by

Kampung Glintung Water Street Edukasi Pengunjung Untuk Ketahanan Pangan

Wartaindonews, Malang – Perkembangan kampung – kampung tematik di Kota Malang tumbuh dan berkembang begitu pesatnya bak jamur di musin hujan. Keberadaan kampung – kampung ini merupakan gerakan berbasis masyarakat yang sadar akan potensi yang dimiliki daerahnya.

Setiap kampung memiliki identitas diri untuk mengenalkan eksistensi dirinya. Adanya pelatihan, pembelajaran adalah salah satu upaya sebuah kampung tematik untuk terus berinovasi dan belajar. Seperti yang dilakukan Kampung Glintung Water Street atau lebih dikenal GWS.

Destinasi wisata yang mengusung konsep urban farming ini yaitu konsep bercocok tanam di lingkungan rumah perkotaan dengan menerapkan pertanian organik secara berkala dilakukan pelatihan dan pembelajaran untuk mengasah masyarakat agar dapat menghasilkan produk yang berkualitas.

Kegiatan pertemuan Kelompok Kerja (Pokja 2) biasanya dilaksanakan di Kelurahan Purwantoro, namun hari ini pembelajaran dilaksanakan di kampung kami. Kampung Glintung Water Street atau orang biasa menyebut GWS yang terletak di Glintung Gang I, Kelurahan Purwantoro, Blimbing, Kota Malang

” Kegiatan ini adalah belajar dan berdiskusi bersama tentang pemberdayaan masyarakat dalam penataan lingkungan, perikanan dan pertanian perkotaan yang dilakukan Ibu – Ibu PKK RW 05″ jelas Ageng Wijaya Kusuma, Pengagas GWS sekaligus Ketua RW 05 Kelurahan Purwantoro Kecamatan Blimbing saat dihubungi melalui telepon seluler. Kamis (28/11/2019).

Lebih lanjut pria yang aktif dalam lingkungan ini menjelaskan bahwa pembelajaran kali ini adalah pengolahan ikan lele untuk dijadikan bentuk pangan berupa bakso, steak, nugget dan sempol. GWS yang dulunya bernama Kampung Ketahanan TELOLET (Terong, Lombok, Lele, Tomat).

GWS dulu adalah kampung kumuh padat penduduk dan sering banjir. Kini di sulap menjadi kampung urban farming dan ketahanan pangan. Kampung ini memiliki sistem drainase yang di bedakan menjadi dua yakni untuk air dari rumah tangga, dan tampungan dari air hujan yang mengalir ke lahan budidaya lele.

Seperti kita tahu lele adalah jenis pangan yang memiki kandungan protein sangat tinggi sehingga pembelajaran pengolahan lele untuk dijadikan bentuk pangan yang berbeda dari biasanya adalah suatu inovasi dan bentuk ekonomi kreatif yang berpotensi menarik pangsa pasar mulai dari kalangan milineal hingga dewasa.

Pelatihan atau pembelajaran tentang suatu hal baru merupakan hal mutlak yang saat ini menjadi kebutuhan kampung – kampung tematik untuk terus berinovasi dan menyuguhkan sesuatu yang special. Perlu adanya pihak terkait untuk menjadi jembatan agar pelatihan dapat terealisasi dengan baik dan sesuai harapan agar kampung – kampung tematik dapat menghasilkan sumber daya manusia yang handal dan berkualitas. (Hariani)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed