by

Hikmah Lautan Pengetahuan & Samudera IlmuNya dalam Laku Kehendak Alam Jonggring Saloka Erupsi G. Semeru

-Artikel-71 views

Sejak Kita menemukan Kesadaran Kaweruh bersama Mbah Tresno dari Temon Kulon Progo Yogyakarta, bahwa perwujudan ilmu pengetahuan ilmuNya atas kesamaan nama Kawah Puncak G. Semeru, Pantai Laut Selatan hingga kawasan tengah tengah Samudera Hindia Selatan sebagai bagian terpadu dari putaran arus atas bawah dari arus aliran air api tanah udara angin, yang saling terkait dengan esensi nama bentangan kawasan wilayah JONGGRING SALOKA seutuhNya;

sebagai bentuk nyata proses harmonisasi alam dari dasar tengah alam lautan samudera raya yang menyediakan bahan baku berupa tekanan udara, air laut, pasir hitam, terpadu dengan daya gravitasi pusaran magma bumi, untuk digunakan G. Semeru sebagai bahan baku utama;

untuk meletuskan daya gerak manifestasi erupsi lava lahar panas dinginnya 04-06/12/2021 : sehingga gerak energi gelombang perputaran angin, tanah, air, udara, api; digunakan dalam upaya bumi menyelaraskan hidup kehidupannya, sudah bisa Kita jelaskan dan nalarkan;

Dari putaran kesadaran kaweruh dan kaweruh kesadaran hulu hilir perkara tersebut, gerak alam bumi semesta sedang aktif menyelaraskan dirinya;

salah satunya adalah dalam beragam bentuk seperti erupsi G. Semeru, banjir bandang bumiaji batu malang raya, naeknya garis pantai, ROB dimana mana, badai angin, gunung meletus.

Kita sudah saatnya mendalami perkara ini selanjutnya.

Fenomena Jaman Dalam Kesadaran 100 tahun terakhir

Budaya pendatang yang terbiasa dari kesadaran praktek budaya peradaban daerah mereka, yang biasa merusak udara dengan pembakaran hutan, industri gak ramah lingkungan, hujan asam asap corong industri besar besar, ketamakan pada harta, terjadi pembalakan hutan beserta isi dalamnya, mereka suka pada keindahan tapi gak suka memelihara dan melestarikan, lalai untuk membibit merawat dan melestarikan kesinambungannya.

Komunikasi dengan Mbah Nangsir, Pelestari Alam Lintas Budaya Lintas Agama dan Lintas Peradaban dari Kali Bawang Kulon Progo Yogyakarta;

membuat Kita semakin memahami kedalaman dan pendalaman laku lestari bumi langit oleh nenek moyang bangsa Negara Republik Indonesia, yang sungguh luar biasa mendalamnya;

dalam relasi melestarikan gerak fungsi alam besar dan alam kecil, makro kosmos mikro kosmos khususnya di belahan bumi tengah, bentangan kawasan wilayah bumi katulistiwa, yang diapit dua samudera segara lautan; yang melayani belahan bumi selatan hingga Kutub Selatan dan belahan bumi utara hingga Kutub Utara adaNya.

Kewajaran Budaya Asing dari Luar Negeri TIDAK PAHAM Laku Budaya Lestari & Harmoni di Negeri Khatulistiwa ini

Kutub Selatan Kutub Utara dan sub tropis serta tropis di seluruh bumi bergerak dengan dinamis serta terus menerus menghampiri bumi belahan tengah, mereka yang di Eropa mencari pala kehangatan dari Eropa, negeri belahan barat ke tengah bumi Indonesia, Eropa dengan budaya datang ke Indonesia, juga India, negeri Timur Tengah dan China serta seluruh manusia dari belahan manapun datang ke Nusantara Indonesia, untuk mencari inti rasa matahari dan bulan dalam wujud kehangatan rasa berupa pala dan rempah rempahNya.

Keunggulan Samudera Ilmu dan Segoro Pengetahuan Nenek Moyang Bangsa Indonesia di Bumi Nusantara Ini

Perputaraan energi gerak hidup kehidupan dari samudera segoro ke belahan daratan gunung gemunung khususnya di jalur dua (2) lintasan besar bersambung sambung pegunungan perapi di Katulistiwa yang di sebut dua (2) jalur Ring Of Fire di Indonesia ini;

yang melewati wilayah kawasan kepulauan Indonesia, ternyata sudah merupakan kurikulum seni budaya spiritual yang lengkap dan tersedia semuanya olehNya, untuk tahu paham ngerti gerak harmonisasi bumi beserta segala isi kandungannya dalam sistem mekanisme ketetapannya Tuhan Sang Pemelihara semua ciptaanNya:

terkait upaya laku tindakan lestari kelestarian gerak daya energi hidup kehidupan bersama pergerakan anasir langit dan bumi, serta hubungannya dengan kesadaran badan fisik, kesadaran jiwa hingga kesadaran spiritual di dalam jagad kecilnya dan jagad besarnya sudah sedemikian runtun, terpadu, harmonis sampai lestari melestarikan terlestarikan selama ini adaNya.

Tinggal Kita MENYADARI SEUTUHNYA apa tidak.

Laku Praktek Seni Spiritual Budaya Kaweruh Manusia Jawa Kuno

Laku lampah praktek lestari harmonis selaras dengan alam dalam membahagiakan manusia dan melayani segenap kebutuhan bangsa manusia di setiap episode hidup kehidupannya ( baca : untuk laku seni budaya spiritual jawa kuno disebut 11 fase hidup kehidupan manusia ditembangkan dalam 11 macam tempat macapat).

Belajar menghayati tembang Macapat, Kita bisa membaca tahu paham ngerti belajar perihal sinau kaweruh kesadaran peran serta api, air, udara, bumi langit, tanah dan kayu ciptaanNya dalam cakupan jagad semesta kecil dan jagad semesta besar Kira di bumi ini, di raga badan jiwa ruh Kita ini.

Produk Kesadaran Spiritual adalah Kecerdasan Spiritual

Yaitu dengan sering introspeksi diri pada kehendak rasa di relung hati, kolbu, kenapa Kita bisa berani untuk memusuhi air tanah udara angin, menghujat meracuni daya esensi kehidupan Kita dengan mengobati ikan merusak hayu air bayu, merusak vegetasi pohon, membuang limbah ke lautan sumber ikan.

Dengan Teknologi Meditasi Kesadaran Spiritual pada ya hu, ya hidup yang menghidupi ucapan pikiran tindakan Kita, harus menyatu gerak satuhu pada ya hu ya hidup dengan 5 unsur, yang bisa terjadi pada rasa nafsu yang mutmainah;

nafsu yang sudah mencapai kesadaran spiritual, berkecerdasan spiritual dengan memasukkan rasa nafsu ke dalam rasa lembah samudera, sambil lembut mengelus dada mengenepkan nafsu di hati sanubari ke samudera spiritual rasa inti rasa kita secara baik benar betul, seperti Lakon Bimo ketemu Dewa Ruh Suci;

yang bisa memedar Sabda Bunyi di telenge samudera hati, telenge lembah raga di hati Kita yang terdalam, yang termurni tersucikanNya: bertemu dengan cahaya maha cahayaNya yang di sebut dalam kisah pewayangan Lakon Bimo Mencari Dewa Ruh Suci adaNya.

Berdoalah dengan berterima kasih ke langit bumi, air api angin tanah kayu dan perpaduan mereka serta mintalah maaf atas kelalaian dan kesalahan dimana Kita hampir tidak pernah berterima kasih dan bersyukur pada mereka, serta tidak ramah tidak peduli pada kelestarian manfaat kerja fungsi merek, terutama dengan merusak mereka, bukannya merawat memelihara peduli cinta kasih sayang pada mereka, terpadu dan terajut terdalami: tahu paham ngerti masing masing adaNya.

Dalam doa & arah doa Kita selanjutnya dan layak sepantasnya seterusnya ke anak cucu keturunan Kita semua: menjadi tradisi seni budaya spiritual yang luhur dan agung dariNya.

Penulis : Guntur Bisowarno

News Feed