by

HIDUP BERBEKAL BAHASA INGGRIS

-Artikel-229 views

Saya dibesarkan dalam keluarga besar dan miskin. Saya bersebelas saudara: tujuh laki-laki, empat perempuan. Dalam satu rumah ada empat belas orang: kami anak-anak sebelas orang, bapak, ibu dan seorang pembantu. Rumah pun bukan rumah sendiri melainkan rumah kontrakan dan itu pun kecil karena uangnya tidak cukup untuk kontrak rumah yang besar. Jadi kalau tidur, kami ‘untel-untelan’ alias berjubel. Makan kami super sederhana: nasi, sayur dan lauk satu macam. Bisa tempe, tahu atau krupuk bolong. Lauk seperti: daging, ayam dan ikan, kami tidak bisa menikmatinya karena di luar jangkauan. Sekolah pun harus jalan kaki karena tidak mempunyai alat transportasi sekali pun hanya sepeda yang sederhana, ditambah tanpa uang saku dan harus jalan kaki cukup jauh. Rumah kontrakan kami terletak di Kuncen, daerah Wirobrajan (Yogya barat bagian utara). Sementara sekolah saya di SMP Marsudi Luhur I, yang terletak di Bintaran (Yogya timur bagian selatan), persis di belakang Gereja Katolik Bintaran. Suasana hidup dan ekonomi seperti itu harus kami alami karena sumber keuangan atau mata pencaharian hanya diperoleh dari bapak. Bapak adalah pencari nafkah tunggal untuk seluruh kebutuhan keluarga: kontrak rumah, kebutuhan makan, biaya sekolah, kebutuhan sosial seperti jagong dan layat. Suasana ini sangat menyedihkan namun tidak bisa dihindari melainkan harus dihadapi.

Sewaktu SR, saya sekolah di SR Kanisius Wirobrajan I. Letak sekolah tidak terlalu jauh dari rumah kontrakan sehingga tidak terlalu bermasalah. Meskipun jalan kaki tanpa sepatu, tanpa uang saku, tidak masalah. Kebutuhan pokok paling-paling air pada saat haus (lebih-lebih setelah olahraga). Tetapi itu bisa dipenuhi dengan menenggak air sumur dan tidak apa-apa.

Sewaktu SMP, seperti sudah saya ceritakan di depan, saya sekolah di SMP Marsudi Luhur I yang letaknya jauh, harus jalan kaki, tanpa uang saku, tanpa sepatu. Inilah masa pendidikan saya yang paling berat. Saya harus berjuang keras untuk bisa menyelesaikan SMP tepat waktu, jangan sampai tinggal kelas. Saya memang tidak tinggal kelas alias ‘nunggak’ tetapi dasar sial karena untuk semua siswa yang waktu itu tahun 1965 di kelas tiga, ujiannya harus mundur karena pemberontakan G30S. Ok, itu fakta dan realita sejarah yang tidak bisa ditolak.

Nah selain berita ujian yang harus diundur, pada waktu SMP itu ada sesuatu yang sangat menggembirakan hati saya. Oleh kepala sekolah yang sekaligus adalah guru bahasa Inggris saya, saya dinyatakan sebagai murid terpandai dalam bidang studi bahasa Inggris di sekolah. Oleh guru bahasa Inggris saya, saya sering diajak masuk ke kelas-kelas lain. Saya jadi dikenal di sekolah. Peristiwa ini sangat menguntungkan saya. Kalau kebetulan ada PR bahasa Inggris, banyak teman saya sudah pada duduk berderet di sebelah barat Gereja Bintaran, minta tolong saya untuk mengajari mengerjakan PR-nya. Nanti sebagai imbalannya, saya diajak makan di kantin. Alangkah gembira anak yang tidak pernah bisa jajan seperti anak yang punya uang saku, saya bisa makan bermacam jajanan bahkan makan seperti: bakso, lotek, soto, dll. Dulu, kalau pulang sekolah mau nebeng teman saja ditolak meskipun teman saya itu lewat rumah kontrakan saya. Rasanya ‘nlongso’ bingit. Tetapi teman saya itu sekarang kalau pulang pasti mengajak saya nebeng karena PR bahasa Inggris nya sudah saya kerjakan. Sejak saya dikaruniai ‘talenta’ yang luar bisa ini, hidup saya menjadi lebih ringan. Paling tidak saya tidak kelaparan dan makan saya lebih enak dan bervariasi. Bapak saya tidak bisa memberikan yang saya butuhkan tetapi Tuhan memenuhinya lewat orang lain yaitu teman-teman. Terima kasih Tuhan. Saya tidak mempunyai sepeda tetapi sekolah tidak harus jalan kaki lagi. Terima kasih Tuhan.

Sewaktu SMA, saya menempuh pendidikan di SMA Kolese De Britto. Masa pendidikan di SMA Kolese De Britto merupakan periode pendidikan yang menyenangkan dan menggairahkan. Mengapa? Karena saya bisa menikmati pendidikan di sekolah yang berprestise. SMA Kolese De Britto adalah sekolah yang banyak diidam-idamkan oleh banyak remaja cowok dari seantero Nusantara. Mereka ingin menikmati model pendidikan bebas, bertanggung-jawab sekaligus disiplin. Para siswa De Britto, pada zaman saya pakaian sekolahnya ‘bebas’. Siswa boleh memakai kaos berlengan tanpa leher, celana pendek, sandal jepit. Namun meskipun tampilan luarnya terkesan seenaknya atau ‘tidak sopan’, dalam soal ketertiban presensi jangan ditanya. Apabila siswa pagi hari tidak masuk sekolah, sore hari pasti didatangi Romo Pamong, waktu itu Romo Koelman SJ. Saya melihat sendiri bagaimana kakak saya suatu hari bolos berlima dan memancing, sore harinya Romo datang. Romo ditemui oleh bapak, ibu dan kakak saya. Pada saat ditanya oleh Romo, tadi pagi mengapa tidak masuk sekolah dan dijawab memancing oleh kakak saya, Romo langsung memukul wajah kakak saya di depan orangtua. Saya mengintip dari kamar tidur saya. Saya kaget tetapi sekaligus heran karena Romo langsung memeluk kakak saya sambil berkata ‘Mulai hari ini tidak ada bolos lagi’.

Waktu belajar di De Britto, bahasa Inggris saya bertambah maju. Saya mulai berani mempraktikkan ‘conversation’ dengan turis asing , meskipun kadang-kadang masih pakai bahasa ‘tarzan’ bila mengalami kesulitan. Setiap ada waktu luang, saya selalu mencari ‘wisman’ di kawasan hotel dan losmen. Mulai dari hotel atau losmen kecil di Sosrowijayan, guest house di Prawirotaman, hotel Mutiara, hotel Garuda, hotel Ambarukmo, dll. Saya lebih bersemangat mengguide dengan dua alasan. Pertama, bahasa Inggris saya semakin lancar. Kedua, ada keuntungan secara ekonomi meskipun tidak besar dan teratur. Saya menjadi bersemangat karena pengalaman yang memicunya. Suatu hari, saya ‘ngetem’ di Ambarukmo Palace Hotel, ada tiga turis Australia, semua cewek. Saya menawarkan diri untuk menemani mereka berkunjung ke obyek-obyek wisata, termasuk toko-toko souvenir dan studio-studio baik lukis maupun tari. Suatu hari, mereka saya ajak ke studio ‘Bagong Kusudiharjo’. Itu studio lukis dan tari. Mereka akhirnya beli batik karya bapak Bagong Kusudiharjo. Setelah selesai, kami pulang lewat lorong kecil di depan studio. Sebelum kami belok ke jalan besar di Wirobrajan, ada orang meneriaki saya: ‘Dik… dik… balik sini!’. Saya pun balik. Setelah dekat, orang itu bilang: ‘Amplopnya kok tidak dibawa tuh gimana?’ Ternyata amplop itu tip alias persenan untuk saya, sejumlah sepuluh persen dari pembelian produk bapak Bagong Kusudiharjo. Ternyata orang yang memanggil saya itu adalah mas Djaduk Feriyanto (almarhum). Dia memberikan amplop kepada saya sambil berkata: ‘Turis-turis pada diajak ke sini ya dik!’. Sejak saat itu, saya kerap datang ke studio ‘Bagong Kusudiharjo’, baik membawa turis maupun tidak. Di sana saya bisa melihat puluhan turis berlatih menari atau melukis. Nanti di tengah hari, kita semua ramai-ramai makan siang seadanya. Nasi, sayur lodeh keluwih, tempe, gembus, tahu, gereh. Mereka juga menikmati menu Jawa. Suasananya ramai dan menyenangkan.

Sewaktu di perguruan tinggi, saya kuliah di IKIP Sanata Dharma, mengambil jurusan Ilmu Pendidikan Bahasa Inggris. Itupun saya hanya ambil Sarjana Muda. Pokoknya saya ingin yang bisa cepat bekerja dan mandiri. Saya tidak tega menyaksikan bapak sebagai pencari nafkah tunggal yang terengah-engah menghidupi empat belas jiwa. Saya ingin segera mempunyai penghasilan sendiri dan bisa membantu bapak dengan cara membiayai pendidikan salah satu adik saya. Saya memutuskan untuk membiayai pendidikan adik cewek saya yang waktu itu baru saja lulus SMP dan melanjutkan pendidikan ke SPG sampai selesai.

Sewaktu kuliah, saya selain kuliah juga tetap menjadi ‘guide amatiran’, bahkan lebih getol karena bahasa Inggris saya semakin lancar. Setiap ada waktu luang, saya gunakan untuk mencari turis. Bahkan saya mempunyai ide baru. Setiap malam minggu, saya bersama teman sekampus Sanata Dharma dengan memakai becak susteran CB Mrican, kami berempat menarik becak untuk mencari tambahan uang saku. Semula rencana kami mau menyewa tetapi atas kebaikan hati suster, kami dipinjami dengan catatan becak harus kembali ke susteran sebelum jam 06.00 pagi. Kami berempat pergi ke daerah Malioboro. Teman saya yang dari jurusan bahasa Indonesia membawa becaknya ke stasiun KA Tugu untuk mencari penumpang di sana. Sementara saya, mondar-mandir di sepanjang Malioboro mencari turis. Kami biasanya berkumpul kembali tengah malam di depan Gedung Agung. Hasil tarikan becak dan mengguide turis, kami kumpulkan untuk jajan atau beli makanan dan kalau ada sisa kami bagi bersama. Pernah suatu ketika semalaman kami di jalanan tidak pulang. Kami tidur di jalan Solo, tepatnya di sebelah timur gedung bioskop ‘Rahayu’. Geli juga rasanya tidur di emper toko. Pada saat suasana ramai, para bakul sedang kulakan sayur di pasar, mereka berkomentar dalam bahasa Jawa: ‘Wah, kerene kok rapi-rapi’… ‘Wah, pengemisnya kook rapi-rapi’… Lucu !!!… JJJ

Karena saya semakin percaya diri dan semangat sekali mencari turis, hampir sebagian besar waktu saya habiskan di luar rumah. Lebih-lebih pada momen-momen ramai seperti: malam tahun baru, dll. Saya biasanya tidak tidur di rumah. Saya menghabiskan malam tahun baru menemani turis di hotel-hotel. Pernah suatu kali saya menemani turis-turis Australia di Mutiara Hotel. Semalam suntuk santai, menceritakan tentang wayang kulit seperti: Werkudoro, Gatotkoco, dll. Saya pulang pagi hari.

Dengan getol menemani turis-turis itu, saya diuntungkan secara ekonomi dan bisa membuat gembira keluarga di rumah. Saya bisa membelikan makanan bahkan beberapa kali bisa membelikan pakaian. Inilah kisah saya. Saya yang berangkat dari keluarga miskin bisa bangkit dengan pertolongan melalui karunia ‘talenta’ bahasa Inggris untuk bisa menikmati hidup yang layak.

 

Penulis: Ph. Ispriyanto

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

1 comment

News Feed