by

INDONESIA MENGGAMBAR MENGGAMBAR INDONESIA PERADABAN AGUNG GUNUNG SAMUDERA RAYA

-Artikel-85 views

MEMBACA BALI MEMBACA INDONESIA, GAMBARAN BALI GAMBARAN INDONESIA, karena Kita masih dalam Bulan Mei 2022, Bulan Indonesia Raya Menggambar. Semenjak 2014 Kita sudah bertemu Penulis Buku BALI SPIRIT Maestro Sastrawan Penuh Sarat Makna serta Nilai Ungkap Bahasa dan Bahasan yaitu ” I WAYAN WESTA ” baru 2022, Kita pada waktuNya hingga pada akhirNya sudah bisa menemukan Untaian Benang Benang Cahaya 12 Double Heliks: BENANG MERAH JARINGAN Kesadaran Jiwa dan Kesadaran Spiritual Beliau adaNya.

Itulah : MOMENTUM PERTAMA Gambaran Bali adalah Gambaran Indonesia, sebab Bali adalah Bagian Integral Indonesia dan Bagian Integral Alam Semesta Raya.

Dari I Wayan Westa Kita belajar dan mengenal kedalaman Gunung dan Samudera Raya SASTRA, SABDASASTRA alias AKSARA, YA KATA AKSARA BALI ~ BALI KUNO adaNya.

MOMENTUM KEDUA : Membaca Granoka adalah sesungguhnya Kita Membaca Indonesia.

Semenjak Kita bisa bertemu dan berbincang bincang langsung dengan Aji Ida Oka GRANOKA GONG di Padepokan Maha Bajra Sandhi Jln Kebo Iwa Denpasar Bali, di tempat kediaman Beliau dan diperkenankan Tuhan untuk bisa turut serta dalam menelesuri PUNCAK PUNCAK KESADARAN PRANA JIWA dan KEAGUNGAN SPIRIT Nya pada penemuan serta pengalaman Beliau dalam :

2 Buku Catatan Perjalanan Sejarah Maha Karya Beliau, yaitu semua yang ada di dalam Sejarah Peristiwa Kisah Kejadian MAHA BAJRA SANDHI yang berhasil Beliau saripatikan dalam Buku Memori Bajra Sandhi PERBURUAN KE PRANA JIWA, Perburuan Seorang Ida Wayan Granoka 1998 serta Buku Ke 2 yaitu REINKARNASI BUDAYA sebuah Manifestasi dan Dorongan Kuat untuk Bereinkarnasi Di Dalam Tubuh Kebudayaan yang Berbhinneka Tunggal Ika (2007), terutama perihal PROSES PENCIPTAAN DEMI PENCIPTAAN, Barong SANDHI REKA, Pembabar AKSARA MAHKOTA. yaitu AKSARA Kelangsungan Proses Cipta, juga proses AKSARA MERANCANG MASA DEPAN (SURGAWI) sampai pada AKSARA MERANCANG MASA DEPAN INDONESIA MENUJU SEMPURNA , dalam Prarai Parum Param Mimbar Dialog Epistemik Kebudayaan, 16 Maret 2016, pukul 18.00 ~ selesai, bertempat di Gedung Natya Mandala ISI Denpasar.

Dari Granoka Maha Bajra Sandhi Kita mendapat Esensi Gunung dan Samudera Raya AKSARA MAHKOTA MANDHITA untuk Rancangan Massa Depan Menuju Sempurna bagi Indonesia Raya dan Nusantara Lahir Baru Abad 21 – 22.

MOMENTUM KETIGA : Pertemuan BALI JAWA dan Jawa Timur di Kediaman Prof IGP suryadarma di Yogyakarta beberapa kali, sejak 2014 berkat SIMPOSIUM BAMBOO TECHNOLOGY di Yogyakarta.

Untuk Gambaran Sinergitas Momentum Ketiga ini, KITA BISA BICARA Keanekaragaman Hayati di Bali, Khususnya TARO Gianyar dan Membuka Tabir Potensi Keanekaragaman Hayati Indonesia Raya tentunya bersama Pensiunan Dosen Guru Besar UNY Juruan Biologi tersebut, Khususnya Etnosains Etnoekologi dan Etnoantropologi.

Alam Kawasan Bangli & Tabanan Bali mendidik & melahirkan Seorang Profesor IGP Suryadarma, darinya Kita memperoleh Jalur Jalan Esensi Gunung dan Samudera Raya Etnosains JAWA BALI INDONESIA :

Bersamaan dengan 22 Mei 2022 Hari Bio Diversity Internasional Antar Bangsa, Beliau menulis perkara Keanekaragaman Hayati, yang merupakan Sumber Bidang Garap Kekayaan Riset dan Inovasi Kajian Penelitian di Gunung Samudera Raya dan Pulau Bali Khususnya serta Indonesia maksudnya dalam tujuan Penuhlisan & Penuhlesan ini.

Beliau menulis sebagai berikut :

Damai
Kawasan Taro
Desa Desa Mula Bali
Konservasi Keanekaragaman Hayati
Berbasis Adat Tradisi dan Pengembangan Ekonomi Kreatif

Kawasan Lembu Putih
Kawasan Desa Desa Mula, DESA PAMULAN, Desa di Bali, adalah Desa Bioregion, Desa Adalah Kehidupan
Masyarakat memperoleh sumber kehidupan dari kawasannya, sehingga menjaga Kawasan secara Sakral sebagai Penjaga Ibu Bhumi.

Sejarah Sapi Putih, terkait dengan Lembu Nandini dan Lembu tersebut yang disucikan

Lembu disakralkan terkait dengan proses kehidupan dan bukan sebatas dogma

Kehidupan Lembu sebagai penghasil susu, penghasil olahan gue (keju). Susu dan ghe adalah bagian ritual masyarakat India.

Lembu memiliki kedudukan khusus karena berbagai sebab secara kultural dan kajian kultur Yoga dan Ethnosains :

1. Lembu, bukan banteng, banteng adalah Sapi Bali umumnya. Lembu penghasil susu dan keju

2. Lembu Jantan sebagai tenaga kerja pertanian.

3. Kotoran Lembu yang sudah dikeringkan sebagai bahan bakar dalam Agnihotra.

4. Kotoran Lembu sebagai pelapis tembok selain karena lembut dan aroma kotoran sapi sebagai bahan obat, karena tipe pencernaan sapi beda dengan binatang lain.

5. Sapi memiliki elemen Pancabhuta mendekati manusia, kera, karena elemen
” Akhas” elemen pikir mulai aktif, sehingga ada ” emosi”.

6. Dalam Masyarakat agraris hubungan Lembu dan manusia sangat dekat secara emosional. Lembu sebagai ” khamaduk”, hewan yang dapat memenuhi kebutuhan manusia.

Lembu tergolong dalam sifat sifat ” satvik”, sifat utama, sifat mulia.

Bhumi analog dengan Lembu Nandhini, maka jagalah lembu ibarat menjaga ibu bhumi (Prinsip konservasi)

Hubungan emosional Lembu dan Pemilik sangat dekat, sehingga bila si pemilik sakit maka lembu dapat merasakan.

Binatang piaraan apapun memiliki hubungan emosional. Pemilik kucing, anjing, pemilik burung, mereka nampak lebih mengutamakan binatang piaraannya dibanding dirinya

Perhatikan hubungan binatang dengan anak anak, karena mereka memiliki file yang terhubung ( connected) secara DNA

Lembu dapat meneteskan air mata, bila pemiliknya meninggal atau mengalami sesuatu ( firasat).

Secara Cultural Yoga (Sadguru) hubungan tersebut terkait dengan rekaman memori dalam DNA dan sifat Akhas

Menggali model model Konservasi keanekaragaman hayati berbasis Adat, Keramat Alami dan kultural dalam menumbuhkan Ekonomi Kreatif

Terdapat berbagai Kawasan keramat pada berbagai suku, etnik Nusantara sesuai keunikan wilayah bioregionnya

Kawasan Taro, Gianyar
23052022
Igp suryadarma
Ethnoecolog & Etnosains
UNHI Denpasar.

MOMENTUM KEEMPAT : Perpaduan BALI ~ JAWA TENGAH dan JAWA TIMUR.

RECHARGING untuk SAMUDERA dan GUNUNG ada sub judul yang ada :

Di Dalam Buku BALI SPIRIT, I Wayan Westa menulis : Syahdan pada tahun 912 Masehi, Raja Bali,,Sri Ugrasena Warmadewa, sebagaimana dikabarkan dalam PRASASTI BATUR SAKTI memerintahkan kepada penerusnya untuk tidak melupakan UPACARA PAKELEM, baik yang dilakukan di danau, laut, dan kawah gunung berapi. Tak canggung canggung upacara ini diniatkan untuk “menjaga” tanah BALI senantiasa dianugerahi kerahayuan, kenteraman, dijauhkan dari penyakit dan marabahaya.

Jika benar kabar ini, sudah sebelas abad lebih kejadian itu berlangsung
~ rentang waktu yang begitu lampau dan panjang.

JAWABAN RESPON dari Jawa Tengah :

Untuk menjawab dan merespon pertanyaan dan pernyataan I Wayan Westa tersebut, Mbah Tresno Temon Kulon Progo, sekarang Beliau sedang menjabat sebagai DPP Damar Kedhaton Nusantara Kulon Progo, Beliau sudah dan masih ajeg melakukan UPACARA PAKELEM dari GUNUNG, DANAU, SUNGAI, GUNUNG BERAPI, PANTAI, yang sudah Beliau lakukan, sepanjang 30 tahun lamanya, bahkan terakhir pada Sumber Sumber Mata Air se Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta Jawa Tengah dan di Pantai Glagah Temon Kulon Progo berupa Ritual Spiritual Larung Labuh Laut untuk SAMUDERA dan LAUTAN bagi seluruh TANAH AIR SE NUSANTARA adaNya.

JAWABAN dari JAWA TIMUR :

Seorang Ki Reksa Aksara, Ki Hendrik, dari Kota Malang Jawa Timur, sudah mampu menjelaskan perkara GIRI dan Gunung itu sebagai berikut :

Sering kita dengar didalam sejarah Raja Raja Nusāntara dengan Nama GIRĪNDRA dan SAILÈNDRA apakah makna dari kata kata itu..

Di Era Medang Nama Dengan sebutan
SAILENDRA dan Era Singhāsari serta Majhapahit adalah GIRĪNDRA
SAILENDRA terdiri dua kata yaitu SAILA (GUNUNG) dan INDRA (RAJA)

Baḣasa kuno Era MEDANG. GIRĪNDRA terdiri dari dua kata juga yaitu : GIRI (GUNUNG) dan INDRA (RAJA) bahasa kuno Era SINGHASĀRI dan MAJHAPAHIT.

Kata kata itu mengalami hukum SANDHI (PANGGARBHA) tata tulis Jawa Kuno.
Mengapa dinamakan RAJA GUNUNG, Karena Nusāntara terdiri dari berbagai pulau pulau dan setiap kepulauan mempunyai kekayaan dari Hutan Belantara dan Gunung Gemunungnya.

MOMENTUM KELIMA : JUSTRU HASIL BIDIKAN Kawannya, Candidasa Bali Photografi Nengah Redana, yang jadi gambar utama tulisan Kita ini, yaitu foto gambar by Steve Maraboli.

Lokasi Gambar Dan Foto tersebut adalah :

Mahagiri Panoramic Resort & Restaurant

Alamat: Jalan Surya Indah, Desa Rendang, Karangasem, Kabupaten Karangasem, Bali 80863

Jam buka: 09.00-20.00 WIB

GUNUNG AGUNG dan Pantai CANDIDASE Karangasem Bali telah mendidik dan melahirkan Seorang Nengah Redana, Humoris & Owner GUBUK KITA, seorang Photografi Super Keren telah banyak sekali, Panorama BALI yang sudah diabadikan, yang sudah Kita kenal debut dan sepak terjangnya, sejak pertemuan pertama Kita di darat 2018, semoga Tuhan memberi restu dan berkat kemudahanNya untuk Kita bertemu darat menyambung MOMENTUM KELIMA ini.

Dari Nengah Redana, Kita bisa menyaksikan PANORAMA Gunung dan Lautan Samudera Raya SNORKELING Pantai Timur Bali, Pantai Candidasa Karangasem Bali.

MOMENTUM KEENAM adalah dengan Program Wisata Desa TARO GIANYAR BALI, Wisata MORINGA HOLIDAY oleh I Wayan Balok Suardana bersama Dokter Vegan Gastronomy nya Dokter Mahmud Diah dari TARO GIANYAR Bali.

Esensi Awal Mula Budaya Peradaban Bali yaitu PURA AGUNG GUNUNG RAUNG PATAS GIANYAR dan PAMULAN BALI TARO GIANYAR sangat dekat dengan MORINGA HOLIDAY TARO PATAS GIANYAR BALI.

MOMENTUM KETUJUH adalah GUNUNG AGUNG, BlackLava Gunung Batur, Bukit Kintamani, Pantai Timur Bali dan ARUM JERAM BINTANG TELAGA WAJA telah berhasil mendidik dan melahirkan Seorang Kadek Dongker, Owner WARUNG DAPUR PERADABAN BALI, MANUM@DI yang sudah berhasil melakukan upaya All for One One for All dengan bersinergitas dan berkolaborasi antara Bali, JAWA TIMUR & BANYUMAS Jawa Tengah, Indonesia.

Kadek Dongker membawa Kita pada Esensi GUNUNG dan SAMUDERA RAYA ya yaitu Proses MANUM@DI berupa Proses Reinkarnasi Manusia, termasuk Reinkarnasi Budaya Peradaban Nusantara Lahir Baru di Abad 21-22 ini.

Demikianlah Bahasa dan Bahasan yang PENUHLISAN & PENUHLESAN Perihal PERADABAN AGUNG GUNUNG dan SAMUDERA RAYA INDONESIA & NUSANTARA Lahir Baru Abad 21-22 ini

Penulis & Aplikator : Guntur Bisowarno