malaka tersebut biasanya dibantu armada pertama penjaga Samudera Hindia kalau perompak melarikan diri ke barat laut menyusuri Selat Malaka.

Semua jenis kapal perang Majapahit, mulai kapal perbekalan sampai kapal bendera adalah kreasi jenius dari Mpu Nala yang sekaligus seorang laksamana laut yang andal. Nala menciptakan kapal-kapal dari sejenis kayu raksasa yang hanya tumbuh di suatu pulau yang dirahasiakan. Pohon raksasa dan cocok untuk dibuat kapal itu yang membuat kapal-kapal Majapahit cukup besar ukurannya di masa itu.

Dibanding Armada TNI NKRI sekarang, Armada Majapahit lebih besar. Sesudah Majapahit lemah, hanya tersisa armada Jawa yang menguasai perairan Laut Jawa dan jalur laut menuju kepulauan rempah-rempah. Lalu datang bangsa kulit putih yang tujuan utamanya adalah menguasai daerah penghasil rempah-rempah itu dengan modal kapal-kapal gesit dan lincah, tak terlalu besar ukurannya dibanding kapal Majapahit. Kapal asing itu bersenjata lebih unggul meriam yang dapat memuntahkan bola-bola besi dengan jarak tembak lebih jauh dibanding kemampuan jarak tembak gerbang Majapahit.

Ketinggalan teknologi dan kebangkitan Spanyol Portugis & Eropa kita memasuki Era Baru yaitu zaman dijajahkan Teknologi Prambanan Borobudur & Kapal Jung ikut tenggelam selama 300-400 tahun, penduduk jadi miskin & merana, kerajaan masuk ke pedalaman sebagai Kerajaan Agraris yang tidak siap perang justru semakin lemah karena ratusan tahun diadu domba.

Generasi muda sudah saatnya bangkit membangun Benua Maritim Yang Agung yang disegani seluruh bangsa kita punya masa lalu yang kuat dengan adanya candi Prambanan Borobudur & Kapal Jong, ada satu Candi Bagus di luar Jawa yaitu Angkor Wat itu juga buatan putra Nusantara, Wangsa Syailendra, posisi geografis kita, memungkinkan Indonesia jadi Negara Besar, tinggal kita mau atau tidak mau.

Di Indonesia yang merupakan negara kelautan, mineral laut dan hewan laut adalah salah satu sumber daya alam nusantara yang luar biasa, bisa menjadi sumber bahan baku jamu yang potensial.

Jamu adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa tumbuhan, bahan hewan yaitu ada hewan darat, laut, udara dan bahan mineral yang juga ada di darat maupun laut, sediaan simplisia bahan generik atau campuran dari sediaan bahan-bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman dan diterapkan sesuai dengan norma kemajuan peradaban yang berlaku di masyarakat tersebut.

Pertemuan dengan Pak Slamet Hariyanto, Pembina Paguyuban Penghijauan Perlindungan Mata Air Lawang, sudah kita lakukan sejak tahun 2003 sd 2014 dalam Gerakan Pramuka untuk TOGA, Gerakan Penghijauan Mata Air Lawang GPMAL, Gerakan Jamu, Tanaman Obat dan TOGA Tanaman Obat Keluarga, dalam beragam kemenangan Lomba TOGA, di tingkat desa, kecamatan hingga beragam prestasi kemenangan tingkat propinsi Jawa Timur yang didukung sepenuhnya oleh Dinas Kesehatan puskesmas Lawang dan Pihak Kecamatan Lawang selaku pemerintah daerah.

Pas Hari Laut Dunia, 8 Juni 2019 yang lalu, peradaban yang ditandai dengan identifikasi pelestarian budaya jamu jamuan , bamboo dan kopi asli di kawasan Gunung Arjuno Jawa Timur di Kota Lawang dan Desa Manggian Desa Kucur Sumberejo Purwosari Pasuruan ini, sebagai bukti dan sejarah, inspirasi pengerjaan Peradaban Kelautan Samudera Indonesia, disamping Gerakan Perlindungan Penghijauan Mata Air, Jamu Jamuan, Kopi, Bambu dan Batik.

Bukti bukti prestasi dan partisipasi serta kontribusi kemajuan peradaban kapal laut dan peradaban Nusantara Indonesia yang ada di candi-candi khususnya yang ada di candi Borobudur itulah yang hendak di-ejawantahkan oleh mbahmeen, Slamet Hariyanto dan kawan kawan. (Ki Guntur Bisowarno/CW/DTS)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed