by

Kampung Cempluk Ajak 300 Pegiat Kampung Tematik se-Malang Terapkan Pancasila di Kampungnya

Wartaindonews, Malang – Telaga Budaya Kampung Cempluk sebuah kampung yang berada di Dusun Sumberjo, Desa Kalisongo Kecamatan Dau Kabupaten Malang mengadakan acara Pesamuhan Pembakti Kampung se Malang Raya. Acara dihadiri oleh Akademisi, budayawan perwakilan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Kampung se Malang Raya.

Kegiatan ini merupakan pertemuan seluruh elemen perwakilan kampung se Malang Raya agar senantiasa meniupkan roh Pancasila dan menghidupkan nilai-nilai Pancasila untuk diimplementasikan pada kampung. Pasalnya kampung merupakan tingkatan kelompok masyarakat terkecil dalam suatu negara.

Sebelum acara inti dimulai, para undangan dihibur tarian tradisional yang dibawakan oleh penari Kampung Budaya Polowijen. Tarian Putri Jawi yang dibawakan membawa pesan tradisi dan budaya sebagai entitas kepribadian bangsa. Tidak hanya itu lagu yang dibawakan oleh Krucil yakni kru cilik anak-anak dari Kampung Cempluk juga mampu menghipnotis para undangan.

“Krucil ini merupakan binaan dari Kampung Cempluk yang bertujuan agar anak-anak yang notabene adalah generasi penerus bangsa dapat mencintai kebudayaan daerah, yang merupakan salah satu pengamalan Pancasila. Selain itu, kreasi lagu yang dimainkan dengan menggunakan bambu merupakan wujud pemanfaatan dari lingkungan serta dapat mengurangi ketergantungan penggunaan gadget”, ujar pembawa acara.

Tak kalah menariknya, penampilan ibu-ibu dari sanggar Kirana yang juga besutan dari Kampung Cempluk mampu membuat para undangan berdecak kagum. Musik angklung yang dimainkan dan merupakan hasil karya tangan dari warga sekitar menambah nilai tersendiri. Tidak mengherankan jika kelompok paduan suara Ibu-Ibu rumah tangga ini sudah sering tampil di berbagai acara.

Sebelum memasuki acara pokok, para undangan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Satu lagu wajib yang menyatakan rasa Cinta kepada Tanah Air.

Di era tahun 1980 an, Kampung Cempluk merupakan daerah yang terisolir, belum mengenal listrik sehingga penerangan hanya menggunakan sumbu dengan bahan bakar minyak tanah. Orang Jawa biasa menyebutnya dengan istilah cempluk. Baru pada tahun 1992, desa Kalisongo teraliri listrik.

Siapa sangka, desa yang berbatasan dengan Kota Malang saat ini begitu mashur dengan segala seni, budaya dan sumber daya manusianya yang mampu mengelolah kampung menjadi suatu destinasi wisata dan beberapa kali mengadakan festival Kampung Cempluk sebagai salah satu atraksi wisata.

“Terimakasih atas kehadiran para undangan dalam acara Persamuhan Pembakti Kampung se Malang Raya. Melalui kegiatan ini, kita berusaha untuk menggeliatkan Pancasila ada di kampungku, kampungmu, kampung kita. Melalui nilai-nilai Pancasila marilah kita kembangkan one village, one destination, one product. Itu artinya kita harus dapat menggali potensi yang ada di kampung kita atau daerah kita untuk mampu menjadi satu daya tarik wisata dan dapat menghasilkan produk unggulan”, ujar Kepala Desa Kalisongo, Sunyoto saat memberikan sambutan. Sabtu (23/11/2019).

Asas kegotong-royongan yang tinggi dengan nilai-nilai budaya mampu mengantarkan Kampung Cempluk dikenal hingga tingkat nasianal. Tentu saja penuh kerja keras, inovasi dan mampu menggali potensi.

“Teknologi semakin berkembang di era globalisasi ini. Persaingan juga semakin tinggi. Kita harus mampu menggali potensi diri melalui peningkatan sumber daya manusia. Kampung Cempluk sumber daya alamnya terbatas, namun kami memiliki sumber daya manusia yang dapat mengelola dan mengembangkan sumber daya alam. Misalkan memanfaatkan bambu yang banyak tumbuh kemudian kita jadikan alat musik yang dapat mendorong kearifan lokal”, ungkap Seketaris Camat Dau, Lutfi.

Hadir juga guru besar Universitas Negeri Malang yang juga menjabat sebagai (Plt) Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Beliau menegaskan agar nilai-nilai Pancasila terpatri dalam jiwa masing-masing individu, sehingga dapat menjadi pilar dalam memajukan kebudayaan daerah.

“Kebudayaan bukan hanya seni, kebudayaan diadopsi dari bahasa Yunani yang berarti menanam. Itulah kita mengenal istilah Culture Stelsel yang maknanya adalah menanam. Berbicara kebudayaan tidak hanya menanam, namun sesuatu yang tumbuh apa adanya kita kembangkan agar dapat menghasilkan sebuah inovasi”, ungkap beliau.

Pria asal Malang ini selalu menerapkan salam Pancasila yang merupakan salam BPIP. Dengan 5 (lima) jari diatas bahu artinya kita selalu ingat dan dapat menerapkan 5 (lima) sila dalam Pancasila.

“Pancasila tidak hanya toleransi, karena toleransi harus diikuti dengan kreasi dan kreasi akan menghasilkan inovasi.
Toleransi dan persatuan berawal dari kampung, dari kampung menjadi antar kampung dan begitulah seterusnya. Sehingga persatuan dari Sabang sampai Marauke, dari Nias sampai Rote dapat terwujud”, bebernya.

Pancasila sebagai pilar bangsa dan merupakan sendi bangsa yang harus kita junjung tinggi dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dimulai dari diri sendiri, keluarga dan merambah ke kampung kemudian antar kampung hingga negeri. Mari kita kembangkan kampung kita dengan segala potensi dan tentunya dibarengi dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Pancasila ada dikampungku, kampungmu dan kampung kita. (Hariani)

Comment

Leave a Reply

News Feed